Kontraktor “Modal Dengkul” Buruh Bangunan Minggat Gaji Belum Di Bayar, Bupati Ancam Putus Kontrak

Bupati Natuna ,Ketua DPRD bersama Sekda Natuna , saat mempertanyakan bagunan pasar modren kepada DarmadiNatuna, (MR)
Lelaki bertubuh kurus itu, terlihat, aktif menggergaji triplek tebal. Sesekali iya menghela napas, pertanda sudah kelelahan. Maklum usianya tidak muda lagi, meski sudah tergolong uzur, namun tuntutan ekSalah satu kuli bangunan sedang mengikat besi sendirianionomi, memaksa  Dia harus tetap tegar demi menafkahi keluarganya.Tidak jauh dari tempatnya ada beberapa rekannya sedang melakukan aktifitas kerja. Kayaknya mereka sudah teroganisir, sehingga masing-masing punya kesibukan tersendiri.

Idias bukan nama sebenarnya mengaku, sudah hampir tiga bulan bekerja membangun proyek Pasar Moderen. Tapi selama bekerja disini, belum pernah menerima upah sepeserpun, hanya diberi pinjaman tiga ratus ribu. Kami juga tidak tahu apa kendalanya, jika ditanya alasannya Pemerintah belum melakukan pembanyaran. Pada hal awalnya, Saya diajak kesini  ketika Dirinya sedang bekerja di Bali. Mendengar ada pekerjaan dengan gaji memuaskan dan lancar serta banyak lembur, dia memilih hengkang dari pekerjaannya, untuk ikut ke Natuna.Ternyata Dia bersama delapan rekannya dibohongi, karena sampai hari ini, senin 18 mei, belum pernah menerima gaji sepeserpun, sementara kontrak kerja sudah mau habis beberapa hari lagi.

Idias menuturkan, jika tidak dibayar sampai batas waktu kontrak, tak tau mau kemana lagi, utang sembako dikedai sudah menumpuk. Sementara gaji yang awalnya ditawari 120 ribu perhari, lain lembur, disunat sama yang mengajak 20 ribu. Kita hanya terima 100 ribu perhari.

Bagi Kami itu tidak masalah, asalkan gaji berjalan lancar ucapnya. Hari ini, jumlah pekerja  tinggal 9 orang lagi. Awalnya banyak buruh bangunan lokal, karena  gaji tak kunjung dibayar mereka milih minggat. Berbeda dengan Kami, kalau minggat mau kemana  perginya, rumah di Jawa sana. Seandainya gaji dibayar, dan kontrak diperpanjang, harus ada dulu hitam diatas putih, sehingga ada jaminan gaji tidak macet lagi ujar Saidi.

Hal senada juga dikatakan teman Idias, tanpa kenek, Dirinya sibuk mengikat besi untuk dicor. Bekerja sendirian dibawah terik matahari tentu sangat melelahkan, namun ia tetap tegar. Saat ditanya soal gaji lancar, jawabnya belum, dan sudah banyak berhenti karena gaji belum dibayar, Alasan dari kontaraktor Dana dari Pemerintah belum juga cair.

Namun hal itu dibantah langsung oleh Darmadi, salah seorang konsultan pegawas dari PT Artefac Arkindo ini. Ia mengaku  kalau pekerja sudah dibayarkan gajinya ¾, tinggal ¼ lagi. Jika saat ini kondisi pekerja hanya 9 orang, itu dikarenakan sudah banyak pulang karena habis kontrak, nanti habis lebaran bakal banyak lagi kita bawa, ucapnya  enteng. Darmadi pintar “bersilat lidah” sebab pakta lapangan hampir semua pekerja mengaku belum menerima gaji, selama tiga bulan, hanya diberi pinjaman tiga ratus ribu rupiah. Yang lebih mengejutkan lagi di depan Bupati dan beberapa pejabat penting lainnya, Ia berani menjamin, Pasar moderen dikerjakan PT Mangku Buana Utama Jaya  akan selesai tepat waktu.

Sementara, Bupati Natuna Ilyas sabli, merasa pesimis pasar tersebut bisa selesai tepat waktu. Mana kontraktornya, bisa siap tak ini tepat waktu, Jika tidak akan Saya putus kontraknya, karena masa jabatan saya mau habis akhir tahun ini ucap Bupati, sedikit mengancam. Sayangnya sang konsultan merasa Pede, dan yakin bisa menyelesaikan tepat waktu, pada hal proyek ditenggarai menelan anggaran Rp 33.668.120.000, baru tiang saja yang berdiri. Sementara Bupati, langsung mempertanyakan perihal pembayaran apakah lancar atau tidak. Sebab isu berkembang Pemkab belum mencairkan. Sehingga  mengakibatkan  kuli bangunan pada minggat karena gaji belum dibayar?, Darmadi hanya bisa menjawab sudah dibayar, tak ada masalah dengan pencairan. Pertayaannya, mengapa gaji kuli ini tidak dibayarkan? Apakah kontraktor hanya “modal dengkul”?. Sehingga proyek puluhan millyar hanya memperkerjakan 9 orang kuli bangunan saja?

Mendengar peryataan itu, Wan Harris Munandar angkat bicara. Ia tidak yakin, dengan pengakuan Darmadi. “Saya tidak yakin pasar ini bisa selesai tepat waktu, kondisinya aja kayak gini, Saya ini mantan kontraktor, sedikit banyak tahu masalah teknis dilapangan, ucap wan Harris geram. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Darmadi termasuk konsultan pada pembangunan  kantor DPRD Natuna.

Ketika hal itu ditanyakan  kembali, lagi-lagi  Ia menjawab dengan  gambalang. Kami yakin dapat menyelesaikan pembangunan kantor DPRD Natuna tepat waktu, padahal fakta lapangan belum ada satupun tiang yang sudah berdiri. Jadi sangat lucu jika Darmadi aktimis kantor itu bisa selesai.

Pada hal, kabar burung diterima wartawan koran ini, Pembangunan Pasar modern ternyata sudah empat tangan. Kabarnya pihak kontraktor pemenang, telah kabur, tanpa alasan yang jelas. Sementara penyelesaian, hanya menghabiskan anggaran yang sudah terlanjur dicairkan Pemerintah daerah. Kenyakinan itu disebabkan, tidak adanya buruh bangunan yang menetap bekerja. Jika kontraktor punya modal, tidak mungkin proyek 36 millyar, Hanay mempekerjakan 9 orang kuli bangunan, oleh sebab itu bisa dipastikan proyek ini gagal. >>Roy

Related posts