WAKIL Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), Abdul Haris, SH meresmikan penggunaan listrik pedesaan di tiga desa yang berada di KKA pada Sabtu (9/3). Ketiga desa yang mendapatkan bantuan listrik pedesaan tersebut adalah Desa Air Asuk Kecamatan Siantan Tengah, Desa Nyamuk Siantan Timur dan Air Bini Kecamatan Siantan Selatan. Namun peresmian itu menuai protes masyarakat, terutama di desa Air asuk yang mengang-gap program listrik desa tidak merata dan pengerjaannya dianggap tidak sesuai bestek.
Protes awal keluar dari salah satu warga desa Air Asuk bernama Husin. Dirinya menilai peresmian sebuah kegiatan harusnya dilaksa-nakan setelah kegiatan tersebut selesai dilaksanakan. Akan tetapi untuk program listrik pedesaan ini banyak sector yang terlihat tidak selesai, atau terkesan dipaksakan selesai oleh dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) KKA. Secara kasat mata saja terlihat banyak instalasi yang tidak selesai dikerjakan. “Jadi seha-rusnya peresmian yang kita ketahui, selesai dulu baru diresmikan. Kami ini walau-pun bodoh tidak bisa dibodoh-bodohi. Kenapa ini belum selesai tapi sudah diresmikan? Ada juga masalah pemasangan instalasi yang belum selesai. Kok bisa diresmikan? Seha-rusnya sudah diresmikan berarti sudah selesai, kenapa ini belum selesai juga?” kata-nya mempertanyakan masalah peresmian tersebut.
Husin mengaku bahwa rumahnya sendiri sudah terpasang aliran listrik. Tapi untuk itupun dia harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk membeli kabel guna menyambungkan aliran listrik kerumahnya. “Jadi saya sendiri memang sudah terpasang. Tapi untuk pemasangan ke rumah, saya harus beli kabel sendiri sebesar Rp. 200 ribu,” ujarnya.
Menurut data yang disebutkan oleh sekretaris kecamatan Siantan Tengah, A.Azim, lebih kurang ada 240 rumah tangga yang berada di air asuk dan baru 120 rumah yang terpasang intalasi listrik pedesaan. “Masih sisa 120 lagi yang tidak terpasang. Saya didatangai beberapa tokoh masyarakat mempertanyakan ketidak merataan,” jelas A.Azim
Jadi hanya ada separoh rumah tangga yang dapat merasakan manfaat listrik pedesaan yang konon dibuat demi kesejahteraan masyarakat itu. Menurut salah seorang ketua RT, Azahari masalah ketidak merataan pemasangan aliran listrik ini akan menimbulkan gejolak sosial dikalangan masyarakat. Terlahir dari rasa iri karena merasa dibedakan, maka akan berdampak dengan munculnya fitnah dan buruk sangka. “Iri hati itu berbahaya pak. Hasut menghasut. Buruk sangka, mentang-mentang orang kaya dia hidup listriknya, saya miskin tidak dapat listrik. Muncul seudzon seperti itu,” jelasnya.
Tidak hanya masalah pemasangan instalasi yang tidak merata, pemasangan tiang listrik tiang listrik yang dicat oren dan abu-abu itu diduga juga tidak sesuai dengan bestek. Terlihat memang ada banyak tiang yang masih miring dan diatasnya ada banyak kabel yang masih sembrawut. Terlihat juga tiang tersebut tidak kokoh sehingga terlihat seperti mau tumbang. Tidak hanya itu, salah seorang warga malah menantang Dinas ESDM untuk membongkar coran pondasi tiang, karena diduga tidak memenuhi standart yang ditetapkan. “Bongkar saja tiang itu. Saya bisa pastikan coran pondasi tiang tidak sesuai dengan ketentuan. Kalau memang saya salah, anda boleh minta ganti rugi kepada saya,” demikian pungkas salah seorang warga.
Menanggapi protes yang diteriakkan masyarakat, Kadis ESDM, Romy Firman, ST mencoba menjawab polemik tersebut. Dirinya berpendapat Adalah hal yang lumrah kita menghadapi tantangan internal dan external. Kegiatan yang telah dilaksanakan secara bertahap dimulai dari tahun 2010 ini pasti memiliki problematika tersendiri yang terjadi diakibatkan oleh factor internal dan eksternal.
Romy memaparkan faktor internal yang sangat mempengaruhi adalah masalah. Dengan keterbatasan personel yang dimiliki oleh dinas ESDM sekarang, Romy mengaku cukup berat dalam menjalankan proyek ini. “Kami menyadari banyak kekurangan. Pertama karena factor SDM kami yang kebanyakan adalah CPNS dan PNS yang masih 1 tahun berjalan,” papar Romy.
Sedangkan untuk faktor eksternal, peringkat pertama masih diduduki oleh masalah geografis. Menurutnya dengan keadaan geografis KKA yang jauh dari pusat ekonomi, mengakibatkan banyak barang yang terlambat datang. “Wilayah kita berada di geografis yang sulit dan jauh dari pusat ekonomi. Kebanyakan pabrik yang pengadaan barang kita terutama mesin dan tiang listrik itu berada di Jakarta. Tidak itu saja malah ada juga yang berasal dari luar negeri karena tidak diproduksi di dalam Negeri,” demikian papar Romy.
Selain itu Romy juga menjelaskan bahwa ketika pelelangan awal 2011 pihak ESDM mengalami pelelangan gagal disebabkan tidak ada rekanan yang masuk sesuai dengan satandart minimal, yaitu 3 rekanan. “Yang masuk itu dibawah 3, tidak memenuhi standart minimal. Jadi kita lelang ulang, otomatis kan waktunya terbuang sia-sia. Padahal pelaksanaan kegiatan ini dimulai setelah APBDP, jadi waktunya sempit,” papar Romy.
Wakil Bupati KKA, Abdul Haris, SH juga menjelaskan hal yang sama kepada masyarakat. Haris menjelaskan bahwa adanya sekitar 100 lebih yang belum terpasang bukan karena unsur kesengajaan. Tapi ini ketetapan yang sudah ditetapkan tahun 2011.
Haris menjelaskan bahwa peresmian hari itu agar nanti secara teknis dan pengaturan bisa ditangani oleh Camat dan masyarakat langsung. Pemerintah berkewajiban menyediakan mesin, kabel instalasi dan sebagainya tapi yang memelihara tetap masyarakatnya. “Kita resmikan hari ini, secara kelistrikan akan dikelola Kecamatan dan masyarakat. Supaya penggunaan daya bisa dimanfatkan oleh masyarakat. Karena ini menggunakan APBD yang merupakan uang rakyat, sekarang kita kembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk infrastruktur dasar listrik. Nikmatilah dan kelola listrik itu dengan sebaik-baiknya,” kata Haris.
Menyinggung masalah tiang dan coran yang tidak sesuai bestek, Haris mengharapkan agar ESDM lebih proaktif. Secara aturan masih ada 6 bulan masa pemeliharaan, sehingga dalam kuran waktu tersebut Haris mengharapkan ESDM bisa langsung berkoordinasi dengan pihak rekanan untuk memperbaiki dan membenahi semua fasilitas fisik yang berkaitan dengan proyek listrik pedesaan. “Secara fisik, masih ada pemeliharaan selama 6 bulan saya harap ESDM proaktif.
Setelah acara peresmian berakhir, para wartawan berusaha untuk menemui Romy guna mengkonfirmasi masalah dalam hal pegnerjaan proyek tersebut. Termasuk masalah pembayaran yang sudah dibayarkan 100% padahal proyek tersebut masih terus dikerjakan. Akan tetapi Romy menolak memberikan komentar kepada wartawan masalah ini. “Tanya pak Wakil saja, saya tidak berani mengeluarkan statement,” pungkasnya.
Hari berikutnya Wartawan juga berusaha menemui Romy dikantor dinas ESDM. Kembali wartawan harus kecewa karena setelah sampai, Romy terlihat tergesa-gesa meninggalkan kantor dengan alasan tidak enak badan. “Pak Kadis mau pulang pak, tidak bisa ditemui, karena sedang tidak enak badan,” demikian pernyataan Satpol PP yang ditemui wartawan dikantor dinas ESDM KKA. >> Eichiro/ Edo

