MTs Negeri 2 Kediri Jawa Timur Bekali Siswa dengan Riset

Prof. Dr. Phil. H.  Nurkholis Setiawan, M.A. (Direktur Pendidikan Madrasah)Kediri, (MR)
Mendengar kata riset tentu terasa asing apalagi untuk siswa setingkat SMP/MTs. Riset seakan-akan milik kalangan tertentu yakni mereka yang berpendidikan tinggi baik itu S1, S2 maupun S3. Bahkan sebagian besar mahasiswa kita masih banyak yang melakukan plagiat terhadap karya orang lain untuk maju ujian tugas akhir guna mendapatkan gelar tertentu. Karena itu sering kita dengar berita-berita tentang skripsi palsu, tesis aspal bahkan disertasi.
Indonesia termasuk negara yang tertinggal di bidang riset, urutan kita masih di bawah jauh dari beberapa negara tetangga misalnya Singapore, Malaysia, Thailand, Philipina dan lain-lain. Mungkin itulah di antara alasan kenapa presiden Joko Widodo mengambil keputusan memisahkan riset dengan Kemendikbud dan menggabungkannya dengan Perguruan tinggi.

Di sebuah Madrasah tepatnya MTs negeri 2 Kota Kediri kegiatan riset telah dikembangkan oleh lebih dari 10 tahun. Ratusan karya telah dihasilkan bahkan telah memberikan manfaat untuk umat manusia, misalnya karya berjudul “Pemanfaat Plethekan untuk Menurunkan Kadar Gula Darah pada Penderita Deabetes Melitus.” Karya Ilmiah yang ditulis oleh Nindy Kirana yang menjadi finalis Indonesia Science Project Olympiade yang diadaka PASUIAD Turki ini telah memberikan solusi bagi penderita DM terutama dari kalangan yang kurang mampu.

Karya ini hanya salah satu contoh, ungkap Nursalim kepala MTs Negeri 2 Kata Kediri ini. Lebih lanjut Nursalim menyampaikan setiap siswa kami mendapatkan bekal ilmu riset kemudia mereka melakukan kegiatan riset dengan di dampingan bapak/ibu gurunya. Rata-rata 70-80 karya ilmiah dihasilkan oleh siswa kami. Dari karya-karya ini kami ambil yang terbaik untuk kita kompetisikan di lingkup Madrasah. Dari kompetisi internal ini kami pilih 6 terbaik untuk kita ikutkan kompeti di tingkat provinsi dan Nasional, tetntu terus mendapatkan bimbingan guru dan fasilitas uji laboratorium.

Dalam kompetisi ilmiah yang bertajuk Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tingkat Nasional anak-anak harus berkompetisi dengan kakak-kakaknya di jenjang SMA karena kompetisi yang di adakan LIPI ini tidak membatasi jenjang sekolah akan tetapi di dasarkan usia yakni 12-18 tahun. Di tahun 2015 Pupoes Bhiworo dan M. Nurul Yaqin dengan Karya daya Astrigensia Getah Sono berhasil menyabet SPECIAL AWARD dan ini memperbaikan prestasi tahun sebelumnya yang hanya mampu menembus final atas nama Risma Nailul Amalia dengan Karya Lendir Bekicot (Atina Fullica) sebagai Obat alternatif Luka yang Murah dan Alami.

Ketika ditanya tentang karya siswanya pasca lomba, Nursalim mengatakan “ karya-karya ini kami hak ciptakan ke Kementerian Hukum dan Hak Azazii Manusia agar karya tersebut menjadi hak anak selamanya dan bisa dikembangkan ketika merea di sekolah lanjutan maupun di Perguruan Tinggi,” setidaknya sudah Sembilan karya yang sudah mendapatkan HKI dan akan disusul karya-karya lainnya, tungkasnya. >>Agus

Related posts