Keikutsertaan Siswa Smpn 4 Ternate Dalam Event Budaya Legu Gam Moloku Kie Raha

Ternate, (MR)
Event wisata dan Budaya Legu Gam Moloku Kie Raha yang berlangsung dari tanggal 1 April sampai 15 April 2017 di Kota Ternate diharapkan menjadi momentum penting bagi pembelajaran, pelestarian sekaligus promosi budaya dan wisata yang ada di Provinsi Maluku Utara. Hal tersebut diungkapkan Kepala SMPN 4 Ternate, Gunawan Abu Umar, S.Pd dalam sesi wawancaranya dengan MR. Menurut Gunawan, peserta didik khususnya di SMPN 4 Ternate telah turut ambil bagian dalam event tahunan ini semisal keikutsertaan siswa dalam pagelaran seni dan budaya Moloku Kie Raha.

“Yang terpenting dari event ini adalah nilai dan kearifan budaya lokal kita bisa mewujud dalam perilaku hidup dan keseharian. Oleh karena nilai dan kearifan budaya kita lebih mengedepankan dan mengajarkan sikap saling hormat menghormati, kebersamaan dalam keberagaman, cinta dan kasih sayang antar sesama juga keramah-tamahan.” Ungkap Gunawan.

Siswa diharapkan bisa mampu menerima dan mengaplikasikan pesan-pesan moral dan kultural yang terdapat dalam teks-teks lisan budaya Ternate sebagai warisan leluhur turun-temurun.

Selain dari keikutsertaan siswa SMPN 4 tersebut diatas, sebagai wujud tanggung jawab institusional pendidikan di bidang kebudayaan menurut Gunawan Abu Umar, S.Pd, SMPN 4 Ternate telah memiliki sanggar kegiatan siswa di bidang seni dan budaya. Dari kegiatan sanggar tersebut telah menghasilkan siswa-siswi yang memiliki bakat dan talenta dengan menuai sejumlah prestasi baik di tingkat lokal maupun nasional.

Tak heran memang lembaga pendidikan ini dikenal sebagai sekolah yang unggul dan berprestasi bukan hanya di bidang akademik tetapi juga non akademik.

Terpisah saat dimintai komentarnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ternate Drs. Hi. Ibrahim Muhammad, menjelaskan kaitannya dengan momentum Legu Gam sebagai ajang pelestarian dan pengembangan tradisi budaya lokal, dalam konteks perumusan program pendidikan di Kota Ternate akan mengacu pada filosofi

“Satu tungku tiga batu”. Artinya pendidikan akan senantiasa berhubungan dengan dengan tiga piranti penting yang disimboliskan dalam 3S yakni Soa, Sigi dan Sekolah.

Adanya korelasi hubungan timbal balik antara lembaga pendidikan (sekolah) dengan soa (lingkungan masyarakat dan keluarga) serta sekolah dengan sigi (tempat ibadah mesjid). Menurut Ibrahim sekolah harus bisa menopang fungsi rumah tangga, menopang fungsi lingkungan sosial, begitu juga sebaliknya dan mesjid (sigi) sebagai simbol nilai-nilai spritualitas harus juga mampu menopang fungsi sekolah, keluarga dan lingkunga sosial. >>Ateng

Related posts