Habiskan Anggaran Ratusan Milyar, BWSS, IV, Tinjau Proyek Bendungan Abadi Di  Klarik?

 

Natuna (MR)- Kunjungan kerja,  Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatra IV (BWSS) Dr Ismail Widadi, ke Natuna , merupakan kabar baik .Kunjungan  silaturahmi sekaligus  melihat langsung progres pembangunan irigasi dan bendungan di Desa Klarik dan  Tapau. Patut Kita acungi jempol.

Pasalnya  sejumlah proyek raksasa, dari BWSS IV, dituding jadi lahan empuk, para ‘kuruptor”.Karena sejak tahun 2006, lalu. Proyek abadi bendungan Klarik.  habiskan anggaran ratusan millyar, namun dalam perjalannya, Bendungan ini belum ada manfaat bagi masyarakat.

Bahkan sejumlah media pernah menyoroti, proyek ini, namun hasilnya belum ada kejelasan dari aparat hukum.

“saya baru dua minggu menjabat, kepala BWSS IV. Kunker kali ini, pertama bagi saya. Tujuannya melihat progres pengerjaan irigasi dan bendungan di Natuna”, ujarnya.

Sebagai perpanjangan tugas dari Kementerian PUPR Direktorat Jenderal Sumber Air, maka BWSS berupaya menyediakan sumber daya air untuk mendukung percepatan pembangunan.

“Kami juga ingin melihat langsung hasil kerja dari BWSS, mulai dari tahun 2016 hingga tahun 2017, apakah sudah rampung dan bermanfaat bagi masyarakat”, terangnya.

Untuk menjawab harapan dari pemerintah, tahun 2018 mendatang BWSS akan membangun beberapa prasarana air di Natuna. BWSS diberi tugas untuk menyediakan kebutuhan air baku dan irigasi. Baik di Kelarik maupun Bendungan Tapau.

“khusus irigasi Kelarik, kita telah menjadwalkan akan diresmikan tahun 2018 mendatang, presiden Jokowi bersama beberapa menteri rencananya akan meresmikan langsung bendungan itu. Kami juga mendapat tugas dari Jakarta untuk membangun irigasi Tapau guna memenuhi kebutuhan irigasi sawah”, paparnya.

Total anggaran untuk pengembangan irigasi Tapau, kurang lebih Rp80 milyar pengerjaanya akan dilakukan satu tahun

Pada perisipnya BWSS berharap ada sinergi sitas dari stokhokder terkait pelaksanaan pengembangan irigasi dan bendungan di Natuna.

Dari peryataan Kepala BWSS IV, terkesan ada yang ditutupi. Kedatangannya ke Natuna guna mengevaluasi kegiatan bendungan Klarik, dan Tapau. Sayangnya bendungan Klarik di bangun dari tahun 2006 silam, dan menghabiskan anggaran ratusan miliar, tidak berani menyebut angka pembangunan yang sebenarnya. Sementara Kegiatan bendungan tapau, anggarannya disebutkan.Lalu timbul pertanyaan ada apa dengan bendungan Klarik?.

Sebelumnya. Pemberitaan Media rakyat edisii 384, berjudul, Proyek abadi bendungan kalrik lahan empuk. membuat sejumlah kalangan angkat bicara. Pasalnya proyek yang ditenggarai tidak punya masterplant ini , disinyalir ajang untuk mendapatkan keuntungan semata. Soalnya, sejak dikerjakan, hingga tahun ini,proyek abadi bendungan klarik, telah menghabiskan dana APBN, ratusan millyar, .

Namun hasil dari pekerjaan belum ada mampaatnya bagi masyarakat Natuna, khususnya warga klarik.
Coba diperhatikan. Jika proyek ini punya masterplant yang jelas, sudah pasti pembangunannya tidak “sembraut”. Saya berani berkata demikian, karena pakta lapangan kok bisa dibangun dua bendungan ditempat yang sama? kata sumber media rakyat .

