Natuna, (MR)
Bersandar disebuah kursi, Yudi bersama rekan, terlihat santai. Dari jauh keduanya, terlihat akrab. Kepulan asap rokok, sesekali terlihat nyata. Bahkan dua cangkir kopi yang berada diatas meja, tinggal separoh lagi, itu pertanda mereka sudah lama menunggu seseorang. Setumpukan map berwarna merah, teronggok disamping meja. Meski terlihat santai, lelaki separuh baya itu, terlihat serius. “Terima kasih Pak atas kedatangannya” ucap Yudi kepada wartawan koran ini, sambil mempersilahkan duduk. Hari ini Kita ingin, meminta klarifikasi berita, terkait peningkatan pembangunan Daerah Irigasi di Desa Tapau. Biar tidak ada kecurigaan di tengah-tengah masyarakat,
Tidak ada yang perlu disalahkan, sebab pemberitaan sudah terlanjur dimuat. Semua itu terjadi karena ada miskomunikasi. Saya tidak menjawab sms dari Bapak, dikarenakan HP Saya jatuh kelaut, sehingga hilang kontak. Ditambah lagi, urusan di batam masih banyak. Karena itulah Kami agak lama pulang ke Natuna. Saya juga terkejut, ada kabar “miring” tentang berita proyek sedang Kami kerjakan, papar Yudi. Untuk itulah Kami memanggil Bapak, agar meluruskan dan melakukan klarifikasi terkait pemberitaan ini.
Sambil membuka map, Ia mengeluarkan secari kertas. Ini lo hasil lef kita bawa, ucap Yudi sambil menunjukkan kepada wartawan. Pasir gunung Natuna ini, merupakan pasir kwalitas nomor satu. Semacam pasir kwarsa. Punya alat rekat sangat kuat. Jika campuran semen diperbanyak, maka mutu dan kwalitasnya, bisa dikatakan jauh lebih bagus dari pasir sungai. Kita juga tidak ingin main-main soal pembangunan. Perlu bapak ketahui, selama tiga tahun berturut-turut, Kami telah melaksanakan peningkatan pembangunan proyek irigasi di Desa Tapau, dan selama itu pula, Kita memakai material yang sama. Jika mutu dan kwalitasnya rendah, atau tidak layak, kemungkinan besar, bangunan itu sudah banyak rusak atau roboh. Faktanya, hingga hari ini, semua pekerjaan yang kami laksanakan masih berdiri kokoh, tidak sedikitpun mengalami kerusakan.
Saya tahu, mungkin ada juga masyarakat disini tidak senang atas kehadiran kami, sehingga mereka berusaha menimbulkan gosip, yang tidak bermanfaat. Padahal tanpa mereka sadari, jika pemberitaan ini tidak segera diklarifikasi, imbasnya terhadap daerah juga. Pemerintah Pusat, tidak akan mau lagi mengalokasikan anggaran, jika masyarakatnya, tidak mensyukuri dan menjaga apa yang telah Pemerintah berita kepada daerah. Pengawasan itu memang perlu, tapi jika mau mengeluarkan statemen, tanya dulu, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, semua ini hanya kesalah pahaman.
Hal senada juga dikatakan Alex. Selaku orang yang dipercaya pihak PU, untuk melakukan pemeriksaan seluruh kegiatan, Dirinya sempat kesal, terhadap beberapa sumber di koran ini. Saya selalu ada disini. Kenapa tidak menanyakkan Kita dulu. Jika begini, penilaian atasan, seakan-akan Ia jarang ditempat. Padahal, bisa dikatakan hampir setiap hari ada disini. Jika ke Kota, paling sebentar saja, itupun untuk membeli keperluan sehari-hari. Parahnya lagi, kenapa konsultan tidak memberitahu Saya, ucap alex sedikit kesal. Seandainya konsultan menghubungi Kami, tentu pemberitaan tidak berat sebelah. Diakuinya, pihak konsultan pengawas, belum menerima hasil lef, karena Pak Yudinya, belum datang dari batam. Seperti dikatakan pihak rekanan tadi, tidak ada yang perlu disalahkan, semua terjadi karena miskomunikasi saja.
Sekarang hasil lef dah bapak lihat, bahwa material yang kami pakai sudah sesuai dengan standar, dan tidak diragukan lagi. Sebab pekerjaan ini sudah tiga tahun kami laksanakan. Mungkin inilah tahun terakhir, karena pembangunan Daerah Irigasi (DI) sudah selesai, ucap alex. Mudah-mudahan,tahun depan Natuna masih mendapatkan pembangunan irigasi didesa lain, sehingga tali silaturahmi tetap jalan. Sekali lagi terima kasih atas kesediaannya, karena sudah memberi ruang hak jawab bagi Kami. >>Roy
