Dr. Dwi Seno Wijanarko, S.H., M.H Mengomentari Kasus Terdakwa Pelecehan Seksual dan Pemerasan di Bandara Sutta

Tangerang Kota, (MR) – Pengadilan , ECO Friston duduk di kursi pesakitan pengadilan Negeri Tangerang sebagai terdakwa dalam perkara penipuan dan pelecehan seksual berkedok rapid rest di Bandara Sutta.

Sidang tertutup untuk umum pemeriksaan terdakwa di hadapan JPU Adib Fachri SH majelis hakim pengganti Nelson. SH Karna majelis Hakim Hari Suptanto SH MH masih menjalani isolasi covid 19.

Terdakwa di jerat pasal 378 KUHP penipuan dan pasal 278 KUHP tentang pelecehan seksual, NH korban ketika sedang perjalanan terbang menuju Nias ketika tiba di bandara Sukarno Hatta hasil rapid tes di nyatakan reaktif.

Memanfaatkan situasi tersebut ECO meminta sejumlah uang ke NH sebesar 1,4 juta.untuk mengubah hasil reaktif menjadi non reaktif. Sedangkan pasal 289 terdakwa melakukan perbuatan pidananya melakukan.pelecehan seksual sebanyak 2 kali.

Kuasa hukum terdakwa Roby sijabat SH dan Diky Silalahi SH mengatakan.
Terdakwa koperaktif.

Semua perbuatannya di akui dalam persidangan, Sebenarnya perkara ini sudah selesai Karna terfakwa sudah.minta maaf dan korban si ibu juga sudah maafkan.

Di dalam persidangan kita sudah clear hanya menjalani sidang perbuatanya” ujar Roby, Ada surat pernyataan damai, juga si ibu dalam kesaksian juga sudah tidak apa apa.

Pak ECO sudah minta maaf juga sudah buat surat pernyataan lanjut Diky.
Karna semua sudah damai harapan saya tuntutan jaksa jangan tinggi tinggi.
Paling tidak sudah.membuat terdakwa jera dalam perkara ini.

Memperhatikan kasus diatas seorang pengamat kebijakan hukum dan publik, Ahli pidana dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Dr. Dwi Seno Wijanarko, S.H., M.H menyampaikan pendapatnya.

Menurut pendapat saya jaksa salah mem formulasikan dakwaan, di liat dari terdakwa ECO meminta sejumlah uang ke NH sebesar 1,4 juta.untuk mengubah hasil reaktif menjadi non reaktif.

Perubahan dengan cara memalsukan surat tersebut masuk dalam unsur pasal 263 KUHP yang ancaman hukumannya 6 tahun. Apalagi sekarang pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat sedang memerangi pendemi covid-19.

Pemalsuan hasil tes rapid merupakan kejahatan yang mengancam kesehatan dan keselamatan banyak orang. Pada perbuatan pelecehan seksual sebanyak 2x sebagaimana 289 KUHP merupakan perbuatan yang melanggar norma kesusilaan dan norma kesopanan dampak bagi korban pun harus di perhatikan.

Karena nya harus ada saksi tegas,Kemudian merujuk dengan adanya akta Van dading / surat perdamaian antara pihak bahwa benar dapat dijadikan dasar agar meringankan putusan .

Namun majelis harus menimbang lebih komprehensif lagi dengan menggunakan keyakinan hakim dan fakta fakta yang terungkap di persidangan dalam kasus ECO.

Perbuatan yang di lakukan oleh Terdakwa harus juga diberikan efek jera dan hukuman yang setimpal. Hal ini agar menjadi perhatian publik dan masyarakat agar tidak ada kasus serupa.

Saya berharap Penjatuhan Sanksi Pidana terhadap terdakwa dalam perkara
ECO didasarkan juga dengan Pertimbangan Hakim dan tujuan pemidanaan
” jelas Dr. Seno.* ( Gunawan ).

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.