Pembangunan TOKMA Tetap Berlanjut, Warga Pantura Kembali Geruduk Kantor Camat Pamanukan

Subang, (MR)
Puluhan warga pantura yang terdiri dari sejumlah LSM dan Ormas pada Kamis (2/3) lalu kembali mendatangi Kantor Camat Pamanukan, mereka yang tergabung dalam Aliansi Ormas dan LSM Subang Pantura ini merasa geram karena pembangunan Toko Modern TOKMA di Desa Rancasari Kec. Pamanukan masih tetap berlanjut, padahal pembangunan tersebut belum berijin.

Aksi warga yang terdiri dari Ormas Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih, LSM LAPAS, KPMP, Bentar Pantura, dan LSM Protes ini disambut oleh camat Kec. Pamanukan bersama Jajaran Polsek Pamanukan.

Dalam aksi yang kesekian kalinya ini, mereka mendesak agar TOKMA segera ditutup. “tunututan kami agar pembanguanan TOKMA segera dihentikan dan ditutup karena belum mengantongi ijin” kata Koordinator aksi sekaligus ketua Ormas Pemuda Pancasila, Alimin.

Alimin mengatakan, beberapa bulan yang lalu Badan Penanaman Modal dan Perijinan (BPMP) Kab. Subang telah mengeluarkan surat teguran yang ditujukan kepada pihak TOKMA agar menghentikan pembangunan, selain itu, BPMP juga mengeluarkan surat untuk Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Subang agar menindak bangunan tak berijin tersebut.

Tapi nyatanya sampai saat ini pembangunan TOKMA masih tetap berjalan lancar. Itu artinya surat dari BPMP dan Perda Kab. Subang sudah tidak diindahkan oleh pihak TOKMA, hal ini memunculkan tanda tanya besar, apakah Polisi Pamong Praja Kab. Subang tak punya nyali untuk menegakan Perda?

Sementara itu, Asmita selaku camat kec. Pamanukan kepada MR mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah Kab. Subang mengenai permasalahan ini. “saya kan tidak berwenang mengeluarkan ijin, yang jelas kami sudah berkoordinasi dengan Pemda, mungkin sekarangpun kami akan kembali melakukan koordinasi “ katanya singkat.

Setelah mendatangi kantor camat pamanukan, massa kemudian medatangi lokasi pembanguan dan melakukan orasi serta mendirikan tenda dan rencananya akan dimanfaatkan untuk berjualan sayuran dan buah-buahan sebagai simbol pedagang kecil yang tersisih. >>Asep/Saepudin

Related posts