Tangkap “Koruptor” Proyek Hybrid Angin dan Surya di Natuna
Natuna,(MR)
HINGGA selasa 16 mei 2011, perbaikan proyek Hyb-rid Angin dan Surya, belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Soalnya, proyek Energi (DME) berbasis Pembangkit Listrik Tenaga-Hybrid (PLT) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ramah lingkungan dari Pemerintah Pusat, yang dikerjakan oleh PT.Amonra daya Sentosa, dari awal sudah mengalami kerusakan. Pihak rekanan sudah berkali-kali diberitahu pihak pengelola, baik melalui hp maupun disurati, namun tidak ada etikad baik dari pihak rekanan untuk melakukan perbaikan.
PT.Amonra, di duga telah melakukan rekayasa, dan pemalsuan data, serta pembohongan public, terkait berita acara penyerahan kepada OMS.(Organisasi masyarakat Surya). Dalam dokumen itu dibunyikan bahwa Hybrid angin dan Surya, berjalan dengan baik, dan telah dinikmati oleh masyarakat Cemaga. Fakta yang terjadi, Hybrid angin tidak pernah berpungsi seperti yang tertuang diberita acara. Hal ini dilakukan untuk memungkinkan dilakukannya pencairan proyek 100 persen, atau sebaliknya, ada “kong-kalikong” antara pengguna anggaran dengan pihak rekanan.
Kades Cemaga Parizal, saat dijumpai diruang kerjanya di Desa Cemaga Selasa (16/05), mengatakan, perbaikan PLTS, sudah rampung, dan sudah hidup kembali. Namun penya-lurannya ke rumah masyarakat belum bisa dilakukan dikarenakan ada 25 rumah yang me-ngalami kerusakan (eror). Oleh karena itu mentenen PLTS ini masih melakukan penyettingan terhadap limitednya. Kecuali tenaga hybrid, belum dapat dipungsikan. Selain pekerjaannya berat, pekerja meminta tarip tinggi, makanya agak lambat, papar parizal sambil menunjukkan komponen PLTS yang sudah diganti.
Hasil pantauan dilapangan, selasa pukul 10-15 wib, tidak satupun pekerja dilokasi hybrid angin. Tampaknya tidak ada lagi kegiatan, sementara, baru 1 tiang tunggal saja yang terpasang untuk mengganti dudukan hybrid, Sebab dudukan pertama salah. Tiang berukuran kurang lebih kurang 6 meter itu, hanya ada 2 batang saja. Pertanyaannya, apakah tiang hybrid Surya tingginya hanya 12 meter ?. Dengan kondisi itu, apakah hybrid angin yang beratnya lebih dari setengah ton, mampu mendapatkan angin untuk memutar kipas?. Apapun alasannya, sudah jelas, sampai saat ini hybrid angin tidak dapat dipungsikan. Oleh karena itu sudah saatnya Kejagung atau KPK ambil alih persoalan ini. Sebab proyek hybrid angin dan Surya terindikasi jadi lahan “korupsi” yang dapat merugikan negara millyaran rupiah, Kabar burung diterima, ternyata dua tiang tersebut “bekas” pipa PDAM. namun perlu penelusuran kebenaran nya.
Proyek dengan nilai 4,2 millyar itu ditenggarai jadi lahan empuk, untuk mencari keuntungan. Di Kabupaten Natuna saja, proyek ini ada 3 titik, namun semuanya bernasib sama. Seperti yang terdapat di Pulau Senoa. Proyek millyaran rupiah ini, menjadi besi tua dan pajangan di pulau tidak berpenghuni itu. Pada hal proyek ini ditempatkan disana, guna membuktikan kepada Negara tetangga, bahwa pulau tersebut milik NKRI, sekaligus tempat persinggahan nelayan tempatan. Pengelola proyek ini tertulis PT Surya Energi Indotama.
Salah satu nelayan tempatan ditemui dilokasi itu, mengatakan, awalnya PLTS berpungsi dengan baik, tapi hybrid angin tidak, namun karena tidak ada yang merawat, hanya dinikmati sementara aja. Kalau dulu, kita sering singgah di Pulau ini, karena penerangan ada, paparnya.
Ketidak beresan pekerjaan hybrid angin, di Natuna, menandakan program ESDM Direktorat Listrik ditenggarai gagal total. selain itu proyek ini terindikasi, merugikan Nega-ra millyaran rupiah. Sebab menurut informasi, hampir diseluruh Indonesia proyek ini bermasalah. Oleh karena itu diminta kepada Kajagung dan KPK agar segera megambil alih kasus ini. Periksa siapa saja yang terlibat didalamnya, di tunggu nyali Kajgung dan KPK untuk memeriksa seluruh kegiatan proyek Hybrid angin dan Surya.Tangkap “koruptor” penggerogot uang rakyat, koruptor merupakan musuh Negara.
Edisi lalu, Tono dijumpai beberapa wartawan 2 pekan lalu saat menikmati es cendol, di Desa Cemaga menyayangkan proyek millyaran sudah rusak sebelum waktunya. “Sudah hampir 2 bulan pembangkit tenaga surya tidak berpungsi. Kata pegawas lapangan ada yang rusak, Cuma kita tidak tau kapan diperbaiki tidak jelas sampai hari ini. Pemuda tempatan itu juga menyayangkan Desa cemaga terang benderang, kini sudah berubah menjadi cemaga gelap gulita.
Kemarin sudah kita tanyakan kepada pengelola, katanya ada alat rusak di tenaga Surya dan alat harus di datangkan dari jakarta, kalau Hybrid Angin (kincir angin) sejak dipasang tidak berpungsi. Sebelumnya pernah diuji coba, tapi karena tiang penyanggah berkelok-kelok, serta kecil, saat uji coba langsung patah, Sekarang hanya ditempel saja sebagai pajangan. Kalau tak percaya boleh di cek, hanya di temple aja, pakai tali biar jangan berputar. Tiangnya saja seperti ular tidak lurus, ulangnya lagi. Sementara pihak rekanan sudah pernah ditanya, katanya tiang dudukan bukan Dia punya (tertukar), janjinya sih mau diganti, tapi sampai sekarang belum ditukar.
Hal senada dikatakan Tukinem, nama samaran, istri dari pengelola Hybrid ini, ketika dijumpai mengakui listrik sudah dua bulan tidak berpungsi. Sementara, suaminya, Saman Hudi, sudah berkali-kali menanyakan kepada pihak rekanan kapan akan dilakukan perbaikan, nampaknya pihak rekanan tidak ada respon, selain sulit di hubungi, pihak rekanan, PT Amora daya Semesta , suka gonta ganti nomor, pokoknya sangat sulit di hubungi, .Sementara itu dirinya juga mengatakan kalau pembangunan DME berbasis P LT Hybrid angin dan Surya, kata bapak nilai proyek sekitar Rp.4,2 millyar. Bapak juga sudah capek, selain diuber-uber masyarakat, pihak rekanan tidak ada respon.
Diakui sebelumnya PLTS berjalan dengan baik, namun hybrid angin hanya setengah jam dapat berpungsi. Kemudian, dikarenakan dudukan kipas bukan untuk dia, maka kipas roboh kipas terlepas dari tiang, seluruh rumah menjadi padam. Kata pengelola sih ada alat yang rusak dan harus dipesan dari Jakarta,” ujarnya.
Suaminya Saman Hudi dipercaya dari pihak PT.Amonra Daya Sentosa untuk mengurus segala sesuatunya, melalui istrinya, tidak mau disebut, orang yang harus bertanggung jawab, sebab suaminya hanyalah pengurus sekaligus orang yang di percaya memantau segala tagihan tiap bulannya. Kalau masalah seperti tehnik pengoprasian, anggaran dan lain sebagainya bapak tidak tahu menahu, karena yang mengetahui hanya pihak dari PT Amonra Daya Sentosa. Memang salah satu anak buah dari PT itu jarang datang, tetapi pernah kerumah hanya menanyakan bagaimana perkembangannya saja,” kata istri dari Saman Hudi.
Ia juga menjelaskan, memang pada awal pemasangan hingga pengoprasiannya listrik tersebut, berjalan baik tanpa ada kendala, sehingga begitu memasuki musim utara diikuti dengan angin kencang, maka kipas diatas tiang lepas dari penyanggahnya.
Permasalahan ini juga sudah, bapak laporkan pada Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Natuna dan langsung diteruskan kepada pihak PT ADS untuk segera diperbaiki, setelah datang dan memperbaiki alat tersebut, katanya ada alat yang terbakar dan harus dipesan dijakarta,” kata istri Saman menirukan kata anak buah dari PT ADS.
