Tingkat Bencana Masih Tinggi, TAGANA Dilatih

Sukabumi, (MR)
Angka bencana alam di wilayah Kota Sukabumi masih tinggi. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) mencatat hingga akhir Agustus 2015,  jumlah kejadian bencana  di Kota Sukabumi mencapai 40 kasus. “Sebagian besar bencana tanah longsor dan rumah ambruk,” kata Kepala Dinsosnakertrans Kota Sukabumi, Deden Solehudin, di ruang kerjanya, Jumat (28/8).

Namun, kata dia, angka tersebut menurun jika dibanding tahun lalu. Pada tahun 2014, bencana alam termasuk kebakaran dan rumah ambruk mencapai 93 kasus. “Alhamdullilah mengalami penurunan jika dibandingkan kejadian bencana tahun 2014,” ujarnya.

Dikatakan, tingginya kasus rumah ambruk dipengaruhi kontruksi bangunan yang kurang baik dan  posisi bangunan yang berada di bantaran  sungai. Kondisi tanah di lokais tersebut labil sehingga rawan longsor dan rumah ambruk. “Ini yang jadi perhatian agar tingkat bencana bisa dikurangi,” katanya.

Diungkapkannya, ada tiga wilayah kelurahan rawan bencana, yakni  kelurahan Karang Tengah, Cisarua dan kelurahan Subang Jaya. Jika dilihat dari susut geografis, daerah ini berstruktur tanah yang cukup labil. Bukan berarti wilayah lain tidak berpotensi, namun tidak serawan tiga wilayah tersebut. “Untuk mengantisipasi adanya kejadian bencana, beberapa waktu lalu kami melakukan kegiatan pemantapan dan pemahaman penanggulangan bencana bagi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kota Sukabumi Tahun 2015,” jelanya.

Kegiatan tersebut untuk mempersiapkan agar TAGANA siap terjun dalam kondisi darurat. Kegiatan tersebut juga untuk meningkatkan kemampuan para anggatanya dalam bertindak dalam penanganan jika terjadi bencana alam. Mereka dilatih baik teori dan praktek, serta pembekalan menangani bencana. “Pelatihan ini juga sebagai antisipasi menghadapi musim penghujan.  Dikhawatirkan, bila musim penghujan tiba struktur tanah akan bergeser dan mengakibatkan bencana alam,” jelasnya. >>Lelly

Related posts