Kediri, (MR) – Keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang bagi Pemerintah Desa (Pemdes) Selosari, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, untuk terus memacu pembangunan infrastruktur. Melalui tata kelola anggaran yang cermat dan skala prioritas yang tepat, Pemdes Selosari sukses merealisasikan pembangunan Talud Penahan Jalan atau Tembok Penahan Tanah (TPT) yang berlokasi di Dusun Mangunan. Kamis, (05/11/26).
Proyek infrastruktur ini menjadi bukti nyata komitmen Pemdes dalam meningkatkan kualitas fasilitas umum, sekaligus menjaga ketahanan jalan desa dari ancaman erosi dan tanah longsor. Lahirnya bangunan talud ini disambut baik oleh warga setempat yang memang sudah lama mendambakan adanya penguat struktur jalan di area tersebut.
Kepala Desa Selosari Juprianto (Mbah Gondrong) mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pembangunan tingkat desa saat ini adalah menyelaraskan kebutuhan masyarakat yang tinggi dengan alokasi anggaran yang serba pas-pasan. Namun, dengan transparansi dan perencanaan yang matang, setiap rupiah dari anggaran negara dicoba untuk dikelola seefisien mungkin agar memberikan dampak yang masif.
Pembangunan TPT di Dusun Mangunan ini dibiayai penuh oleh Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026 dengan total biaya Rp50.000.000,-. Meski anggarannya sangat terbatas dan pas-pasan untuk ukuran pembangunan fisik, Pemdes Selosari bersyukur proyek ini dapat diselesaikan dengan kualitas yang sangat baik.
Secara teknis, bangunan fisik TPT ini dikerjakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) yang bertindak sebagai motor penggerak di lapangan. Talud ini memiliki spesifikasi volume panjang 50 meter, tinggi 0,75 meter, dan lebar 0,35 meter. Dimensi ini dinilai sangat ideal dan strategis untuk mengunci struktur tanah di sisi jalan, sehingga meminimalisir risiko amblasnya badan jalan akibat tergerus air hujan.
Menariknya, pembangunan ini mengusung sistem Padat Karya Tunai (PKT). Konsep ini sengaja dipilih untuk memberikan multiplier effect atau efek domino positif bagi perekonomian warga sekitar. Alih-alih menggunakan kontraktor dari luar daerah, seluruh pengerjaan fisik bangunan talud sepenuhnya melibatkan tenaga kerja lokal dari warga Dusun Mangunan dan sekitarnya.
Penerapan sistem padat karya ini terbukti ampuh. Di satu sisi, desa berhasil menghemat biaya operasional, dan di sisi lain, proyek ini mampu menyerap tenaga kerja lokal yang secara langsung menambah pendapatan harian warga penikmat program. Rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur desa pun menjadi lebih tinggi karena mereka ikut membangunnya dengan tangan sendiri.
Ketua TPK Desa Selosari menjelaskan bahwa pengawasan ketat dilakukan sejak peletakan batu pertama hingga finishing. “Kami dari TPK berkomitmen menjaga amanah anggaran DD 2026 ini. Walau biayanya minim, kualitas material batu, pasir, dan semen tetap kami utamakan agar talud ini berumur panjang dan kokoh menahan beban jalan,” tuturnya.
Kini, dengan selesainya pembangunan infrastruktur pembatas jalan di Dusun Mangunan, aksesibilitas transportasi warga menjadi lebih aman dan nyaman. Kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas tidak perlu lagi khawatir dengan kondisi bibir jalan yang rawan longsor. Keberhasilan Pemdes Selosari ini menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan dana bukanlah akhir dari sebuah inovasi, melainkan sebuah peluang untuk bergotong-royong demi kemajuan desa. (Ag).
