Kuningan, (MR) – Untuk mencapai target program 25 ribu ton kebutuhan ikan per tahun di Kabupaten Kuningan, pemda melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan akan mendorong masyarakat dalam mengintensifkan kolam–kolam ikan masyarakat, termasuk perairan umum, dan penangkapan untuk mendukung swasembada ikan pada tahun 2022.
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Perikanan Kabupaten Kuningan, Denny Rianto, Senin (11/09/2017). Ia mengatakan, pada tahun 2022 Kabupaten Kuningan untuk konsumsi ikannya harus terpenuhi oleh lokal. Dengan cara mengintensifkan kolam ikan masyarakat, perairan umum dan penangkapan, kebutuhan ikan yang per tahunnya mencapai 25 ribu ton insya Allah terpenuhi. Ikan air tawar jenis lele, nila, gurami dan mas, kalau melihat data yang kami miliki itu mencapai 24,5 ribu ton per kapita per tahun.
Tapi kalau kita estimasi jumlah total kurang lebih ada 25 ribu ton per tahun untuk kebutuhan konsumsi masyarakat Kuningan. Dari produksi di wilayah kita itu hanya mampu mencapai 16.577 ton dari budidaya ikan, sedangkan dari penangkapan hanya 250 ton. Ikan yang baru terpenuhi itu totalnya baru 16.827 ton, sebetulnya 25 ribu itu sudah terpenuhi. Hanya saja sisanya 8.173 dipenuhi dari luar Kuningan,” ujar Denny Rianto. Denny menyebutkan, makanya untuk memenuhi kebutuhan ikan dari lokal pada tahun 2022, pemerintah harus mampu mendorong masyarakat agar mengintensifkan kolam ikan yang dimilikinya.
“Kami akan terus mendorong, sehingga setiap tahunnya harus selalu naik. Jadi dibudidaya itu kan kolam air tenang ada milik masyarakat, jaring apung, perairan umum besar, pemanfaatan situ maupun embung, kolam air deras, kolam mina padi, kolam terpal dan keramba bambu harus terus ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat,” kata Denny.
Selain itu masih Denny, baru- baru ini dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Kuningan melalui Bidang Perikanan telah berhasil mensosialisasikan jenis kolam ikan dengan teknologi terbaru yang dinamakan dengan Bioflok. Kolam ikan jenis ini dirasakan sangat efektif dan efisien untuk jenis ikan lele dan gurami.
Beberapa kelebihan kolam ikan dengan jenis Bioflok ini diantaranya, jumlah air yang dibutuhkan cukup sedikit (hanya sekali isi), jumlah pakan yang efisien, serta padat tebar (2500-3000 ekor/m2). “Hal ini dirasa sangat tepat untuk mendongkrak produktifitas budidaya ikan di kabupaten Kuningan”, jelas Denny Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Kuningan, Ukas Suharfaputra.
Menurutnya, kondisi perikanan di Kuningan tahun ini kurang menggembirakan. Penyebabnya, antara kebutuhan dengan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan itu belum seimbang. “Produksi ikan di wilayah kita mengalami defisit, ibaratnya yang dikonsumsi beras itu sekarung. Tetapi yang produksi-nya hanya sebaskom, sehingga mengalami kekurangan. Ini masalah, karena kami belum bisa memberikan kebutuhan sendiri, jadi sederhana dan saya tidak akan membuat program yang muluk–muluk, tetapi kami usahakan bagaimana pun caranya, yang penting kekurangan itu bisa terpenuhi,” ujar Ukas. >>Irwan
