Tangkap dan Penjarakan Kontraktor Pelaksana?
SEJAK bergulirnya pem-beritaan MR, terkait adanya dugaan korupsi dalam proyek Hybrid Angin dan Surya, pihak rekanan telah mengutus mekanik, agar segera mela-kukan perbaikan. AAM di sebut sebagai mekanik pekan lalu, telah melayangkan sms terhadap beberapa wartawan yang telah mengespos berita proyek ESDM dan Direktorat jenderal listrik (Dirjen) Pe-mampaatan Energi Repoblik Indonesia tahun 2010.
Proyek listrik ramah ling-kungan tersebut, ternyata jadi ajang mencari “ang pao” bagi oknum didalamnya. Sebab, sejak proyek ini dikerjakan, ada komponen tidak berfungsi, sehingga mengurangi daya listrik dan merugikan masyarakat. Meski demikian, AAM, sebagai mekanik menyangkal pemberitaan dikoran. Lewat SMS Ia menyatakan tidak benar proyek hybrid Angin dan Surya dikerjakan melalui SubKontraktor. Semua dilaksanakan oleh PT Amora Daya Semesta. Bahkan Hybrid angin pernah beroperasi dengan normal. Namun kerusakan diakibatkan oleh paktor alam, sehingga Blade hancur dan sudah diganti katanya “mengelak”.
PLTS mulai hancur diakibatkan adanya warga nakal melakukan pencurian arus, sudah terbukti ada tiga orang yang melakukannya, sekarang sudah diurus oleh OMS. Saya pastikan ada beberapa pelanggan bermasalah, tegas AAM. Inti dari bantuan ini, untuk penerangan, namun 80 persen pelanggan memakai TV dan ada pakai kulkas.
Kerusakan terjadi pada system, bahkan ada fuse dipanel belum dipakai sudah rusak, intinya akan kita perbaiki karena paket ini pakai garansi papar AAm. Kendati demikian kalau masih ada warga yang melakukan pencurian arus panel akan tetap mengalami kerusakan.
Peryataan mekanik AAM jauh panggang dari Api. Pelaksanaan proyek Hybrid angin dan Surya, dari awal sudah mengalami keterlambatan. Proyek listrik ramah lingkungan pada tahun 2010, baru beroperasi pebruari 2011. Bahkan saat proyek ini diespos oleh wartawan, pertama sekali, sang mekanik mengatakan ada barang tertukar dengan Daerah lain, sehingga menara penahan dudukan Hybrid angin seperti “ ular” (Berkelok-kelok), sayangnya, meski bagai ular, besi menara ini tetap dipasang. Wajar saja hybrid angin tumbang, sebab tiang penyanggah tidak mampu menahan beban berat.
Selain itu, Ia juga mengatakan proyek listrik ramah lingkungan ini, pemakaiannya seperti hp, Kalau mau hemat jangan bayak-bayak makai arus, systimnya seperti pulsa, semakin dipakai semakin cepat habis. Pertanyaanya bagaimana bisa gara-gara pemakaian arus lebih panel rusak?. Intinya, tidak berpungsi Hybrid angin menandakan adanya unsure dugaan korupsi, bahkan informasi bukan hanya di Desa cemaga saja bermasalah, tapi di Subi dan di Pulau senoa mendapatkan nasib sama. Oleh karena itu sudah patut aparat penegak hukum turun kelapangan dan melakukan pengecekan, agar lebih jelas lagi.
Info terbaru didapat di lapangan, Pihak rekanan berencana mau mengganti Tiang penyanggah Hybrid Angin. Sayangnya, besi itu dibeli dari salah satu bengkel las di Natuna. Harga besi Rp500.000, kata sumber Media Rakyat. Apapun alasannya, pihak penegak hukum diminta turun tangan.
Sebelum berita ini santer, pihak rekanan terkesan “cuek” terkait rusaknya hybrid Angin dan Surya. Sebab, 50 KK pemakai listrik ramah lingkungan, telah melaporkan masalah padamnya listrik melalui pengurus OMS (Organisasi Masyarakat Surya). Fakta dilapangan pihak rekanan tidak mengubris laporan ini, hingga sampai tiga bulan cemaga sebelumnya terang benderang, berubah jadi cemaga gelap gulita. Setelah diekspos, barulah Kontraktor buka mata buka teliga, dan berniat melakukan perbaikan. Namun sudah terlambat, karena sudah ada unsure “korupsi”.
Info terbaru didapat wartawan Koran ini, pihak rekanan, PT Amora daya Semesta turun langsung kelapangan bersama Dirjen Energi Listrik untuk segera melakukan pengecekan. Sayangnya kedatangan mereka secara “diam-diam” sehingga wartawan Koran ini tidak sempat meminta klarifikasi berita, dan AAm pekerja lapangan, kabarnya telah dilakukan pemanggilan oleh aparat penegak hukum, Namun belum bisa dipastikan kebenaran soal pemanggilan itu.
Edisi lalu Ketua OMS (Organisasi Masyarakat Surya ) Saman Hudi, secara belak-belakan menerangkan duduk persoalan proyek itu. Ia mengatakan, pihak rekanan (kontraktor) bekerja tidak propesional dan terkesan kekanak-kanakan. Sebagai kontraktor tentunya Dia, mengetahui berapa kekuatan besi penyanggah kincir angin. Bahkan konsultan perencana dan pegawas lapangan termasuk pura-pura tak tahu. Sudah jelas itu bukan barangnya tapi masih dipasang juga. Jelas-jelas ini merupakan pembohongan public. Samanhudi juga mengatakan jika pemakaian hybrid angin tidak pernah ia tanda tangani berita acaranya, sebab benda itu tidak pernah berpungsi. Saat uji coba, baru setengah jam sudah ambruk.
Terkait padamnya tenaga surya dikarenakan, adanya pius putus. Namun sampai sekarang pius itu belum diganti. Kita tidak tahu berapa harganya, Sebenarnya paket ini jika dikerjakan oleh pemenang tender, tidak bakal kayak gini. Pihak amora mensub proyek ini.
Alhasil pekerjaan amburadul. Soal besaran harga nilai proyek 4,2 millyar di desa cemaga, tidak termasuk daerah Subi dan Pulau Senoa. Kita sudah layangkan surat agar segera diperbaiki, tapi tak pernah digubris, Bahkan AAM sebagai orang kepercayaan PT Amora daya Semesta sulit dihubungi, dan terkesan lepas tangan. >> Roy

