Setiap tahun imigran gelap yang berlayar melintasi perairan Nusa Tenggara Timur tujuan Australia mencapai ribuan orang. “Apalagi di musim hujan, imigran yang melintas di perairan Nusa Tenggara Timur sangat banyak, tetapi hanya sedikit yang terdampar sebelum ditangkap,” tutur Kepala Imigrasi Kupang Silvester Sila Laba, Selasa.
Ada dua jalur pelayaran menuju Australia yakni melalui selat Rote antara Pulau Timor dan Rote, atau perairan di selatan Pulau Sumba, Sabu, hingga Rote. Di musim barat, perairan ini selalu bergelom-bang tinggi sehingga tak jarang perahu pengangkut imigran terseret gelombang hingga pesisir pantai.
Perahu imigran yang terdampar biasanya diawali kerusakan mesin atau menepi ke pulau terdekat karena kehabi-san bahan makanan. Begitu turun dari perahu, mereka lang-sung ditangkap aparat keama-nan. Sebaliknya, perahu yang lolos dari amukan gelombang selamat hingga perairan Australia sebelum ditangkap aparat keamanan negara itu.
Menurut Silvester, posisi Pulau Timor dan Rote yang berbatasan dengan Australia selalu menjadi daerah transit terakhir imigran setelah menem-puh perjalanan dengan pesa-wat udara dari sejumah daerah seperti Medan dan Surabaya. Pelayaran dari Rote ke Ashmore Reef di Australia selama 24 jam misalnya bernilai miliaran rupiah.
Jika berlayar dari Rote, seo-rang imigran membayar sekitar Rp25 juta kepada nakhoda. Adapun perahu tersebut wajib dibeli imigran yang dipatok antara Rp70 juta-Rp100 juta. Karena itu, menurut Jefri, jika satu perahu mengangkut 50 imigran, nakhoda dan anak buah kapal meraup keuntungan sebesar Rp1,250 miliar sekali berlayar.
Perahu dijual nelayan, se-dangkan nakhoda harus direk-rut sendiri oleh calo. Nakhoda harus orang yang berani mengambil risiko karena jika tertangkap, ia bakal menjalani hukum di penjara Australia dengan tuduhan menyelundup-kan manusia dan perahu dihan-curkan.
Silvester mencatat selama 2011 terjadi 13 penangkapan imigran terdampar berjumlah 429 orang. Jumlah itu meningkat dari tangkapan 2010 sebanyak 426 orang. Mereka berasal dari Iran, Irak, Pakistan, Aghanistan, Kuwait, Syria, Aljazair, Ethiopia, Sudan, Srilanka, dan Myanmar. “Imigran yang lolos sampai ke Australia lebih banyak lagi,” katanya.
Maraknya imigran gelap bertolak ke Australia, boleh dibilang telah menjelma menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Keuntungan yang lumayan besar dengan menjadi penye-lundup manusia atau menjadi penjual perahu telah mendo-rong arus imigran yang melint-asi daerah ini sulit dibendung.
Silvester bahkan mengakui sangat sulit memberantas prak-tek penyelundupan manusia ke Australia karena terorganisasi sangat rapi. Calo bekerja sangat rapi sehingga sulit ditangkap. “ Walaupun ada calo yang per-nah tertangkap dan dihukum. Begitu keluar penjara, ia kembali menjadi penyelundup imigran,” kata Silvester.
Satu-satunya langkah yang ditempuh untuk menghentikan penyelundupan imigran ialah Australia harus menutup pintu masuk bagi warga asing pencari suaka ke negara itu. Namun, langkah itu kemungkinan sulit terwujud karena Australia ter-masuk negara penjunjung hak asasi manusia dan demokrati-sasi di dunia. >> Moses Mone Kaka

