Manggar-Beltim, (MR)
Maraknya pemberitaan tentang arisan dan invetasi bodong DSP dalam beberapa kurun waktu terakhir mendapat perhatian khusus dari Bupati Belitung Timur (Beltim), Yuslih Ihza. Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Beltim, Ia mengaku prihatin dengan kondisi sosial dan ekonomi efek samping yang ditimbulkan.
“Dari minggu-minggu kemarin saya sudah dengar. Saya berharap sebenarnya ada penyelesaian terbaik bagi korban, kasihan mereka kan mayoritas warga kita,” kata Yuslih saat ditemui Diskominfo Beltim, di ruang kerjanya, Senin (6/2).
Yuslih turut menyesalkan kenapa korban sampai mudah percaya iming-iming dan janji yang diberikan oleh pemilik. Menurutnya bukanlah sesuatu yang wajar jika ada orang yang menawarkan investasi dengan keuntungan yang berlipat-lipat.
“Dak wajar itu, dak logis. Kalau saya dari pertama akan menolak, main saham saja dak bisa seperti itu. Agama pun melarang kalau kita menjual barang dengan mengambil keuntungan dua kali lipat,” ungkapnya.
Namun Ia menekankan tidak bisa semata-mata menyalahkan masyarakat. Semua kembali ke pola piker dan kondisi
ekonomi.
“Kalau soal ikut- dak ikut itu kembali ke kepercayaan dan keyakinan juga. Apalagi jika yang menawarkan investasi dari orang yang kita kenal,” ujar Yuslih.
Untuk itu, mantan Anggota DPRD Kepulaua Bangka-Belitung tersebut menekankan kepada orang terdekat korban atau pun masyarakat jangan terlalu memojokkan atau mem-bully korban yang sudah tertipu. Ia khawatir dengan efek samping yang ditimbulkan.
Terpisah Ketua DPRD Beltim, Tom Haryono Harun juga angkat bicara. Meski tak mengikuti terlalu jauh, Ia juga turut memantau situasi terkini terkait arisan bodong DSP.
“Aku prihatin. Dak habis piker aku. Ini kan jelas-jelas modus penipuan namun kenapa masih ada yang bisa tertipu,” ujarnya kepada Diskominfo Beltim, seusai acara Pelantikan Pejabat esselon II, Senin (6/2) .
Tom pun jadi teringat dengan kasus penipuan 20 tahun lalu, saat mucul invetasi bodong ‘tukang tahu’. Saat itu diungkapkannya yang menjadi korban mayoritas mantan pegawai PT Timah.
“Aku jadi ingat pas tahun 90-an awal, waktu banyak-banyaknya orang dapat duit tekejut dari PT Timah. Nah itu, hampir sama kaya ini, dulunya banyak tertipu invetasi ‘tukang tahu’, ini kayaknya terulang kembali,” ungkapnya. Tom pun menyatakan masih banyak investasi bisnis yang dapat dilakukan. Namun Ia tak memungkiri jika iming-iming keuntungan yang dijanjikan cukup menggiurkan.
“Gunakanlah akal sehat, kalau mau berbisnis. Memang kalau kembali ke pemikiran bukan hanya masyarakat biasa, kawan-kawan kita di DPRD ada juga yang jadi korban,” ungkap Tom. >>Tanwir
