Bombana, (MR)
Bendung Batu Kilat, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara menjadi satu-satunya harapan petani di dusun Tosui, Kelurahan Bambaea, Kecamatan Poleang Timur. Namun, petani masih harus gigit jari, karena air bendung tersebut belum dapat digunakan untuk mengairi sawah mereka, karena saluran yang ada belum tembus sampai ke area persawahan.
Akibatnya, sawah seluas 2.000 hektare di dusun tersebut hanya mengandalkan air tadah hujan untuk berproduksi. Tidak heran, jika kemarau tahun ini menjadikan padi petani gagal panen karena kekeringan.
Hal itu, dibenarkan Tajuddin, S.IP salah seorang petani di Tosui. Menurutnya, gagal panen sudah menjadi langganan petani akibat ketersediaan air yang tidak memadai. Walaupun, kata dia, pemerintah telah membangun sumur bor sebanyak 16 titik, namun tidak dapat digunakan untuk mengairi sawah, karena airnya asin, sehingga Bendung Batu Kilat menjadi satu-stunya harapan bagi petani.
“Meman gsering terjadi (gagal panen-red.), karena keterbatasan air diakibatkan sarana irigasi belum memadai. Bayangkan, saya sudah tiga kali berturut – turut gagal panen,” kata Tajuddin kepada Media Rakyat, di kediamannya Jum’at (16/12).
Sementara, Ketua Kelompok Tani Padi Bakti, Muh. Amin D. mengaku, jika profesi petani sawah tidak dapat membuat hidup petani lebih baik, bahkan petani tidak dapat bertahan hidup jika semata-mata mengharapkan hasil produksi dari sawah yang digarapnya.
“Bayangkan, sejak tahun 1980-an sampai sekarang, gagal panen lebih sering terjadi. Itu disebabkan karena selama ini petani hanya menggunakan air hujan untuk mengairi sawah,” beber Muh.Amin di kediamannya, Jum’at (16/12). Karena itu, AMIN, bersyukur atas perjuangannya bersama petani lainnya sehingga pemerintah dapat membangun Bendung Batu Kilat yang diharapkan dapat mengairi sawah petani. Meskipun, kata dia, sampai saat ini, air bendung tersebut belum bisa sampai ke sawah petani, karena saluran belum tembus, namun ia mengharapkan pemerintah daerah dapat segera menangani masalah ini.
Setelah Bendung Batu Kilat efektif mengairi sawah petani, Tadjuddindan Amin meyakini, kesejahteraan petani akan meningkat, karena petani tidak akan gagal panen karena kekeringan dan petani juga akan menambah frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua kali per tahun. >>Hz
