Halmahera Barat, (MR)
Desa Pomadada kecamatan Loloda yang masuk dalam wilayah Kabupaten Halbar adalah desa Siaga bencana banjir. Dalam realita pembangunan Pomadada yang memiliki jumlah penduduk 742 jiwa dan 171 kepala keluarga masuk dalam kategori desa tertinggal.
Akses pembangunan bidang transportasi, pendidikan dan kesehatan serta ekonomi masih jauh dari harapan hingga berimplikasi pada sulitnya masyarakat desa ini mencapai titik kesejahteraan.
Diwawancarai Media Rakyat, Sekretaris Desa Pomadada Krolis Takawaludin menuturkan di bidang pendidikan anak-anak usia sekolah tidak bisa mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas. Bagaimana tidak untuk tenaga guru negeri saja yang dipekerjakan di SDN Pomadada Cuma 1 orang yang berstatus sebagai kepala sekolah. Selain satu orang kepala sekolah, ada juga tiga orang guru honor yang ternyata pendidikan mereka Cuma setingkat SMA. “mulanya ada 4 orang guru yang berstatus guru negeri, tapi karena tidak betah melaksanakan tugas, disini akhirnya memilih pindah. Di samping itu ada yang pergi tapi tidak kembali lagi” aku Krolis pada Media Rakyat.
Di bidang kesehatan pemkab telah membangun sarana kesehatan berupa Puskesmas tapi lagi-lagi sarana kesehatan ini senantiasa dililit permasalahan berupa stock obat-obatan yang minim. Kadang sampai berbulan-bulan lamanya pihak puskesmas harus menunggu suplay obat dari kabupaten. Jangan heran pula jika Desa Pomadada memiliki derajat kesehatan masyarakat yang terbilang memprihatinkan.
Menurut Krolis, masyarakat Pomadada bermata pencaharian sebagai petani kopra dan pala. Sebegitu sulitnya infrastruktur transportasi petani di sini lebih memilih menjual hasil produksinya ke Tobelo Halmahera Utara, ketimbang ke Jailolo Ibukota Kabupaten Halmahera Barat yang harus menggunakan jalur laut. “Untuk urusan ke Jailolo kita biasanya harus siapkan 2 juta kalau tidak resikonya kita tidak bisa pulang ke Desa.” Ungkapnya. Jaringan Telkomsel yang belum dibangun membuat akses informasi dan komunikasi masyarakat desa ini tidak terpenuhi. Sekdes Krolis juga menuturkan kemarin sudah ada survey untuk pembangunan tower namun belum dipastikan kapan akan ada realisasi, yang jelas semua masyarakat Pomadada sangat menantikan itu. Kebutuhan listrik pun masih menggunakan peralatan genset itupun Cuma 3 kepala keluarga yang notabenenya tergolong mampu. Toh yang lainnya masih mengandalkan Petromaks. >>Ateng
