Kalender Rp1,3 Miliar Ulah Siapa?

Jakarta,(MR)

Belum tuntas kasus reno-vasi toilet dan ruang Banggar. Uang negara kembali dihambur-hamburkan untuk pengadaan kalender 2012 yang mencapai Rp1,3 miliar yang masuk dalam tahun anggaran 2011.

Menurut Ucok Sky Khadafi, Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), untuk 2012 ini setiap anggota DPR mendapatkan jatah 20 buah kalender. “Kalau 2010-2011 anggota DPR dapat satu kalender, dan di tahun 2012 dari data yang kita dapat tiap anggota berhak atas 20 kalen-der,” ujarnya, saat dihubungi wartawan, Senin.

Jika dihitung, setiap anggo-ta mendapatkan jatah kalender senilai Rp2,3 juta dari total 560 jumlah anggota dewan di Gedung DPR. Setiap halaman kalender dinding yang terpam-pang di ruang Komisi I itu terdapat wajah Marzuki Alie sebagai Ketua DPR yang tengah melakukan aktivitasnya di berbagai kegiatan.

Pengadaan kalender ini tentu saja membuat gerah anggota dewan. Eva Kusuma Sundari dari Komisi III menilai kelakuan Sekjen yang menga-dakan proyek tersebut hanya membuat ulah dan memper-lemah kinerja anggota dewan tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.”Saya belum lihat kalendernya, tapi saya dapat info katanya itu muka Pak Marzuki semua, ya itu bisa dibilang kampanye terselubung. Atau bisa dikatakan ada penji-latan yang dilakukan Sekjen,” jelasnya.

Tambahnya, Sekjen seha-rusnya lebih mementingkan penguatan parlemen dengan memberikan tenaga ahli. Eva memberikan contoh jika diban-dingkan untuk kalender, dana sebesar itu bisa dipakai untuk mempekerjakan tenaga ahli 15 sampai 20 orang dalam satu tahun.

Dirinya tidak habis pikir jika memperhitungkan harga satuan kalender yang mencapai kurang Rp100.000 satu kalender. “Kalender kan kebutuhan pribadi. Kita bisa membeli sendiri. Ditambah harga yang tidak realistis,” pungkasnya.

Tidak hanya kalender, dalam anggaran 2012 pun Sekjen melakukan proyek pengadaan pengharum ruangan dengan menggerus uang negara senilai Rp1,59 miliar. Eva pun berko-mentar dengan harga seperti itu semua gedung area gedung DPR akan ditemui pengharum ruangan. “Saya tanya OB, ternyata pengharum ruangan tidak di semua tempat, hanya di toilet, ruang pimpinan dan lift. Saya merasa tidak mendapatkan manfaat dari adanya pengha-rum ruangan,” ujar politisi PDIP tersebut. >> Tedy Sutisna

Related posts