Natuna, (MR)
Perhatian Pemerintah pusat terhadap Natuna ,emang tidak hanya bunga bunga tidur aja. Sejak dilantik Jadi Presiden, Dalam kurung 3 bulan, Presiden Ke 7 Jokowidodo, sudah 2 kali menginjakkan kakinya di Bumi Rantau Bertuah .
Bahkan dalam kunjungan tersebut, Presiden membawa sejumlah Menteri, serta melakukan Rapat diatas KRI. Perhatian Presiden terhadap Natuna, sudah seharusnya didukung semua lini. Mengingat Natuna berada di Garis poros Negara Asean.
Selain menyimpan SDA berlimpah, Kabupaten Yang berada Di Pulau Terdepan ,merupakan, Daerah perlintasan transportasi Negara lain. Oleh karenanya, Kabupaten Kaya akan Migas dan sumberdaya perikanan ini, jadi bahan rebutan.
Langkah cepat Pemerintah Pusat untuk, untuk menggalakkan pembangunan di segala lini sangat tepat. Penempatan pasukan TNI, untuk menjaga keamanan di daerah perbatasan,memang sangat penting, tetapi semua itu harus sejalan dengan peningkatan perekonomian di Daerah itu sendiri.
Selain melakukan Ratas, kunjungan kedua oleh Jokowi, untuk menghadiri HUT TNI AU, sekaligus peresmian pemakaian Bandara inclave Sivil. Tujuannya untuk mempermudah dan memperlancar jalur transportasi udara.
Sayangnya, sejak di resmikan, Oktober lalu, inclave Sivil ini belum dioperasikan. Padahal harapan masyarakat Natuna sangat lah besar terhadap bandara ini. Pasalnya selain bisa mengurangi harga tiket, para investor tidak akan ragu untuk datang melihat kondisi Natuna.kenyataannya harga tiket ke Natuna masih bertengger di atas 1 juta. Itupun sulit untuk didapat.
Oleh karena itu masyarakat Natuna berharap, kiranya pemakaian incalave Sivil segera dilakukan agar harga tiket dapat ditekan.” Saya rasa jika harga tiket ke Natuna berada dikisaran 500-700 an, Natuna bakal cepat berkembang.
Jarak tempuh hanya 55 minit untuk pesawat Boeing.dengan harga segitu dah lebih dari cukup, ucap Bejo. “Hal ini bisa dilakukan jika Pemerintah Pusat benar benar ingin membangun Natuna.
Baru baru ini Natuna Kecipratan Bus DAMRI dari Pemerintah Pusat, sebanyak 3 unit. Bus ini bisa diharapkan untuk melayani jasa transportasi, daerah terpencil, seperti Klarik, teluk Buton, dan selat lampa.
Namun berbagai sumber meragukan, pelayanan bisa maksimal. Sebab, sebelumnya juga pernah ada pelayanan transportasi seperti ini, tapi mati suri. Pertanyaannya, apakah pelayanan sama tapi beda,bisa berjalan dengan baik? Kita tunggu gebrakan Kadishub baru.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Natuna Iskandar DJ, mengaku bahwa tiga unit bus DAMRI ini merupakan bantuan dari, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat melalui Perusahaan umum (Perum) Damri.
Angkutan ini dinamakan bus Angkutan Perintis. Ia menepis isu miring, bahwa pelayanan DAMRI sama saja dengan Bus subsidi pemerintah sebelumnya. Soalnya bus tersebut dikelola langsung oleh perum DAMRI.
“Bus ini akan melayani beberapa rutte, diatur oleh Satuan Kerja (Satker) Damri. Perum Damri akan membuka rute Ranai-Selat Lampa dan Ranai-Teluk Buton. Sementara 1 unit lagi masih cadangan,” papar Iskandar.
Dia mengutarakan, Dishub Natuna juga mencoba melayani trayek Ranai-Batubi dan mungkin Ranai-Klarik untuk melayani masyarakat umum.
Terkait masalah anggaran operasional,semua ditanggung oleh Satker Damri, Dishub Natuna hanya sebatas pengawas kegiatan serta pengadaan bus saja, papar Iskandar DJ, saat dikonfirmasi lewat telepon seluler Sabtu (28/01). Untuk biaya tiket penumpang, pihaknya akan berbicara lebih jauh kepada Satker Damri berapa harga yang akan ditetapkan. >>Roy
