Proyek Sama, Matrial Beda? Proyek Lanjutan Peningkatan D.I di Desa Tapau Dipertanyakan

Pasir Padang (pasir Halus) Yang dipakai untuk pembangunan irigasi persawahan.Natuna, (MR)
Hujan masih rintik-rintik, Paijo, bukan nama sebenarnya, masih melakukan aktifitas pekerjaan. Padahal waktu itu hari Minggu. Meski cuaca tidak bersahabat, mereka menggesa pekerjaan, agar proyek, peningkatam saluran iringasi, untuk  persawahan, dapat selesai tepat waktu. Padahal, pekerjaan pengecoran yang dilakukan saat  musim hujan, kemungkinan besar, mutu dan kwalitas pekerjaan diragukan. Namun Paijo bersama sejumlah rekannya tidak mempersoalkan itu, sebab  mereka yakin, dengan material standar,  mutu pekerjaannya pasti  baik.

“Kami ini memakai pasir sungai bang,’’ dan batu cornya memakai batu split, tidak  seperti, tetangga sebelah. Mereka memakai pasir gunung, dan batu granit biasa. Ini yang jadi pertanyaan besar dalam Diri kita. Kok bisa, pekerjaan sama, namun material berbeda. Dari harganya aja sudah jauh berbeda. Sebenarnya Kita ingin mempertanyakan itu kepada mereka, namun niat itu selalu tidak kesampaian. Kami tak ingin Proyek pekerjaan ini, cepat rusak, hanya gara-gara material tidak standar. Kalau bapak mau tanya, langsung aja sama konsultan pengawas, dan  PU nya, mereka biasanya ada disini, saran Paijo.

Konsultan pegawas lapangan Deny, ketika dikonfirmasi disalah satu warung  warga, mengaku, bahwa perbedaan tersebut dikarenakan, pihak kontraktor merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan material. Kalau kontraktor yang satu, materialnya dari Pinang, pasirnya dari Ranai. Terkait  mengapa mereka pakai pasir padang, itu sudah disesuaikan dengan komposisinya.

Artinya campuran materialnya Kita sesuaikan, dan pasir tersebut telah dibawa pihak rekanan, untuk dilakukan uji lab di Bandung, guna mengetahui apakah, pasir tersebut layak dipakai atau tidak, ucap Deny diamini salah satu  rekannya. Sayangnya Deny tak dapat menjawab, apakah pekerjaan tersebut dibenarkan atau tidak, jika memakai pasir gunung, dan batu granit biasa.

Pernyataan konsultan pengawas ini, patut diragukan. Sangat mustahil, jika pasir sungai (pasir kasar) tidak ada di Natuna. Celakanya, hasil lab yang dikatakan sang konsultan, sampai hari senin 23 November, belum juga diketahui keasliannya,  apakah layak dipakai atau tidak. Sementara, proyek sudah banyak yang sudah dikerjakan. Pertanyaannya, Bagaimana nanti jadinya, jika hasil lab tidak memuaskan? Apakah seluruh pekerjaan sudah terpasang, harus dirobohkan?. Patut dicurigai, adanya “permainan” antara pihak rekanan, konsultan pengawas maupun pihak PU, untuk  mencari keuntungan yang lebih besar.

Selain itu, Ia juga mengatakan, jika pekerjaan proyek lanjutan peningkatan D.I, tapau kiri di Kecamatan Bunguran tengah, dikerjakan oleh dua kontraktor  berbeda. Satu dari dana APBN, dengan nilai kontrak 7 millyar lebih, satu lagi dari dana  APBD Provinsi, nilai kontrak 3 millyar lebih. Plangnya ada coba dicek di daerah sana ucapnya.

Sementara itu pihak PU Alex, disebut-sebut orang paling bertanggung jawab atas pekerjaan itu, belum dapat dikonfirmasi terkait persoalan itu.Wartawan koran ini beberapa kali berusaha untuk mendapatkan no hp, namun belum membuahkan hasil. Yudi, kontraktor batam, ketika dikonfirmasi lewat sms, tidak ada jawaban sedikit pun. Hasil investigasi dilapangan, membenarkan proye k dikerjakan oleh Yudi, memakai pasir padang (pasir halus) dan batu granit lokal. Secara kwalitas, tentu jauh berbeda dengan rekan kontraktornya. Sementara pekerjaannya, terdiri dari bagian lenning (saluran Induk), saluran cacing, dan  box pembagi saluran air. Parahnya lagi, papan proyek dimaksud dicari kemana-mana tidak ketemu, kecuali, papan proyek milik kontraktor Ayong. >>Roy

Related posts