Pemerintah Dan Masyarakat Kotamobagu Satu Suara “Stop Kekerasan” Pada Ibu Dan Anak

Kotamobagu, (MR)
Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan perlu peranan laki-laki, baik dalam kerangka pencegahan maupun pemulihan kondisi korban. Hal itu penting meski pelaku kekerasan masih didominasi kaum pria, terutama kerabat dekat korban.

Nasrun Gilalom Assisten 1 Kota Kotamobagu mengatakan Pada kesempatan ini pada Senin (19/16) di Rutan Kotamobagu, Pemkot kotamobagu datang ke Rutan Kotamobagu untuk memperingati hari ibu ke-88 pada tanggal 22 Desember 2016. Untuk itu kita bisa saling dekat dan membagi perasaan terhadap para tahanan khususnya perempuan yang ada di rutan ini. Ia pun menjelaskan bahwa pemerintah kotamobagu tidak menutup mata atas kekerasan yang menimpa ibu dan anak, kata Gilalom.

Muda Husni Kepala Rutan Kotamobagu mengatakan, persoalan kekerasan terhadap perempuan bisa dicegah. Salah satu peranan yang bisa dilakukan laki-laki adalah melindungi perempuan dalam proses hukum. Laki-laki, kata dia, bisa menjadi pelindung saat korban melaporkan tindakan pelecehan yang dialaminya kepada polisi.

Rata-rata masyarakat kita masih takut dan menganggap ini (pelecehan) sebagai aib. Padahal, ini bisa dilaporkan dan dibawa ke ranah hukum. Laki-laki bisa ambil peran di sana pencegahan dan pemulihan korban kekerasan seksual oleh laki-laki tergolong lemah, kata Husni.

Dasplin Kepala Kejaksaan Tinggi Kotamobagu menyatakan, rata-rata dukungan yang diberikan keluarga dan masyarakat sekitar masih kurang memiliki perspektif gender yang baik. Masyarakat masih banyak yang menganggap penanganan dan aksi pencegahan kekerasan seksual merupakan tanggung jawab perempuan saja.

“Sudah saatnya kita bergandengan tangan, bahu membahu untuk melakukan perlindungan, pencegahan dan pemulihan terhadap korban kekerasan perempuan Ini bukan tanggung jawab perempuan saja, laki-laki juga bertanggung jawab untuk melindungi para ibu, kakak, adik, istri dan anak perempuan mereka,”

Ia menegaskan, cara pandang laki-laki terhadap perempuan harus diubah. Laki-laki, kata dia, tidak boleh lagi memandang perempuan sebagai objek ataupun komoditas. “Laki-laki sudah seharusnya mengubah cara pandangnya terhadap perempuan. Kekerasan perempuan harus kita cegah sejak dalam pikiran,” terang dasplin. >>Neni/mp

Related posts