Natuna, (MR)
Tidak semua niat baik itu hasilnya baik, ungkapan kata kata ini sangat tepat bagi mereka pendiri sekolah SMK Migas di Kabupaten Natuna. Pasalnya status sekolah ini bakal dilebur tahun 2018 mendatang. Itu artinya, tidak ada lagi penerimaan murid baru bagi sekolah yang digadang gadang bakal menjadi sekolah Negeri.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kadis Pendidikan Provinsi, Aripin Nasir saat berkunjung ke sekolah ini Minggu lalu. Kadisprovinsi ini malah mempertanyakan, siapa bilang sekolah SMK Migas ini mau di negerikan, ungkapnya sedikit jengkel. Rasa kesal terlihat jelas di wajahnya saat mengunjungi sekolah itu. Selain lokasi tidak mengizinkan, berbagai persyaratan juga belum bisa dipenuhi. Bangunan sekolah ini nanti akan Kita ambil alih, masa yayasan tak punya tanah, ucap sang Kadis kesal. Menurutnya, tidak ada dasar hukum mau menegerikan SMK migas dan Saya tidak pernah mengatakan itu. Saat ini, sekolah SMK, bagai buah simalakamakama, jika mau ditutup, sudah ada siswa kelas1 dan 2. Makanya kami ambil kesimpulan, SMK migas ditutup atau di ubah namanya sampai Tahun 2018, sambil menunggu tamat siswa yang ada ucapnya. Selain belum memenuhi persyaratan, guru pengajar tidak ada yang menetap. Artinya guru terbang semua.
Maka dari itu, jika ada yang mengatakan sekolah ini bakal di Negerikan itu salah total, ucap Aripin saat dikonfirmasi wartawan. Dari peryataan pak Kadis, dapat dipastikan, bahwa penerimaan siswa baru tahun ajaran 2017-2018 ditiadakan.
Sementara itu Kepala sekolah SMK migas, sekaligus salah satu pelopor berdirinya smk Migas, mengaku tidak keberatan jika sekolah ini di tutup, atau di alihkan namanya menjadi sekolah pertanian. Tidak masalah mau diubah atau tidak, tetap juga nama saya ada di sana sebagai pendiri, ucapnya.
Ia menegaskan, niat kita bersama kawan-kawan baik, untuk mendirikan SMK di daerah penghasil migas. Jika Pemprov berkata belum memenuhi persyaratan, apa mau dikata, ungkapnya pasrah. Harus diakui, pada awal berdirinya sekolah ini berbagai hujatan maupun tudingan sudah dialamatkan ke SMK ini, mulai dari kata bodong, dan guru pengajar yang tak sesuai dengan pendidikannya.
Namun sekolah ini, masih tetap berjalan, tanpa tahu siapa yang menyokongnya. Bahkan wakil rakyat pun sudah pernah melakukan sidak terkait pendirian sekolah ini, namun lagi lagi sekolah ini masih berjalan seperti biasa. Yang tampak berkurang hanyalah jumlah siswanya. Saat ini hanya tinggal 40 siswa saja mulai dari kelas1 dan 2. Informasi yang kami terima dilapangan, guru pengajar di sekolah ini tidak digaji, benarkah demikian?. Pupus sudah harapan para pendiri sekolah ini, ultimatum Kadispenprov telah terjawab sudah teka-teki tentang status SMK migas ini. Kini publik sudah tahu, ternyata SMK ini belum jelas, hingga diambil kesimpulan untuk,menutup atau mengganti namanya.jika demikian siapa yang dirugikan? >>Roy
