Bakesbangpol KKA Ajak Masyarakat Kembali ke Rumah Pancasila

Anambas,(MR)
NEGARA Pancasila adalah bentuk final dan ideal bagi bangsa Indonesia yang majemuk.  Dengan dukungan motto Bhineka Tunggal Ika, Indonesia berhasil mempertahankan kemajemukannya dalam keutuhan. Dalam kaitan ini, negara Pancasila perlu dijadikan sebagai rumah besar bangsa. Tempat seluruh elemen dan komponen bangsa hidup bersama dalam nuansa penuh ketenangan, kerukunan, dan kebersamaan.
Secara teoritis, pancasila dapat membawa bangsa ke kemajuan dan keunggulan. Namun, permasalahan Indonesia selama ini terletak pada ketidakmampuan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Dan kegagalan negara dalam menyenyawakan nilai-nilai Pancasila ke dalam sistem dan budaya bernegara.
Penegasan Pancasila sebagai filosofi, ideologi, jiwa, dan pandangan hidup sudah harga mati untuk bangsa ini. Pancasila merupakan dasar negara yang menjadi pandangan hidup dan menjadi alat pemersatu bangsa. Sebagai fungsi, nilai yang tertera pada lima sila tersebut haruslah digunakan sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia karena pengaruh Pancasila begitu besar terhadap bangsa. Ini dapat terjadi karena keanekaragaman yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah mulai dari suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak saling bersatu padu. Keanekaragaman inilah yang menjadi dasar atas terbentuknya Pancasila. Akan tetapi, tidak seperti yang diharapkan jika mencermati kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini yang semakin jauh dari tuntunan Pancasila baik di kalangan pejabat maupun rakyat. Akibatnya, menghendaki berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya, nyaris jauh panggang dari api.
Fenomena ini yang mendasari Bakesbangpol Kabupaten Kepulauan Anambas untuk mengingatkan masyarakat Anambas kembali kepada ideology yang ditanamkan di Pancasila.
Menurut Baharuddin Thalib inilah saat yang sangat tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai etos dan etika bangsa. Apalagi  era globalisasi meniscayakan kualitas, persaingan, dan daya saing. Menjadikan  negara Pancasila sebagai negara kesaksian mengandung pesan agar masyarakat Anambas siap bersaing dan bertanding dalam berbagai aspek peradabaan.
“Inilah saat yang sangat tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai etos dan etika bangsa.Apalagi era globalisasi meniscayakan kualitas, persaingan, dan daya saing. Menjadikan  negara Pancasila sebagai negara kesaksian mengandung pesan agar masyarakat Anambas siap bersaing dan bertanding dalam berbagai aspek peradabaan,suka tidak suka kita akui nilai-nilai pancasila tanpa kita sadari sudah mulai dilupakan, bahkan nyaris ditinggalkan. Itu terbukti dari masalah persatuan, semakin hari semakin menurun, NKRI masih belum terlihat. Padahal, NKRI itu sudah harga mati loh,” tegas Baharuddin Thalib kepada wartawan koran ini saat berbincang-bincang di ruang kerjanya prihal Hari Kesaktian Pancasila pekan lalu.
Lebih lanjut Bahar menjelaskan, ancaman terbesar kepada ideology Pancasila saat ini tidak lain adalah berkembangnya neo-liberalisme dan neo-komunisme. “Sejak zaman dahulu, era-demokrasi yang disokong oleh dunia barat, tidak berbanding lurus dengan nilai-nilai Pancasila yang telah ada di Indonesia. Barat mengacu pada hukum alam, masyarakatnya lebih banyak ditanamkan rasa individualis, konservatif, terkadang atheis serta kapitalisme. Hal ini sudah jelas bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi Pancasila yang memiliki arti masyarakat yang bermartabat dan berketuhanan.  Kedua ideologi ini sekarang mulai tumbuh dan berkembang serta mengakar kepada generasi-generasi muda yang mulai melupakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat sosial,” ujarnya.
Berbagai fakta telah terjadi sebagai tanda semakin hilangnya nilai- nilai Pancasila di sendi-sendi kehidupan berbangsa. Lihat saja masalah tentang maraknya bentrokan antar warga, antar suku yang seringkali hanya dilatarbelakangi masalah kecil. Kekerasan atas nama agama semakin marak terjadi di negeri ini, kerukunan antar umat beragama yang terkandung dalam Pancasila sudah tidak lagi diamalkan bangsa ini. Belum lagi moral pelajar negeri ini yang seringkali tawuran. Aspirasi mahasiswa dalam demo juga sering mengarah ke anarkis. Seakan sudah hilang citra masyarakat Indonesia yang terkenal ramah tamah. Belum lagi para pejabat negara yang seharusnya lebih memberikan teladan dalam mengamalkan Pancasila, namun yang terjadi justru sebaliknya. Pelanggaran nilai nilai Pancasila kerap terjadi di kalangan pejabat negara. Korupsi adalah salah satu cerminan pelanggaran nilai nilai Pancasila yang dilakukan para oknum pejabat.”Sangat disayangkan, disaat Pancasila semakin tua dan digerogoti oleh perjalanan waktu, nilai- nilai yang dimilikinya justru semakin rapuh. Padahal seharusnya semakin kuat dan kokoh untuk menghadapi segala permasalahan di negeri ini. Keadaan ini terjadi dikarenakan tidak ada pandangan hidup atau pegangan hidup yang bisa dijadikan landasan untuk memecahkan segala persoalan.  Sanggupkah kita menjual harga diri kita di Indonesia dengan meninggalkan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum sebaiknya kembali digali, lalu diamalkan dengan sebenar- benarnya.
Dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak perlunya kembali meneguhkan, merevitalisasi, dan mereaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di tengah multidimensi persoalan bangsa yang ditengarai oleh krisis kebangsaan, akibat menurunnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Dengan cara membumikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kerangka pemantapan dan keutuhan bangsa. Tidak ada gunanya berbicara tentang Undang-Undang Dasar apabila melupakan Pancasila, karena Pancasila itulah yang menjiwai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pancasila itu pula yang memberi makna bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila itu juga yang memberi warna bagi kebhinnekatunggalikaan kita.
Untuk itulah pada kesempatan ini saya kembali mengajak masyarakat, khususnya di Kabupaten Kepulauan Anambas melalui sekolah-sekolah, pemerintah daerah dan juga seluru aspek untuk kembali ke rumah Pancasila agar nilai-nilai  luhur Pancasila yang terkandung didalamnya bisa kita terapkan kembali. Sebab, kita adalah mahluk yang saling menyayangi dan memiliki Tuhan Yang Maha Esa, dan itu adalah kalimat indah yang menunjukkann bangsa ini berketuhanan dan bukan berbangsa komunis, bangsa yang memiliki agama yang diakui oleh Negara,” pesan Baharuddin mengajak masyarakat Anambas sembari mengakhiri perbincangan. >>Edo

Related posts