Muraz Tidak Bernafsu Menambahkan Sekolah UN CBT

poto walikota pantau UN di SMKN 1Sukabumi, (MR)
Walikota Sukabumi, HM.Muraz  menyatakan belum berfikir  mempersiapkan penambahan sekolah yang melaksanakan Ujian Nasional (UN) berbasis computer atau yang disebut dengan  Computer Based Test (CBT).  Fasilitas pendukung yang masih kurang menjadi pertimbangan alasan tersebut. “Saya belum pikirkan tahun depan ada penambahan seko lah yang melaksanakan UN CBT,”jelasnya disela-sela meninjau pelaksanan UN di SMKN 1 dan SMKN 3 Kota Sukabumi, Selasa (14/4).

Dikatakan, pelaksanaan UN berbasis CBT harus dilengkapi dengan kesiapan komputer. Masalahnya, masih banyak sekolah yang belum dilengkapi komputer sesuai dengan standar pelaksanaan UN berbasis komputer. “Kalau siswanya sudah siap, tapi alatnya yang belum siap. Kedepan, sekolah harus menyiapkan satu computer untuk satu siswa kalau mau ikut UN berbasis computer,” katanya.

Muraz  tidak ingin memaksakan sekolah yang belum siap untuk mengikuti UN berbasis komputer. Apalagi, diluncurkannya program tersebut tidak dibarengi dengan pendanaan dan peralatan pendukung. “Kalau Pemerintah Pusat punya program UN CBT, seharusnya dibarengi dengan kesiapan peralatannya dan pendanaannya. Jangan programnya diluncurkan tidak memperhatikan kesiapan daerah. Kalau  Kota Sukabumi saja  belum siap,  apalagi yang  daerah terpencil,” katanya.

Hal lain yang jadi pertimbangan, kata Muraz , kebijakan terhadap SMK dan  SMA akan  ditarik  oleh Pemerintah  Propinsi. Sehingga keputusan berada di pihak propinsi. “Kecuali  kalau Walikota Sukabumi mengajukan yudicial review,”ujarnya setengah bercanda.

Ketika ditanya keseriusannya, Muraz mengatakan  akan mempertimbangkan. “Kita lihat saja nanti,”katanya.

Sementara Kepala SMKN1 Kota Sukabumi, H. Saepurohman Udung mengatakan yang senada. Meski  dari sisi Informasi Teknologi (IT)  sudah siap, dia mengatakan  belum berencana untuk itu. “Bukan saya tidak mendukung CBT. Tapi, urgensi UN itu  adalah kehadiran dan kelulusan. Ketika CBT tidak mampu memperbaiki system, kami tidak antusias ikut UN berbasis computer,”katanya.

Udung mengatakan, seolah berada dipersimpangan jalan dalam menentukan sikap mengikuti UN berbasis computer. Meski fasilitas pendukung sudag mencukupi, pemenuhan computer di sekolah yang dipimpinnya bukan di ruang kelas,  tapi di bengkel. Setiap bengkel memiliki  satu ruangan computer, apalagi   pembelajaran dibe ngkel sudah berbasis IT dan menggunakan kabel serat optik. “Kalau UN CBT  maka semua komputer harus dipindahkan ke ruang tertentu, nah ini jadi persoalan.

Karena masing-masing komputer berbeda, ada yang fokusnya ke gambar ada yang lain, sehingga tingkat ketelitiannya berbeda,” jelasnya. Namun, meski  tahun depan ditunjuk kata dia  tidak masalah.  Bahkan  sekolahnya siap jika tahun ini  ditunjuk  sebagai sekolah yang  ikut UN berbasis computer. sebagai sebenarnya tahun ini juga kami siap. “Dari sisi  IT, hard ware dan computer tidak masalah. Hanya ketakutan kami  saja,”katanya. >>Lelly

Related posts