Bantuan CSR Pertamina Pusat Ditelan Bumi?

Natuna, (MR)
Empat tahun sudah berlalu, namun kenangan pahit itu masih melekat di hati Muhammad Said. Pasalnya janji manis yang diutarakan pihak Pertamina Pusat, akan memberikan bantuan 20 unit komputer, sampai saat ini tak jelas juntrungannya.

Rasa kesal itu memuncak, saat wartawan koran ini beserta rekannya, melakukan konfirmasi, di ruang kerjanya Selasa 03 Pebruari 2017.

Kepala sekolah SD 004 Ceruk itu mengisahkan pengalaman pahitnya. Sambil menengadahkan kepala keatas, Ia mulai mengingat ingat tentang sosok yang datang ke sekolah, untuk melak ukan survey, serta memberikan sejuta harapan ” palsu.”

Sebenarnya ada yang datang ke sekolah ini, menawarkan bakal ada bantuan komputer, asal persyaratan dipenuhi. Mereka datang dan telah melakukan peninjauan lokasi. Usai melakukan kunjungan, oleh utusan pihak pertamina, menyarankan agar segera menyiapkan barang penunjang untuk bi isa mendapatkan bantuan CSR, berupa 20 unit komputer.

Oleh karena itu ujar Said, kita segera menyiapkan bangku, meja komputer, karpet lantai, AC ruangan, total anggaran sekitar 40 juta. Tapi sampai hari ini, tidak ada kejelasan.

Anak anak kecewa. Fasitas dah siap, komputer hanya tinggal kenagan. “Semua sudah siap tapi tak jadi.” alasannya juga tidak tau. Karena pihak yang datang kesini, Hpnya tidak aktif lagi dan tak bisa di hubungi. Sementara dana pembelian pasilitas perlengkapan Kita ambil dari dana bos.

Bantuan ini sebenarnya program dari pertamina. Yang jadi pertanyaan, kenapa kami tidak dapat, sementara semua persyaratan sudah dipenuhi. Di SD limau manis mereka dapat.coba di tanya, mungkin tukang surpey orang yang sama.

Kami sudah berusaha menghubungi, sebab dalam proposal ada photo Permasalahan HP tak bisa dihubungi, ucap Sa’id, di Amini oleh, Sepril, salah satu guru kelas di SD Ceruk. Anggaran bantuan tahun 2012 pak ucap Sepril, sembari menunjukkan photo wajah dan no telepon pihak Pertamina Pusat yang datang melakukan survey.
Dulunya gedung itu sebagai perpustakaan. Sekarang jadi gudang, tak dapat dipakai lagi, karena banyak barang, yang dibeli. Seharusnya pihak pertamina memberitahu, apa kekurangan sehingga tak dapat bantuan CSR.

Ditambahkan Sepri, seharusnya mereka datang ke Kita jika tak siap tolong diberitahu, jadi Kita tak habis duit untuk beli barang. Edo inilah pihak yang harus bertanggung jawab, sebab Dia yang suruh Kita untuk mempersiapkan tempat. Lalu timbul pertanyaan, jangan jangan, bantuan ada tapi tidak sampai pada pemiliknya, perlu ditelusuri
Sementara itu Edo, tenaga pendamping desa ceruk, sekaligus utusan dari pihak Pertamina untuk melakukan survey lapangan, serta mendata sekolah yang berhak menerima bantuqn CSR, tidak saat di konfirmasi lewat nomor yang sama HP, aktif, namun tidak diangkat.

Berselang beberapa jam, Edo menelepon kembali, setelah ditanya duduk persoalannya, Edo mengaku hanya sebagai tenaga pendamping Desa, dan bertugas mendata dan membuat pengajuan proposal. Jika Bantuan CSR itu tidak terealisasi dari Pertamina Pusat, Saya juga tidak tahu. Sebab tugas Saya hanya mendata dan buat pengajuan saja ucapnya. Kalau mau lebih jelas tolong di tanya pihak Pertamina aja, kenapa bantuan itu tidak direalisasikan, sementara yang lain terima katannya.

Sementara itu, Kepala SD Limau manis Syafei, mengaku jika bantuan untuk sekolahnya terima 20 unit komputer. Namun yang melakukan survey keempatnya, pak Erwin. Kalau Pak Edo untuk Ceruk.

Proses penerimaan, Kita buat proposal, mereka survey, dan membeli sendiri barangnya. Pihak sekolah sifatnya hanya sebagai penerima. Masalah anggaran dikelola langsung oleh pihak Pertamina. Yang saya tau, untuk Kecamatan bunguran Timur laut, ada tiga tempat yang menerima. Ceruk, kalaga, limau manis. Masalah SD Ceruk tidak dapat Saya pun tak tau apa kendalanya. Apakah karena terlambat mengajukan atau tidak. Tapi jika tukang surpey tak dapat dihubungi, perlu diklarifikasi. >>Roy

Related posts