Bupati Natuna: Nine Dash line, Alasan Cina Klaim Perairan Natuna?.

Natuna.(MR)-Berada di Tengah Negara Asean, Pulau Natuna jadi bahan pembicaraan dunia. Besarnya sumberdaya Alam, menjadikan laut Natuna Utara, jadi lahan empuk untuk melakukan ilegal fishing.Tidak ayal, kapal  Coast Guard China, berani memasuki  Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), guna mengawal nelayan mereka melakukan pencurian ikan.

Hal tersebut memantik kemarahan Pemerintah Indonesia.Meski dilakukan protes, namun negara tirai bambu itu tidak mengindahkannya.Terlebih perairan laut Natuna utara, merupakan jalur perdangangan Asia Fasipik, Ucap Bupati Natuna saat dikonfirmasi  03/12/2020

Klaim negara komunis ini  berdasarkan sembilan garis putus-putus disebut nine dash line.
Pemerintah Beijing mengklaim kalau kapal nelayan dan Coast Guard tak melanggar kedaulatan Indonesia.Dasar itu digunakan China sebagai pemilik Laut China Selatan .

Nine dash line, membentang luas sampai ke Provinsi Kepulauan Riau, dengan jaraknya ribuan kilometer  dari daratan utama China.

Wilayah ini melingkupi Kepulauan Paracel diklaim Vietnam dan Taiwan, hingga Kepulauan Spatly dimana China bersengketa dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Brunai Darussalam

Panjangnya nine dash line China hampir seluruh Laut China Selatan, membuat negara itu bersengketa dengan negara tetangga, termasuk Indonesia. Klaim sembilan garis putus- putus China berdampak hilangnya perairan Indonesia seluas  83.000 km2 atau 30 persen dari luas laut Indonesia di Natuna.ucap Hamid.

Luas laut negara-negara lain, seperti Filipina dan Malaysia, berkurang 80 persen, Vietnam 50 persen, dan Brunei 90 persen.China juga mengklaim perairan Natuna sebagai wilayah penangkapan ikan tradisional nelayannya.

Dengan peta resminya haijiang xian nei (batas garis laut teritorial), tidak mengakui zona ZEE, disepakati oleh PBB lewat UNLOS.
Sembilan garis putus-putus” di peta Tiongkok menunjukkan klaim maritimnya  termasuk perairan di lepas Kepulauan Natuna. Panel arbitrase internasional pada 2016 membatalkan garis tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah menegaskan kembali bahwa Jakarta tidak mengakui garis tersebut.Nine dash line  tergambar dalam haijiang xian nei, dibuat sejak pemerintahan Kuomintang atau nasionalis China pimpinan Chiang Kai Shek.

China menciptakan garis demarkasi  mereka sebut sebagai ‘eleven dash line’.Berdasarkan klaim ini China menguasai mayoritas Laut China Selatan termasuk Kepulauan Pratas.

Kemudian wilayah Macclesfield Bank serta Kepulauan Spratly dan Paracel,  didapat China dari Jepang usai Perang Dunia II.
Klaim ini tetap dipertahankan saat Partai Komunis menjadi penguasa China pada 1949.

Namun, pada 1953, pemerintah China mengeluarkan wilayah Teluk Tonkin dari peta ‘eleven-dash line’ buatan Kuomintang. Pemerintah Komunis menyederhanakan peta itu menjadi dash line, menjadi sasaran historys.

Secara geografis, Natuna berada di garis terdepan, berhadap langsung dengan beberapa negara tetangga.
Bahkan, lokasinya menjorok ke tengah Laut China Selatan  membuat rentan disengketakan.

Letaknya diapit oleh wilayah Semenanjung Malasya di Barat, dan Sarawak di Pulau Borneo.Lebih dekat dengan Malaysia secara geografis, kenapa Natuna dimasukkan dalam teritori Indonesia?

Kepulauan Natuna dengan tujuh pulau di sekitarnya, pada abad ke-19 adalah wilayah Kesultanan Riau dan pada 18 Mei 1956 sudah didaftarkan sebagai milik Indonesia ke PBB.Cerita Natuna sampai ke tangan Indonesia memiliki catatan sejarah panjang.

Natuna terdiri dari beberapa pulau ini sempat jadi perebutan sengit antara dua kekuatan besar saat itu, Belanda dan Inggris, di awal kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara.Belanda memilih mendirikan pusat pertahanan dan pelabuhan di Malaka setelah sebelumnya menyingkirkan Portugis dari wilayah tersebut.

Sementara Inggris, lebih memilih Bengkulu di Pantai Timur Sumatera sebagai basisnya.Inggris juga membangun kantor dagang di Tanjungpinang untuk mengontrol perdagangan di kawasan Selat Malaka.

Konflik tak berkesudahan dan menimbulkan banyak kerugian di antara Inggris dan Belanda, mendorong keduanya melakukan perjanjian Anglo-Dutch Treaty pada tahun 1824 untuk membagi batas wilayah kekuasaan kolonialnya masing-masing.

Dalam perjanjian tertulis tersebut, batas-batas laut di Selat Malaka dan Laut China Selatan yang sebelumnya kabur ditetapkan secara tegas di antara kedua negara.Inggris mendapatkan wilayah di Utara dan Timur Selat Malaka yang meliputi Semenanjung Malaya dan Singapura.

Sementara bagian Selatan dan Barat selat jatuh ke tangan Belanda.Kawasan yang dimiliki Belanda antara lain Pulau Sumatera, Kepulauan Lingga dan Riau.Sebagai gantinya, Inggris juga hengkang dari Bengkulu.

Saat perjanjian itu dilakukan, bagian Utara Pulau Borneo masih dikuasai oleh Kesultanan Brunai.
Saat kerajaan tersebut mengalami kemunduran, Inggris mengambil alih wilayah tersebut.

Alasan ini  membuat Natuna jatuh ke Indonesia diapit dua wilayah utama Negeri Jiran. Setelah kemerdekaan Malaysia dari Inggris, wilayah tersebut terbagi menjadi dua  Sabah dan Sarawak.ucap Hamid

Sementara di sisi Selatan Kalimantan masuk Indonesia setelah merdeka, sebagai konsekuensi semua wilayah Hindia Belanda, termasuk Kepulauan Natuna. Dalam  Perang Dunia II, semua wilayah di Malaya dan Laut China Selatan dikuasai oleh militer Jepang.

Dalam kasus perselisihan di kawasan Laut China Selatan, Indonesia tak sendirian.Beijing bersengketa dengan enam negara sekaligus di Asia Tenggara .

Di luar negara ASEAN, China juga berseteru dengan Taiwan soal klaim di wilayah laut  membentang seluas 3 juta kilometer persegi/Roy.

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.