Usut Tuntas, “Proyek Fiktif”, Pemancangan Pelabuhan Penyeberangan.

Natuna(MR) – Menindak lanjuti pemberitaan media rakyat, dengan judul Pembangunan  Pelabuhan Penyeberangan Tahap Dua, “Lahan Korupsi” mendapat tanggapan keras dari tokoh Pemuda Sedanau.

Said Asegaf, merupakan putra daerah  Sedanau, meminta aparat penegak hukum kususnya, Kajati maupun Kapolda, mengusut tuntas persoalan ini. Sebab dari dokumen kontrak kerja, jelas tertuang, kegiatan paket pembangunan pelabuhan penyeberangan tahap II, dipancang. Bukan pengadaan bahan material saja.

Fakta dilapangan, hanya material Hams , teronggok di pelantar. Mengingat tim Kajati Kepri telah turun kelapangan, kami berharap persoalan ini jangan masuk angin ucap tokoh pemuda Sedanau itu.saat dikonfirmasi lewat selulernya, 08/07/2020.

Tidak adanya kejelasan pembangunan pelabuhan penyeberangan tahap II, di kerjakan CV.ATTHORIQ,  dengan konsultan Supervisi, CV. Monumental, menjadi buah bibir ditengah masyarakat.

Pasalnya proyek Kementerian
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sedanau-Kepri Tahap II (Prioritas Nasional), diadakan Kementerian Perhubungan, melalui Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah IV Provinsi Riau dan Kepri tahun anggaran APBN 2019 Rp 2.921.817.503,20(nilai hps) diduga jadi lahan korupsi. Karena pekerjaan tidak sesuai dengan RAB. Celakanya, meski harga satuan pipa pancang, tergolong mahal, namun tidak satupun pipa yang didirikan.

Pada hal, dalam dokumen perjanjian kerja, tertulis jelas, (1)  pemancangan harus dicatat,
Tgl jam, dimulai dan selesai  pemancangan.

Ukuran tiang pancang dan Hang pancang.Elevasi dasar tiang pancang.dan levasi dasar tanah.
Jumlah tiang yang dipancang
No urut pemancangan.
Jenis alat hammer dan tinggi jatuhnya.Jumlah pukulan.
Pemancangan tiang dihentikan setelah kalendering mencapai 10 pukulan terakhir, mencapai 10cm, dan memenuhi daya dukung.

(2)Syarat teknis pemancangan.
Pemancangan Hams dilakukan dengan alat pancang laut(Ponton pancang)dilengkapi dengan leader dan alat penumpuse,sehingga tiang dapat dipancang dengan tepat, aman menggunakan tongkang crane.Hammer yang dipakai harus sesuai syarat seperti diatas.Sebelum dilakukan pemancangan harus dilakukan pengukuran, guna menentukan jarak titik pancang.
Tiang yang dipancang tegak
Pada saat pemancangan harus dicek terus menerus menggunakan alat theodolit.
Pemancangan tiang harus mencapai kedalaman yang ditentukan.

Pejabat Pembuat Komitmen(PPK) Frans Deddy Arisandi, bersama pihak rekanan, hingga berita ini diturunkan belum bisa dihubungi.

Sementara paket lanjutan tahap III sebesar 9 millyar lebih, telah keluar, SPKnya, Sayangnya, hingga tgl 3/07 kemarin, belum ada tanda -tanda dilaksanakan pekerjaan, padahal dalam dokumen kontrak kerja, sudah keluar bulan Mei lalu. Haruskah paket tahap III senasib dengan tahap II?, tunggu berita selanjutnya/Roy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.