Jawa Timur, (MR)
Di Jawa timur menimnya industri pengelola kakao di keluhkan oleh petani kakao. Dengan meningkatnya produksi kakao tidak di imbangi oleh industri. Jatim masih kekurangan pabrik penghasil olahan kakao karena saat ini hanya ada satu yaitu PT. Tiga Sekawan yang ada di surabaya. Keberadaan satu pabrik ini tidak sebanding dengan produksi kakao Jatim.
Ada satu lagi pabrik pengelolahan kakao di Blitar. Namun pabrik tersebut belum di operasikan karena masih dalam tahapan pembangunan oleh gapoktan dengan investasi Rp 200 Juta. Di perkirakan dalam setahun kedepan pembangunannya selesai. Pabrik ini mampu mengolah kakao sekitar 10 ribu ton per tahun. Sekitar 60% kakao jatim di olah di luar provinsi, ke Tangerang Banten dan jawa barat, sisanya 40% di ekspor dalam bentuk biji.
Gapoktan sendiri mengundang investor untuk membangun pabrik pengelolahan kakao di jatim, memang sudah ada yang merespon namun realisasinya belum jelas. Produksi kakao tahun ini mengalami peningkatan bertambahnya luas areal tanam sehingga mendorong meningkatnya produksi.
Kelapa dinas perkebunan Syamsul Arifin mengatakan bahwa jatim sebagai penghasilan kakao yang cukup besar, masih kalah dengan sulawesi Tengah dan tenggara. Namun kualitas kakao jatim lebih baik di banding daerah lain dengan satu baik pengolahan kakao. Tidak maksimal menyerap kakao dari petani. Kakao jatim di olah di luar provinsi dan di ekspor dalam bentuk bijian ke eropa, khususnya di swiss disana ada pabriknya dan tidak tanaman kakao namun produk olahannya terkenal sementara jatim memiliki tanamannya (kakao) tapi hanya memiliki pabrik pengolah kakao.
Pemprov jatim ketika bekunjung ke eropa sudah melakukan penawaran ke investor asing untuk membangun pabrik pengelolah kakao di jatim untuk hasilnya memang masih belum ada namun sudah ada yang berjanji melakukan kenjungan ke jatim. >> Fika
