Minim Personil, Bukan Hambatan Bagi Basarnas Melakukan Penyelamatan.

Natuna(MR) – Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna Mexianus Bekabel menyebutkan, jika personil SAR Natuna, masih banyak kekurangan .

Hal tersebut disampaikan Mexi saat melakukan copy morning bersama sejumlah instansi terkait, dilaksanakan diruang rapat kantor Basarnas  kamis 25/06/2020.

SAR Natuna hanya memiliki  42 personil. 24 bertugas di kantor SAR, 4 di Pos, 10 orang di Kapal KN Sasi Kirana. Dengan wilayah tugas di dua Kabupaten, Natuna dan Anambas, namun demikian kami tetap  bekerja semaksimal mungkin.

Apalagi cuaca di laut Natuna dan Anambas, sangat ekstrim, maka perlu pembahasan bersama seluruh instansi agar bisa memberi masukan, ucap Mexi. Kami mohon maaf jika ada permintaan perbantuan anggota SAR tidak bisa kami penuhi, karena jumlah minim.
Untuk mengantisipasi kejadian di laut, diharapkan adanya kerja sama nelayan dengan seluruh instansi, jika perlu setiap nelayan harus memakai alat PLB. Alat tersebut mampu mendeteksi titik kordinat nelayan yang kena musibah. Harganya sekitar 3 jutaan/ unit. Alat ini dapat dibawa kapan saja karena ringan dan kecil. Jika terkena musibah, tinggal pencet tombol emergency maka kami tau pcc nelayan tersebut ucapnya. Dengan demikian penyelamatan bisa dilakukan dengan cepat. “Kami siap membantu melakukan sosialisasi tentang pemakaian alat SAR”, ucap Mexi.

Sementara, Danlanal Ranai,Kolonel laut,(P) Dofir, menghimbau jika nelayan mau melaut, dapat melapor, lewat HNS, atau kelompok nelayan, sehingga kita dapat mengetahui, berapa jumlah nelayan sedang mencari ikan.

Saran saya, jika berkenan, harus kita bagi selter, sehingga mengetahui lokasi atau titik koordinasi nya.

Ini untuk membantu memperkecil pencarian. Dan harus ada jaringan komunikasi antar kelompok nelayan.

Namun demikian perlu dilakukan sosialisasi, agar tidak terjadi kesalah pahaman.  Mari kita bersinergi.

Kapolres Natuna. AKBP, Ike Krisnadian. Sik. meminta, kita  bisa berkolaborasi bersama, saling membantu satu sama lain. Dengan demikian dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketua HNSi Kabupaten Natuna Zainuddin, mengaku
telah terbentuk organisasi nelayan, mulai dari desa hingga kecamatan. Namun para nelayan mau berangkat kelaut, tidak pernah melapor. Sehingga sulit untuk mendata.

Mereka melaut, 3-7 hari, dan mampu menghasilkan ikan 3-4 ton. Pada hal kapal yang digunakan, bobotnya 3-7 GT. Ini sangat beresiko, ucap Zainuddin.

“Setiap nelayan yang melaut memang tidak pernah melapor kepada HNSI. Oleh sebab itu, minta dinas terkait melakukan sosialisasi”agar nelayan dapat memahami.

Terkadang, bobot kapal,terkesan dipaksakan, untuk melaut sejauh itu, namun karena nenek moyangnya seorang pelaut,rasa takut itu tidak ada.

Untuk mengantisipasi hal hal tidak diinginkan, dirinya juga meminta  Pemerintah, membantu alat PLB. Alat ini sangat baik untuk mengetahui titik koordinat nelayan jika terjadi musibah.

Lain halnya dengan Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Natuna,  jumlah nelayan kita sangat banyak. Yang terdaftar  sekitar 5000 orang, dan yang tidak mungkin hampir sama.

Kami selaku, Dinas Kelautan  dan Perikanan, sudah melakukan   pembinaan pada nelayan, lewat penyuluhan . Dan hampir 2 kali dalam sebulan. Namun belum maksimal.

Sebab banyak kendala ditemukan di lapangan. Terkait bantuan alat keselamatan life jaket, telah dibagi, namun tidak dipakai, dengan berbagai alasan. Pada hal ini sangat penting.

Standarisasi, kapal yang dibawa, kadang tidak sesuai dengan jarak tempuhnya. Kapal kecil tapi melaut hingga berpuluh mil. Ini perlu dilakukan pencegahan. Alat komunikasi juga banyak tak berpungsi.

Ini  jadi keterbatasan bagi kami, dalam melakukan pembinaan. Karena luas wilayah dan banyaknya jumlah nelayan tradisional, ucap Sofiandi.

Kadis Perhubungan. Iskandar Dj.juga meminta agar adanya sinergitas semua pihak, untuk saling membantu, sehingga dapat menilimalisir angka kecelakaan. /Roy.

 1,157 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment