Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata masih belum puas dengan kabinet hasil rombakannya. Presiden mengaku kerepotan harus menganani komunikasi dengan publik seorang diri. Hal itu terlihat dalam sidang kabinet yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (2/12). Walau diawali dengan keceriaan karena Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan Menteri Perindus-trian MS Hidayat berulang tahun, namun suasana lang-sung berubah saat sidang dimulai.
Presiden yang berdampi-ngan dengan Wakil Presiden Boediono langsung melontar-kan kritik kepada kabinet saat pembukaan rapat. Presiden Yudhoyono lebih memilih untuk mengawali rapat untuk membahas konsolidasi jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II hasil reshuffle. Padahal di awal pidato Presiden mengagendakan dua tema dalam sidang kabinet kali ini, yakni antisipasi kebijakan untuk menghadapi dampak kri-sis ekonomi global dan kebija-kan luar negeri Indonesia. “Yang satunya adalah berkaitan dengan daya tangkap atau daya tangkap kita tentang isu yang ada di kalangan masyarakat luas termasuk insiden,” ujar Presiden Yudhoyono.
Presiden mengingatkan bahwa dirinya menginginkan penataan rapat dan komunikasi terhadap publik. Dalam sidang kabinet lalu dirinya meminta menteri melakukan rapat sesuai bidangnya sekali sepekan.
Ia menetapkan pada hari Senin Menko Polhukan melaku-kan rapat, dilanjutkan oleh Menteri Koordinator Perekono-mian pada hari Selasa, dan Menteri Kesejahteraan Rakyat pada hari Rabu. Rapat Koordi-nasi ini diakhiri dengan Sidang Kabinet dengan Presiden pada hari Kamis.
Presiden menginginkan usai rapat tersebut, pers dapat men-dapatkan akses informasi sehingga masyarakat menda-patkan informasi yang jernih. “Tidak terlalu banyak distrosi atau biasa atau kesalah penger-tian rakyat terhadap pemerin-tah,” jelasnya.
Presiden berharap koordi-nasi ini dapat menjelaskan isu yang berkembang di masya-rakat. Ia mengaku baru saja mengalami pengalaman buruk pemberitaan ketika menerima Presiden Jerman Christian Wulff di Istana Merdeka, Kamis lalu (1/12). Presiden sempat melihat running text televisi Jerman. Televisi tersebut mengabarkan tentara Indonesia menembak pengibar bendera dengan cara yang tak semestinya.
Presiden juga mengkritik pelaporan yang lamban di tangan pemerintahan. Ia men-contohkan insiden runtuhnya jembatan yang menghubung-kan Kutai kartanegara dengan Tenggarong, Kalimantan Timur. Ia malah mendapatkan informasi atas insiden ini melalui media masa dan pesan singkat.
“Ketika ada peristiwa ambruknya jembatan di Sungai Mahakam, saya terima berita itu dengan sms yang masuk dan berita di media massa, bukan dari sistem. Padahal itu sudah berjalan satu jam,” keluhnya. >> Ediatmo