“Bendungan satu dibangun, lalu ditinggalkan, kemudian dibangun lagi bendungan baru, ini artinya ada ketidak beresan dalam perencanaanya.Mirisnya lagi, selama proyek ini dibangun, belum pernah daerah dilibatkan, sehingga timbul kecurigaan, bahwa proyek tersebut, dibangun hanya untuk mendapatkan keuntungan semata.

Jika bendungan pertama tidak dimampaatkan , apakah ini bukan merugikan negara.Kita tidak ingin Pusat berprasangka, Kabupaten Natuna banyak terima anggaran , namun tidak ada juntrungannya.Saya katakan pembangunan bendungan pertama, dipastikan bermasalah, dan layak untuk diusut.

Maunya kedepan, Kita punya keinginan setiap proyek dari Pusat , tolong daerah dilibatkan, agar pegawasan dalam pembangunan itu bisa berjalan maksimal. Selain itu harus punya masterplant , berapa lama pekerjaana, sehingga tidak terkesan menghambur-hamburkan uang rakyat.

Kita ingin aparat hukum, menyelidiki, agar pembangunan proyek bendungan irigasi,tidak menjadi bahan gonjingan , melainkan permasalahan bisa terang benderang.
Sementara sumber media rakyat lainnya membenarkan jika proyek bendungan irigasi kalarik merupakan proyek empuk dan banyak untung.

Proyek abadi dari tahun 2006 hingga sekarang ini, dapat dipastikan telah menelan anggaran ratusan millyar. Proyek kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat, Direktorat Jennderal sumberdaya air,pelaksanaan jaringan sumberdaya air Sumatra, Kepulauan Riau “ bermasalah” . Entah sampaikan kapan kucuran dana terus dilakukan untuk pelaksanaan pembangunan irigasi ini.

Selama sepuluh tahun Pemerintah Pusat telah mengalokasikan anggaran pembangunan irigasi Desa klarik tapi ending pekerjaan tak tentu arah.Hal tersebut membuat warga klarik resah.Proyek ini, bisa dikatakan pemborosan uang rakyat.

Hasil investigasi sementara wartawan koran ini, proyek tersebut dimulai tahun 2006-2007 dikerjakan oleh Murta silin ( Almarhum) Saya tak ingat lagi PT apa yang mengerjakan,dan anggaranya berapa, ucap sumber. Tahun 2008-2009 oleh PT PKB ( Purna Bakti Karya Bintang. 2010-2011PT Alpa.2012-2017 PT Benteng Indo Raya. Mereka inilah yang telah mendapatkan tender tahunan proyek itu. Konon kabarnya, pada tahun 2008,pekerjaan proyek ini sudah pernah diberitakan,namun tidak ada respon dari aparat hukum.

Susah bos percuma diberitakan tak bakal direspon, tapi coba aja, mana tau koran andakan nasional, wartawannya banyak di Pusat, jadi bisa dikejar, celutuk salah satu rekan wartawan.Benarkah ada orang kuat dibalik proyek bendungan irigasi Klarik? Diuji nyali aparat penegak hukum untuk menyelidiki Proyek Irigasi Klarik sampai tuntas.

Sementara itu Camat Bunguran Utara, Izhar menyebutkan, pembangunan bendungan Kelarik akan selesai tahun 2017. Semoga saja bisa selesai, sehingga warga di Kecamatan Bunguran Utara bisa memanfaatkan air irigasi tersebut untuk berbagai keperluan seperti bercocok tanam dan kebutuhan air bersih,” kata Izhar.

Akan tetapi, terkait kondisi struktur bangunan yang mulai retak, Izhar mengaku tidak mengetahui kenapa banyak retakan-retakan pada dinding bendung . “Jika sudah dipungsikan bisa jadi dinding bendungan bakal jebol, karena tidak sanggup menahan tekanan air.Ini bisa berbahaya dan harus diperbaiki.

Jika dilihat dari kasat mata, retaknya pundasi kemungkinan besar faktor tanah belum padat sudah dibangun, atau campuran semen kurang serta memakai pasir padang, yang seharusnya pasir sungai.Hinga berita ini diturunkan belum ada satupun yang dapat dikonfirmasi dari pihak rekanan maupun pengguna anggaran/Roy

 

 

Related posts