Sekolah Adiwiyata SMPN 1 Jogonalan Klaten Siap Mensukseskan UNBK 2017

Klaten, (MR)
BAGI keluarga besar SMPN 1 Jogonalan Klaten, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) kali ini tentu akan terasa lebih istimewa.  Betapa tidak,  karena pada tahun inilah untuk pertama kalinya sekolah dapat melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara mandiri.  Ini berarti, peserta didik tidak perlu lagi menumpang ujian di SMA/SMK yang ada di wilayah Kabupaten Klaten.

Menurut Kepala SMPN 1 Jogonalan Klaten, Drs Suparmo, M.M. pelaksanaan UNBK tahun ini akan diikuti oleh sekitar 350 siswa dan  akan di dilaksanakan dalam tiga sesi.  Untuk menunjang kelancaran ujian, pihaknya telah menyiapkan 4 ruang laboratorium komputer dengan fasilitas 120 unit komputer dan laptop serta 5 buah server.

Selain itu,  untuk mengantisipasi adanya gangguan arus listrik (listrik padam) saat pelaksanaan ujian, sebuah generator set (genset) juga sudah disiapkan.  Pihaknya juga sudah memberikan pembekalan teknis kepada para teknisi  untuk mengantisipasi terjadinya gangguan koneksi internet dan jaringan.

Kepada siswa kelas IX  yang akan mengikuti ujian, pihak sekolah juga sudah memberikan pembekalan berupa sosialisasi hingga menggelar tiga kali simulasi UNBK (tryout).  Dengan demikian diharapkan pada waktu pelaksanaannya siswa  sudah terbiasa mengerjakan soal-soal ujian yang berbasis IT.

Saat menyambangi sekolah yang tahun lalu telah mendapatkan  penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional tahun 2016,  Media Rakyat (MR) juga diberi kesempatan melihat pelaksanaan tryout   yang  tengah berlangsung.  Pada kesempatan itu, kepala sekolah dan guru SMPN 1 Jogonalan Klaten juga mau secara terbuka menjelaskan tentang kiat sekolah untuk mampu menyelenggarakan UNBK secara mandiri meski dengan anggaran yang terbatas.

“Saya mewajibkan tiap guru menyumbang 1 unit laptop untuk sekolah,   dengan jumlah guru yang ada maka dapat terkumpul 50 unit laptop,” ujar Suparmo

“Sementara untuk guru yang mendapatkan uang sertifikasi juga diharuskan menyumbang Rp 1juta,” lanjutnya
Selain sumbangan yang berasal dari dewan guru, pengadaan komputer juga berasal dari alumni yang masih peduli dengan SMPN 1 Jogonalan Klaten. Selain itu, pihak sekolah juga telah menerima hibah komputer dari komite sekolah melalui sumbangan yang dikumpulkan dari orang tua siswa.  Sumbangan tersebut sifatnya sukarela dan tidak mengikat bagi orang tua siswa.

Dari sumbangan yang terkumpul  tersebut, kini sekolah telah memiliki 120 unit komputer dan laptop dari sebelumnya yang hanya 30 unit saja.

Salah seorang guru, Joko Riyanto menceritakan bagaimana kepala sekolah mau rela berkorban demi suksesnya UNBK di SMPN 1 Jogonalan Klaten ini.   Menurutnya, uang pribadi kepala sekolah yang sudah dipakai sebesar Rp 40juta digunakan untuk pengadaan sarana pendukung lain seperti pembelian kabel instalasi komputer dengan kualitas terbaik dan server yang total berharga Rp 75jutaan.

“Bahkan sampai sekarang sekolah masih belum bisa mengembalikan uang milik pak kepala sekolah,” ujar Joko Riyanto.

Menurutnya, kewajiban menyumbang laptop tersebut dibuat dalam surat pernyataan yang dibuat oleh masing-masing guru sekolah. Hal itu menunjukkan bahwa pihak sekolah sangat serius mendukung program pemerintah melalui pelaksanaan UNBK.

Kepala sekolah SMPN  1 Jogonalan Klaten mengatakan,  bahwa dirinya dan dewan guru sangat mendukung pelaksanaan UNBK karena dari situlah ada investasi kejujuran yang sangat mahal harganya,  Dengan UNBK, siswa diajak bersikap jujur kepada diri sendiri, karena dengan ujian yang berbasis IT ini mereka tidak mungkin bisa mencontek meski dengan teman disebelahnya.  Nilai-nilai kejujuran inilah yang perlu dikembangkan dan bernilai mahal bagi generasi penerus bangsa.

Terobosan positif ala Suparmo dengan merangkul semua pihak yang peduli dengan kemajuan dunia pendidikan kini telah membuahkan hasil.  Ratusan komputer dan laptop kini telah tertata rapi dalam 4 ruang kelas dan siap menyambut peserta UNBK mandiri yang kini tinggal menghitung hari.

“Bila pemerintah saja sudah begitu baik kepada guru melalui pemberian uang sertifikasi, maka kini saatnya guru membalas semua kebaikan itu dengan cara mendukung program pemerintah secara total.” ujar Suparmo mengakhiri pembicaraan siang itu. >>R. Koos_t

Related posts