UKM Kemana? TPA Rezekiku!

Meninggalkan Sekolah Demi Mengais Rezeki

Prabumulih, (MR)
DITENGAH di galakannya sektor pendidikan di negara ini, yang bergandeng dengan pesatnya perkembangan ekonomi, menyusul derasnya persaingan kemajuan zaman, serta ditambah de-ngan bumi yang kaya akan sumber daya alam, terkhusus wilayah Kota Prabumulih Sumatera Selatan. Selain Kota ini terkenal akan hasil bumi-nya yang berlimpah juga terlihat perkembangan pembangunannya yang boleh di bilang berhasil, terutama pembangunan di bidang insprastruktur. Terkhusus di bidang pendidikan, Prabumulih yang termasuk salah satu program pendidikan gratis sumatera selatan ini, tentunya sangat perduli akan hal tersebut, terlihat dengan adanya santunan bagi pelajar yang berhasil menorehkan prestasi.
Perkembangan pembangunan Kota yang di juluki Kota nanas ini, tentunya di rasakan oleh berbagai kalangan masyarakat, yang juga berperan andil dalam menikmati perputaran perekonomian yang ada, terhitung dari kalangan petani, pedagang hingga kepada swasta dan wiraswasta yang mengais rezeki di Kota ini.
Namun, dari sedikit uraian itu, ternyata selain perkembangan-perkembangan pembangunan yang ada, Prabumulih juga tidak kalah dengan Kota-kota besar yang ada di Wilayah Indonesia, yang menyimpan aset anak yang buta akan pendidikan karena himpitan ekonomi. Salah satu dari kesekian penomena pendidikan, yang berdampak kepada terenggutnya masa depan yang cerah bagi para kesatria masa depan ini, yakni mashalah ekonomi dan besaran biaya pendidikan, yang secara universal dikumandangkan dengan selokan sekolah gratis.
Andi (12) salah satu anak yang sempat di bincangi Media Rakyat mengungkapkan, ia terpaksa putus sekolah dan harus berjibaku mencari nafkah bagi dirinya karena himpitan ekonomi keluarga, sehingga ia setiap harinya mengais rezeki di tumpukan Pembuangan Akhir Sampah (TPA), kepada Media Rakyat anak yang menamatkan hanya dibangku kelas IV SD ini bersama teman sebayanya Eki (12) yang juga putus sekolah, dengan ketus dan malu dengan raut wajah seperti ada yang ditutupi, mengutarakan bahwa dirinya tidak perlu untuk sekolah, karena sekolah itu hanya membuang duit sementara ekonomi keluarga belum sepenuhnya tercukupi.
Masih ditempat yang sama, Mini (40) warga Talangsaka kelurahan Sukajadi mengungkapkan bahwa dirinya bersama suaminya Jaidi (45) sudah hampir tiga tahun bergelut dengan sampah guna mengumpulkan barang bekas yang bisa di jual kepada pengepul rongsokan, di ceritakan mini, ia bersama suaminya setiap hari harus membolak balikan sampah mencari rongsokan karena himpitan ekonomi, semntara bantuan dari pemerintah berupa pinjaman modal usaha kecil menengah yang tengah di galakan tidak sama sekali menyentuh kepada mereka,’’ mano ado pak, bantuan pinjaman modal untuk kami yang susah ini, pinjaman modal itu cuma untuk wong kayo bae, cuma untuk wong yang terpandang, kalo untuk kami jelas dak katik, lah ngusulke lagi dak dapet, yang dapet tu cuma wong kayo-kayo bae,’’ ketusnya spontan.
Bagaimana Dengan UKM Yang Ada Di Kota Prabumulih ?
Tempat berbeda, Nur (37) warga Mangga Besar pedagang rongsokan, sebagaimana ungkapan Mini, nur juga mengisahkan hal yang sama tentang program yang di banggakan pemerintah, dikatakan Nur, “ yang kaya di tunjang supaya menjadi lebih kaya, yang miskin di abaikan,’’ menyinggung program UKM pemerintah Kota Prabumulih, Nur menjelaskan, bahwasanya mereka secara berkelompok pernah mengajukan, namun nihil dengan alasan yang tidak masuk akal bagi mereka yang  minim akan pengetahuan tentang prosedur pemerintah.
Terpisah, senada juga dikatakan sakdiah (58) warga Jl.Kapten Abdullah kelurahan Prabu Jaya, yang tadinya mempunyai usaha ternak ikan skala kecil, ibu tiga anak ini mengatakan bahwa dirinya juga pernah mengajukan program pembuatan kolam kepada dinas pertanian untuk pembuatan kolam ikan karena menurut informasi pemerintah membantu bagi masyarakat yang amu berusaha, namun pengajuan yang di ajukannya nihil dengan alasan pemerintah hanya mau membantu dengan skala yang besar yang tentunya bagi mereka yang keterbatasan lahan dan modal nihil akan hal tersebut. >> Alex

Related posts