Kota Malang, (MR)
Dugaan makelar Mahasiswa Baru (MABA) Politeknik Negeri Malang (Polinema) semakin kuat,pasalnya usai di beritakan Media Rakyat beberapa waktu lalu,SBD Kabag Kepegawaian yang di duga menjadi makelar maba tersebut bereaksi keras. Ini terbukti saat SBD yang asal Bima tersebut mengintimidasi narasumber, bahkan mengancam narasumber berinisial UP untuk dilaporkan kepada pihak berwajib dengan tuduhan memfitnah SBD. Ironisnya UP di paksa untuk datang menemui SBD di kantornya dengan tujuan membuat pengakuan bahwa yang di sampaikan kepada crew Media Rakyat beberapa waktu lalu hanya bohong belaka.
Betul mas, saya diancam akan di laporkan ke polisi dengan tuduhan membuat berita bohong dan fitnah jika tidak mau datang ke kantor Polinema untuk meminta maaf dan menanda tangani pernyataan minta maaf dan berbohong,” ungkap UP kepada Media Rakyat jumat (16/12).
Tidak itu saja,ia mengaku hampir tiap hari di hubungi SBD via telepon dengan nada intimidasi.
Karena merasa diintimidasi terus menerus imbuh UP, dirinya ditemani salah satu putrinya memberanikan diri untuk datang ke kantor SBD dikawasan Soekarno Hatta untuk memenuhi undangan SBD. Saya lupa harinya, tapi yang pasti saya ditemui SBD dan HT salah satu staf Polinema diruangan kerjanya, dan intimidasi itu kembali saya alami dengan kata-kata kasar yang dilontarkan SBD, ” bebernya.
Tidak itu saja saya juga dipaksa untuk menandatangani pernyataan bahwa telah membuat berita bohong di media, tapi saya tidak mau karena kejadian itu benar adanya dan saya punya bukti,” imbuhnya.
Melihat bukti yang ditunjukkan kepada crew Media Rakyat tampak dugaan makelar maba tersebut benar adanya, hal ini terlihat dari chapture pembicaraan via whatsapp antara MT dengan UP. Kebenaran dugaan makelar maba tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan dikota Malang khususnya masih belum bersih dari upaya jual beli maba yang dilakukan oknum civitas akademik. Seperti diberitakan sebelumnya SBD oknum Kabag Kepegawaian Polinema diduga menjadi makelar mahasiswa baru dikampus sekolah favorit tersebut.
Hal itu diungkapkan UP (45) yang pernah diminta SBD untuk mencari beberapa calon maba untuk diterima di Polinema tersebut, tentunya lewat jalur belakang (suap). Saat itu ungkap UP, SBD memasang tarif Rp 20jt agar bisa diterima menjadi maba dan dirinya menghubungi MT asal jl. Candi Mendut selatan yang akan memasukkan salah satu putranya menjadi maba di Polinema.
“MT sepakat dengan nominal yang diminta SBD, sayangnya pembayaran uang tersebut tanpa bukti kuitansi,” tukas UP.
Sayangnya saat hal ini dikonfirmasikan kembali ke ketua Polinema Tundung Subali Patma ST.MT yang bersangkutan tidak berada ditempat. Jika dugaan ini benar maka hal ini akan menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan. Hal ini cukup beralasan karena slogan perang melawan pungli yang dilontarkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, ternyata tidak diikiuti akademisi ditingkat daerah. >>Giz
