Natuna, (MR)
Bujang Abas terlihat gerah melihat kondisi pembangunan embung di desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara, tidak ada manfaatnya. Lelaki separuh baya ini merasa iba melihat kondisi masyarakat, jika musim kemarau tiba mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan sarana air bersih.
Selama ini masyarakat Teluk Buton hanya mengandalkan sumur yang rasa airnya payau dan kurang jernih. Kondisi ini sangat memprihatinkan, padahal Natuna masih banyak hutan, gunung dan sungai besar yang dapat diolah menjadi sumber air minum. Kalau musim kemarau tiba sangat sulit mendapatkan air bersih, harapan satu-satunya adalah adanya proyek pembangunan embung untuk sarana air minum yang di danai dari DAK. Proyek ini diharapkan mampu mengatasi keluhan masyarakat, nyatanya jauh panggang dari pada api.
Selaku kepala dusun (Kadus) Desa Teluk Buton, wajar saja mempertanyakan pekerjaan proyek belum rampung, karena belum ada hasilnya, lihat saja kondisinya masih ada yang belum di benahi, tapi dah ditinggal pergi.
Melihat kondisinya, sampai saat ini warga tidak mengetahui peruntukan dari embung tersebut. Bahkan sejauh ini belum ada kabar kapan pemerintah memasang jaringan pipanisasi.sesalnya.
“Kami gak tau itu embung untuk apa. Katanya buat suplai air bersih. Lokasinya jauh diujung desa,” kata Abas Kamis (25/5) ketika sejumlah wartawan melakukan bakti sosial bagi masyarakat lansia dan anak yatim.
Abas dan warga lainya berharap, keberadaan embung bisa membantu mendapatkan air bersih. “Selama ini untuk mencuci, memasak dan mandi, kami mengandalkan air sumur, tapi seperti yang telah saya katakan tadi, airnya agak payau,” ungkapnya.
Proyek pembangunan embung di desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara, hingga saat ini belum bisa dimanfaatkan, padahal proyek yang nilainya milyar itu, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak.
Dalam usulan rencana pembangunan embung, untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Teluk Buton. Namun setelah selesai pekerjaan tahun 2016 lalu, belum ada gambaran apakah air embung itu akan disalurkan kepada masyarakat.
Dari hasil pantauan dilapangan, pembangunan embung belum selesai seratus persen, mengingat sisi bendungan masih ada yang belum di semen, dan hanya dibentengi dengan tanah, hal ini bisa berdampak buruk karena dikhawatirkan dapat jebol. Jika dilihat dengan teliti photo kondisi bangunan tidak rapi, alias berkelok-kelok, dalam photo tampak jelas perbedaannya, disebelah kiri belum disemen, sementara di sebelah kanannya sudah. Meski tergolong belum selesai, para pekerja sudah tidak ada lagi di lokasi. Proyek pembangunan Embung di kecamatan Bunguran Utara luasnya sekitar 1 ha, diambil dari dana DAK Pusat, Embung dibangun persis di salah satu aliran sungai di perbatasan desa Teluk Buton dengan desa Kelarik.
Data yang diperoleh wartawan koran ini, ternyata proyek Embung sebagaimana yang dikatakan Kadus Teluk Buton, dalam lelang proyek bernama proyek pekerjaan Tampung Air terletak di Desa teluk buton, Kecamatan bunguran utara.
Proyek pekerjaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di laksanakan oleh SNVT, jaringan pemampaatan air Sumatera IV Provinsi Sumatera Utara, di menangkan oleh PT Romawi Jaya, beralamat di Indragilir Hulu Rengat, Kabupaten Riau. Dengan harga penawaran Rp. 5.388.388.000, nilai hps sekitar Rp. 5.845.000.000, pemenang tender urutan ke 3 ini hanya menurunkan harga penawaran kurang lebih 2 persen.
Sampai berita ini di turunkan belum ada satupun yang dapat di konfirmasi, terkait kondisi proyek, apakah hanya sampai disitu atau tidak. >>Roy
