Upah Murah, Proyek Besar, Tak sesuai Bestek? Proyek Optimalisasi SPAM IKK Dipertanyakan

piva air minum siap tanam tanpa alas pasirNatuna, (MR)
Berdiri tegak dekat galian, Bapur (Bukan nama sebenarnya) sesekali melihat penanaman pipa saluran air bersih di desa Batubi Jaya kecamatan Bunguran Barat. Lelaki, sering berkecimpung dalam dunia kontraktor itu, sesekali mengeluh,terkait  kurangnya pengawasan dari pihak kontraktor,sehingga penanaman pipa saluran air bersih tidak seperti biasanya. “Untuk kedalaman, sudah oke, karena menggunakan alat berat untuk menggali,” sayangnya, kebanyakan pipa ditanam tidak memakai pasir terlebih dulu, untuk alasnya, sebagaimana mestinya. Bahkan Saya dengar, untuk  biaya penanaman pipa,upahnya sangat murah, hanya ditawari  Rp.6000/meter. Sementara kedalaman 1 meter lebih, dengan lebar 1 meter. Coba dicek, langsung, apakah  pekerja memakai pasir  sebelum pipa ditanam, ucapnya 2 pekan lalu.

Tidak jauh dari Bapur, tiga orang lelaki, sedang melakukan penanaman pipa air bersih. Disepanjang jalan Sp 1 dan Sp 2, sebahagian besar, pipa, sudah ditanam. Ke tiga lelaki tua itu, tidak memperdulikan, panasnya sengatan terik matahari, dicampur,  penatnya asap disekitar mereka. Kulit sudah tampak keriput dan hitam,  namun semangatnya masih gigih. Iya..namanya untuk biaya hidup Pak. Apapun kita kerjakan, asal dapur keluarga bisa berasap, ucap, Paijo, minta namanya tidak ditulis. Paijo bukan nama sebenarnya, mengaku, bahwa gaji mereka  tidak sesuai dengan harapan. Artinya terlalu murah. Namun demikian, mau tidak mau Kita tetap kerjakan, sebab  minimnya  pekerjaan lain. Sebenarnya diusia sudah renta, Paijo tidak seharusnya memegang cangkul lagi, tapi karena tuntutan kehidupan, harus dilakukan meski sangat berat. Dari  pagi hingga petang, baru belasan meter dapat. Itupun  kami tanam bertiga. Karena ukuran sangat dalam dan lebar.  Jika dihitung, satu hari paling bisa mendapatkan upah, Rp.30. 000-40.000. Tidak sesuai dengan tenaga dan biaya hidup di Natuna, ucapnya. Ketika ditanya, mengapa penanaman pipa,  tidak pakai pasir terlebih dulu,  pasirnya tidak diantar ucap mereka polos, jadi Kita tanam aja, ucap buruh cangkul itu. Kami harap dengan kedatangan Bapak, upah kami bisa naik, papar Paijo, tanpa menyadari yang datang adalah wartawan. Untuk Sp 1, upahnya ada yang Rp 3000/meter. Daerah  sana sudah selesai ditanam. Untuk  papan proyek kami tidak tahu dimana dipasang. Hasil investigasi dilapangan, membenarkan tidak  ada kejelasan dimana dipasang papan Proyek. Hal tersebut diakui oleh Syarif Kepala Desa Sp II Batubi Jaya . “Saya juga tak tau Mas dimana dipasang” kalau  nilai kontrak sekitar 5 millyar, ucap sang Kades. Selain itu wartawan koran ini, melihat langsung, bahwa penanaman  pipa tidak didasari pasir terlebih dulu. Bahkan beredar kabar, jika sebahagian besar penanaman pipa, dilapisi pasir seadanya.

Sementara itu, Dokumen  lelang, yang  diserahkan seseorang, lewat email, menengaskan, pemenang tender pekerjaan, optimalisasi  SPAM IKK, di Kecamatan Bunguran Barat,di kerjakan  PT Bangun Putra Bakti. Dengan nilai proyek  5 millyar lebih. Proyek yang ditangani  Direktorat Jenderal Cipta karya, ini, selalu “meninggalkan luka lama.” Karena dari jaman Paulus proyek air bersih “bermasalah”, bahkan  mantan  Kasatker ini kabarnya telah  ditahan.

Dilain tempat, PPK proyek oktimalisasi SPAM, IKK Bunguran Barat, Farit Dibyo Mayang Koro ST, ketika dikonpirmasi wartawan koran ini ditanjung Pinang, 2 pekan lalu, awalnya disuruh nunggu. Namun beberapa saat kemudian, wartawan koran ini, disuruh datang besok hari oleh staf, dengan alasan tidak jelas. Celakanya, didatangi keesokan hari, PPK Farit Dibyo, malah “melarikan diri” dari kantor. Sikap tidak terpuji yang dilakukan pejabat satu ini, tidak pantas untuk ditiru. Kedatangan wartawan pada saat itu, sudah jelas, untuk meminta klarifikasi, adanya temuan dilapangan terkait pekerjaan proyek optimalisasi SPAM disinyalir tidak sesuai “bestek”. Hingga berita ini diturunkan baik PPK maupun Kasatker Bina Marga Eddy Rahmat, belum bisa dihubungi. >>Roy

Related posts