Pemprov Jatim Segera Realisasikan Kawasan Terpadu Kayu

Jawa Timur (MR)

Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Timur segera merealisasikan pembangunan kawasan terpadu pengolahan kayu di Probolinggo di lahan seluas 15 hektare. Hal ini sebagai untuk meningkatkan kinerja industri perkayuan.

“Sebelumnya, rencana tersebut sempat terkatung-katung dan tidak ada kejelasan sejak digulirkan pada tahun 2009. Awalnya, rencana tersebut hanya dengan mendirikan pusat atau terminal kayu di Gresik atau Lamongan. Dengan bergulirnya waktu, akhirnya disepakati pendirian kawasan terpadu industri pengolahan kayu di Mayangan Probolinggo,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Budi Setiawan, Surabaya, Jumat (23/9).

Kawasan tersebut, lanjut Budi, akan ada terminal kayu dan industri pengolahannya sekalian. Dengan demikian, kayu yang keluar dari kawasan tersebut tidak berupa kayu gelondongan akan tetapi sudah diolah menjadi kayu setengah jadi.

“Saat ini masih dalam proses pembahasan. Mulai dari berapa investasi yang dibutuhkan hingga bagaimana modelnya nanti. Diperkirakan pembangunan bakal mulai dilakukan pada tahun 2012 hingga 2015,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan Disperindag Jatim, Soeradi menambahkan, terkait investasi, ada kesepakatan awal bahwa dalam pembangunan kawasan tersebut, pemerintah pusat akan membantu biaya study, Kementerian Perindustrian berjanji akan membantu pengadaan mesin sementara Pemprov Jatim akan membiayai pembangunan gedung.

Untuk industri pengolahannya diharapkan dari pihak swasta ada yang tertarik dan mau menanamkan investasi di sini. Sebab, potensi industri mebel dan olahan kayu lainnya di Jatim cukup besar,” tekannya.

Pada tahun 2010, jumlah unit usaha mebel di Jatim mencapai 83.477 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 302.468 orang. Sementara nilai produksinya mencapai Rp 43.367 miliar dan bisa menyerap investasi sebesar Rp12.862 miliar.

Walaupun ekspor industri pengolahan kayu dalam empat tahun terakhir mengalami penurunan, namun pada tahun 2010 kembali melonjak. Pada tahun 2010, realisasi ekspor industri pengolahan kayu mencapai 1,154 miliar dollar AS, naik 19,36% dari posisi tahun 2009 yang mencapai Rp 967,21 juta.

“Bahkan impor pengolahan kayu pada tahun 2010 naik cukup besar, mencapai 39,79%. Dari realisasi 2009 sebesar 60,26 juta dollar AS menjadi 84,219 juta dollar AS. Ini menunjukkan sebenarnya pasar produk olahan kayu di Jatim masih sangat besar dan belum jenuh,” tegasnya. (gc/hs)

 

Related posts