Bintuni, (MR) – Tuning Supriyadi, M.Pd salah seorang dari tiga orang narasumber Bimtek 90 orang guru terdiri dari 60 orang guru SD dan 30 orang guru SMP di Teluk Bintuni dari Widyaiswara Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Manokwari, Papua Barat yang di laksanakan di Aula gedung Kartini Ruko Panjang, Bintuni , Rabu (25/10/2017).
Sebelumnya Supriyadi menerangkan tujuan dari lembaga Widyaiswara,
” Widyaiswara adalah salah satu jabatan fungsional untuk mendiklat pengawas kepala sekolah, tujuan bimtek ini untuk meningkatkan kompetensi guru di Bintuni.”
Supriyadi menceritakan secara rinci terkait dengan kegiatan Bimtek
” Terkait Permenpan Rb no 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya guru harus selalu mengembangkan dirinya, karena selama ini guru-guru naik pangkat mentok di golongan 4A saja, karena guru memang tidak pernah membuat tulisan. ” jelasnya.
” Melalui kegiatan ini Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbupora) Kabupaten Teluk Bintuni mengakomodir kegiatan itu dan mendatangkan kami 3 orang untuk melakukan pembimbingan khususnya di bidang penulisan laporan pendidikan laporan tindakan kelas dengan publikasi niat populer yaitu tulisan yang nanti di majalah atau di surat khabar. ”
Kegiatan ini disetting dua tahap yang sekarang sedang berlansung adalah khusus untuk penulisan laporan penelitian, kemudian nanti setelah kegiatan ini berakhir kita masih ada lanjut satu kegiatan lagi yaitu penulisan publikasi ilmiah, yang mana guru cukup bercerita tentang kemajuan-kemajuan atau perubahan-perubahan yang di lakukan di sekolahnya untuk memajukan pendidikan.
” Siapa tau dengan cerita guru ini, guru-guru di tempat lain bisa termotifasi atau mencontoh mencobakan juga apa yang di lakukan oleh guru yang bersangkutan. ”
Hasil dari kegiatan Bimtek ini kelak guru-guru di wajibakan harus bisa menulis di media cetak, majalah atau surat khabar.
Hal pokok yang perlu tulis oleh guru adalah informasi strategi mereka saat mengelola pembelajaran, sehingga anak cepat paham dan menguasai materi dengan cukup mudah,itu yang perlu di tulis.
Sehingga kalau itu di tulis guru lain, dan dapat dibaca oleh guru lainnya maka hal-hal positif yang tercurah dalam tulisan itu dapat menjadi contoh buat guru lain, metode dan strategi pengajaran yang benar dapat di lakukan di tempat dimana dia mengajar. terang Supriyadi rinci.
Tapi ada juga yang tidak boleh di tulis oleh guru yakni tentang administrasi sekolah, karena itu adalah hak dan wewenang Kepala Sekolah, itu tidak boleh tegas Supriyadi.
Guru hanya boleh menulis tentang proses belajar mengajar di kelas, kalau tentang menejemen sekolah itu hanya kepala sekolah yang boleh menulis, yang di ceritakan bukan yang biasa-biasa tapi tindakan yang lebih di banding kepala sekolah kata Supriyadi. (HS)