Sementara, Kabid Listrik dan Pemanfaatan Energi Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Natuna Candra Putra, saat dikonfirmasi tentang padamnya listrik warga di cemaga selama dua bulan lebih, mengatakan, dirinya baru mengetahui bahwa PLT-Hybrid dan PLTS yang ada di cemaga belum juga diperbaiki.
“Saya sudah pernah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak PT ADS untuk segera diperbaiki, dikira sudah diperbaiki, karena selama ini saya tidak ada kabar dan keluhan lagi dari pihak pengelola.” Katanya.
Lanjutnya, selama ini pihak Distamben hanya sekedar mengetahui saja, tentang bantuan yang diberikan Departemen ESDM dan Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan PT Amonra Daya Sentosa.
Dengan adanya informasi ini, pihaknya sangat berterimakasih dan akan melaporkan kembali kejadian ini, dengan pihak PT ADS agar segera diperbaiki sehingga para warga tidak lagi kesusahan dengan masalah listrik janjinya.
Hasil investigasi dilapangan, proyek Hybrid angin dan Surya dipastikan tidak terawatt lagi. Lokasi pembangkit sudah banyak ditumbuhi rumput. Selain itu,tiang penyanggah Hybrid Angin, bengkok,seperti ular, sementara Kipas Angin (hybrid), hanya diikatkan kepada tiang agar tidak bergerak. Boleh dikatakan hanya sebagai pajangan, atau untuk menutupi kekurangan.
Data yang ada pada wartawan Koran ini mengatakan, Pembangunan Proyek Hybrid dan tenaga Surya Di Desa Cemaga Kabupaten Natuna dipastikan “bermasalah.” Dari Kontrak kerja, Proyek ini dinilai terlambat. Soalnya proyek Menteri ESDM dan Direktorat listrik ini dimulai tahun 2010, dan baru dapat dipungsikan Awal tahun 2011. Sesuai dengan Surat Perintah Kerja (SPK) Kontrak no 16/P2K/Pisik/DME/V.! 2010, pejabat pembuat komitmen Ripura Sewana Sigit kegiatan pisik Direktorat Jenderal dan pemampaatan Energi Listrik dan diangkut berdasarkan Keputusan direktur Jenderal Listrik, Alamat jln Hr Rasuna Said Blok x-2 Kav 7-8 kuningan Jakarta 12950. Diva Direktorat jenderal listrik pemanfaatan no 0006/020-051/-2010. Ternyata barang milik Negara ini, sudah rusak sebelum waktunya. Pertanyaannya sudah wajarkah proyek bau kencur rusak ? dan bagaimana dengan speknya, apakah pihak rekanan harus dibiarkan berleha-leha diatas penderitaan 50 kepala keluarga warga Cemaga ? Diminta KPK segera turun tangan.
Tempat terpisah, Ketua LSM Gebuki (Gerakan Berantas Korupsi) Tanjung Pinang Kuncus Simatupang, meminta agar Direktorat jenderal listrik segera melakukan perbaikan terhadap proyek ini. Ia mengatakan Pihak rekanan harus bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan Hybrid Angin dan Surya di Desa Cenaga Kabupaten Natuna.
Menurutnya, selain pembangkit ini sudah rusak sebelum masa waktunya, ada alat penunjang untuk pembangkit listrik, tidak berpungsi sejak dipasang. Jika hal ini tidak digubris, kita tidak akan segan-segan, membuat laporan baik kepada pihak penyidik tingkat bawah sampai atas, Cetusnya. Dengan kondisi ini Ia meminta aparat penegak hokum agar dapat memproses pihak rekanan. Dari alat yang tak berpungsi, sudah dapat diindikasikan adanya korupsi dalam proyek ini. Bisa saja alat penunjang kegiatan dibeli lebih murah atau tidak sesuai spek. Tegasnya.
Sementara itu pidato Menteri ESDM,Zahadi Saleh dilangsir pada saat pemaparan 2010 lalu tentang keberhasilan program Hybrid Angin dan Surya ini, telah mencapai target baik “ Merupakan pembohongan public,” Buktinya proyek senilai 5 millyar untuk Kabupaten Natuna baru 7 bulan beroperasi sudah rusak, bahkan ada alat , tidak berpungsi sama sekali. Pantaskah itu dinamakan sukses?. Kalau ingin kesempurnaan tolong cek kinerja anak buah dan bila perlu turun kelapangan, itu baru data rill. >> Roy
