SIANG kamis pekan lalu, suasana di Desa Sabang mawang Balai, tidak seperti biasanya. Sejumlah masyarakat berkumpul, di salah halaman, yang telah dipasang tenda dan bangku. Meski hujan rintik-rintik, namun antusias warga sangat tinggi. Muktaruddin, salah satu tokoh Pemuda Balai, meminta wartawan Koran ini beserta rekannya, untuk menjumpai seseorang di rumahnya. Ia kecewa dengan Pekerjaan paket air bersih, senilai Rp.1,7 millyar, tidak bermamfaat, dan terkesan dikerjakan asal-asalan.
Menurut tokoh Pemuda Balai ini, proyek tahun 2011, pekerjaan baru selesai maret 2013. Sampai saat ini, belum ada serah terima, kepada Pemerintah setempat, apakah benar sudah sele-sai atau belum katanya memulai pembicaraan. Rasa kecewa sangat jelas terlihat diraut wajahnya. Kemudian Dia katakan, pihak rekanan, saat memulai pekerjaan datang nyelonong, pulang main kabur. Sampai saat ini kami warga Balai, belum dapat menikmati air bersih yang nota benenya bernilai Rp.1,7 millyar, Pada hal sumber air di hulu besar dan cukup untuk kebutuhan warga disini. Namun karena pihak kontraktor melakukan pekerjaan asal-asalan saja. Dana Rp.1,7 M seharusnya dapat dinikmati masyarakat jadi sia-sia. Dalam melakukan pekerjaan pihak rekanan hanya membuat tembok kecil, dihulu, bukan bak penampungan, itupun bocor. Sehingga debit air tidak sepenuhnya masuk ke pipa, Kita juga tidak tau apakah pekerjaan sesuai dengan gambar atau tidak.
Persoalan ini, sudah berulang-ulang kami konplin, tapi tidak direspon, bahkan SPK (Surat Perintah Kerja), serta gambar, tidak mau menunjukkan apalagi melapor kepada Pemerintah setempat, terkesan ada yang disembunyikan. Kepada Wakil Rakyat, Hal ini juga sudah kita sampaikan kepada Pak Marzuni, Anggota DPRD Natuna. Sebahagian kecil data dan photo sudah diminta, namun sampai hari ini, senyap-senyap saja, kesalnya. Kasihan masyarakat disini, meski Natuna kaya akan APBD, air bersih pun harus mikul.
Hal senada dikatakan oleh, Said Tarmizi. Tokoh masyarakat Desa Sabang Mawang Barat ini, berharap Pemerintah peduli terhadap setiap pembangunan di pelosok Desa. Kita tidak menginginkan sebuah pembangunan, jika mafaatnya tidak ada. Proyek air bersih sekitar Rp. 1,7 millyar, tidak ada gunanya sama sekali. Anggaran sebesar itu hanya terbuang gitu aja. Selain bak penampung “bermasalah” sejumlah pipa induk, dipasang bergelantungan, tanpa, diberi penyanggah yang kokoh, sehingga, disetiap sambungan, bocor.
Anehnya lagi, pihak rekanan telah menklaim proyek ini selesai, pada hal menurut Dia belum. Kami juga tidak tau PT apa yang mengerjakan, karena sejak mereka memulai pekerjaan, main nyelonong saja, tidak ada basa-basi kepada Pemerintah setempat, katanya. Kalau dokumen berupa photo hasil pekerjaan, kita ada, soalnya masyarakat sudah sepakat, meminta Kades Balai, berangkat ke Provinsi agar pekerjaan proyek air bersih di Pulau 3 segera diselesaikan, paparnya sambil meminta Staf desa memberikan photo-photo hasil pekerjaan.
Kalau sumber air tidak perlu dikawatirkan, Cuma cara kerja pihak rekanan, tampaknya asal-asalan, sebab, bak penampungnya, hanya dibuat tembok kecil aja, itupun bocor dari bawah. Sehingga air tidak masuk semuanya ke pipa induk. Selain itu penyambungan pipa kemasyarakat sebagian tidak sampai, alasannya perencanaan tidak sampai kesana. Pada hal saat mereka melakukan pengukuran, pemasangan pipa sampai kerumah-rumah warga. Namun demikian coba Tanya Pak camat mana tau ada laporan sarannya.
Camat Pulau tiga Sawal SE, ketika dikonfirmasi terkait persoalan proyek air bersih senilai Rp.1,7 millyar, mengatakan tidak ada sedikit pun laporan masuk terkait pekerjaan itu. Mereka datang main nyelonong, dan pergi begitu aja. Sampai saat ini belum ada laporan, maupun penyerahan.
