Natuna, (MR)
Menindak lanjuti Pemberitaan Media Rakyat berjudul, Upah Murah, Proyek Besar Tak sesuai bestek, membuat Lembaga swadaya masyarakat, LSM FPWTR (Forum Peduli Warga Trans Natuna), angkat bicara. Ditengah kesibukannya, Nurohman, menegaskan, agar kontraktor segera memperbaiki pekerjaan dan tidak main-main. Dari pengamatan dilapangan, para pekerja, hanya memberi pasir didekat sambungan saja, lainnya tidak. Untuk itu Ia meminta supaya piva itu dibongkar kembali, dan dialasi dengan pasir, agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jangan korbankan warga Batubi, hanya untuk mendapatkan keuntungan besar. Ini namanya “korupsi”tegas Nurohman.
Diakui, pekerjaan penanaman pipa saluran air bersih di desa Batubi, sudah rampung, namun dibalik kesuksesan itu, menyimpan sebuah “dusta” , kepada masyarakat Natuna khususnya desa batubi. Kalau memang harus dilapisi pasir, baru ditanam, mengapa tidak dilakukan, Kemana konsultan pengawas, apa mau makan gaji buta, atau mau main api.
“Kita ada bukti dokumen penana man, jangan sampai hal ini Kami laporkan ucap Nurohman. “Saya dengar upah penanaman hanya Rp 3000/meter sangat murah.Tidak sesuai dengan biaya hidup di Natuna, sementara kedalaman dan lebar 1 meter lebih. Harus diakui, Ketua FPWTR, keberaniannya tidak perlu diragukan. LSM yang dia pimpin laporannya sampai kepusat. Berbagai stampel dari aparat penegak hukum mulai dari Kajagung, Kapolri Hingga KPK ada padanya, Itu merupakan bukti kuat. Bahkan Dirinya pernah menyoroti menteri kehutanan, Ms Kaban ketika menginjakkan kaki di Natuna. Untuk itu diminta kepada pihak kontraktor sesegera mungkin melakukan perbaikan, pintanya.
Perlu diketahui, Proyek sarana air bersih di Kabupaten Natuna, sejak dulu “bermasalah”. Bahkan salah satu paket tak berpungsi di Sabang mawang Pulau Tiga, telah memakan korban, akibatnya, kontraktor dan kasatker Paulus, harus rela menerima gelar terdakwa , dan harus dikrengkeng dalam penjara.Seharusnya dari kejadian ini, pengganti Kastker, harus lebih waspada, dan teliti dalam setiap pekerjaan. Bukan sebaliknya. Jika permasalahan penanaman pipa ini dibiarkan, bukan tidak mungkin, bakal senasib dengan senior terdahulunya.
Hasil investigasi terbaru dilapangan, pemenang tender pekerjaan, optimalisasi SPAM IKK, di Kecamatan Bunguran Barat, di kerjakan PT Bangun Putra Bakti. Dengan nilai kontrak, 5.987.368.000, konsultan Pegawas Putri Siantan, ditengarai tidak sesuai “bestek”. Hal itu diperkuat dari pengakuan ketua LSM FPWTR Nurohman, yang melihat secara langsung penanaman pipa. Para pekerja, langsung menanam pipa tanpa melapisinya dengan pasir. Hingga berita kedua ini diturunkan belum ada jawaban resmi baik dari Pengguna anggaran maupun kontraktor dan konsultan pengawas, padahal informasi diterima media rakyat, Kasatker bersama PPK turun ke Natuna untuk melakukan pengecekan. >>Roy