Lain halnya dengan Wakil Ketua BPD Balai, Secara blak-blakan Ia mengaku mengetahui semua kronologis pekerjaan. Ia mengakui, proyek air bersih senilai Rp.1,7 millyar lebih ini, diusulkan sejak tahun 2005, seiring perjalanan baru dapat tahun 2011. Saat memulai pekerjaan, Saya Tanya mana papan proyek, dan berapa kedalaman penanaman pipanya, namun pihak rekanan tak bisa jawab. Kita sudah coba meminta gambar namun tidak dikasih. Akhirnya, melalui konsultan pengawas, penanaman pipa maksimal 30×100, minimal 30×80, alasannya, bukit ini penuh dengan batu-batuan, katanya. Namun dalam proses penanaman pipa, ada kejanggalan. Pipa-pipa tersebut, separoh terbuat dari paralon, separoh lagi dari besi. Saat hal itu dipertanyakan kepada pihak rekanan, katanya ada penambahan ukuran, 800 meter sehingga sebahagian pakai pipa paralon.
Faktanya, pada saat pengusulan, pipa terbuat dari besi, Padahal dalam perencanaan sudah jelas diukur lebih dulu, katanya. Pemasangan pipa terkesan asal-asalan, terbukti, pipa tidak disanggah dengan baik, sehingga pipa bengkok dan sambungan banyak bocor. Terkait papan plang, Saya bawa Ketua BPD ke sana, barulah papan proyek dipasang itupun hanya 2 hari saja. Mengenai pemenang proyek, saya ingat betul, PT RESTU Neri, sebab, saat pengerjaan, kita juga ada kegiatan disana, jadi lihat terus, paparnya. Kita berharap proyek air bersih di Pulai Tiga, diusut sampai tuntas, sebab terindikasi ada pihak-pihak yang bermain didalamnya, untuk mendapatkan untung besar, sehingga pekerjaan sembaraut.
Wakil Bupati Natuna Imalko, saat dimintai komentarnya, usai melakukan kunjungan kerja ke Pulau tiga, mengatakan, tujuan kunjungan kerja, untuk menampung aspirasi masyarakat. Dengan adanya pertemuan ini, kita tau, apa saja keluhan masyarakat. Menyangkut soal air bersih, Ia menyayangkan sikap Pemerintah provinsi tidak ada kordinasi. Sehingga pihak rekanan seenaknya saja melakukan pekerjaan.
Seharusnya jika ada paket proyek di Daerah, tolong dikoordinasikan kepada Pemerintah setempat, agar kami dapat mengawasinya. Kalau sekarang, anggaran Rp.1,7 millyar sia-sia saja tak ada mamfaat. Sesuai pungsinya, Saya sebagai Wabub melakukan pengawasan, namun terkadang serba salah. Contohnya paket pekerjaan proyek air minum di pulau Tiga, Kita bilang belum siap, tapi provinsi bilang sudah, ini jadi dilemma.
Kita minta kedepan, agar Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi kepada Daerah jika ada Paket pekerjaan, sehingga dapat kita awasi. Terkait permasalahan ini, Saya telah tugaskan Kadis PU untuk koordinasi dengan pihak terkait, apakah paket ini sudah selesai atau belum, sebab kita mau campur tangan takut nanti ada masalah, katanya.
Tempat terpisah Ketua LSM Gebuki, (Gerakan Berantas Korupsi) Kuncus Simatupang, ketika dikonfirmasi lewat telepon selulernya mengatakan, Proyek air bersih milik Kasatker SPAM, sudah sering bermasalah, namun sampai hari ini belum ada tindakan nyata dari pihak aparat penegak hukum. Sebelumnya, Pihaknya pernah melaporkan kasus yang sama kepada Kajati senilai Rp. 7 millyar, tapi sampai hari ini tidak ada kejelasan kepada public. Kita takut ada dugaan oknum Kajati ikut bermain, sehingga, laporan ini dipeti kemaskan. Terkait laporan itu, kita juga sudah dipanggil dan memberi keterangan dan bukti, namun hasilnya nihil. Oleh karena itu, Dia minta agar aparat penengak hukum, mau turun kelapangan memastikan apakah benar ada indikasi korupsi, dalam proyek air bersih di Pulau Tiga, katanya.
Hasil investigasi dilapangan, membenarkan, proyek air bersih milik Kasatker SPAM, provinsi kepri, “beraroma korupsi” Dari photo kegiatan, sudah jelas pihak rekanan melakukan pekerjaan asal jadi, demi mencari keuntungan yang lebih besar, artinya tidak sesuai “spek”. Disisi lain, paket proyek dari dana DAK Pusat ini, seharusnya selesai Desember 2011, namun pekerjaan baru selesai bulan maret 2012. Artinya ada “persekongkolan” pihak pengguna anggaran, dengan kontraktor. Hingga berita ini diturunkan belum ada satupun pihak yang berkompeten didalamnya untuk dapat dihubungi terkait pemberitaan ini. Konsultan pengawas Sopyan, melalui no 0821 366 000 89, ketika dihubungi lewat sms, tidak ada tanggapan. >> Roy

