Halut, (MR)
Kurangnya pengawasan dari Bagian Kesra dan Perekonomian Pemkab Halut terkait penyaluran minyak tanah (mitan-red), membuat sejumlah warga di daerah Loloda Utara, tepatnya di desa Apulea selama hampir setahun tidak mendapat jatah mitan dan harus mencari di desa tetangga dengan harga yang tinggi yaitu Rp. 10 ribu per liter melebihi harga pangkalan. Kesulitan ini membuat Kepala Desa Apulea, Ayub Botara, melayangkan surat resmi ke Bagian Kesra Pemkab Halut dan meminta agar pihak Kesra segera melakukan investigasi terkait penyaluran mitan karena selama ini, pemilik pangkalan yang berada di desa Apulea, tidak menjual mitan di dalam desa tetapi menjual keluar dan tentu saja dengan harga tinggi.
Salah satu warga desa Apulea, Iksan Hamiru, yang sempat berbincang dengan media ini, beberapa waktu lalu, (13/04/17), menegaskan bahwa warga desa Apulea cukup menderita dengan ulah pemilik pangkalan mitan di desa Apulea, yaitu Yurgen Jini yang dengan seenaknya menjual jatah mitan warga desa Apulea keluar desa dengan harga yang cukup tinggi. Ulah pemilik pangkalan mitan ini membuat warga desanya harus mencari dan membeli mitan dengan harga yang menggigit leher yaitu Rp. 10 ribu per liter.
Iksan menambahkan bahwa pihaknya sudah beberapa kali melaporkan hal ini ke bagian Kesra dan Perekonomian Pemkab Halut namun sepertinya tidak ada tanggapan apa-apa entah dengan alasan apa. Karena itu, lewat pemberitahuan resmi dari Kepala Desa terkait persoalan tersebut, pihaknya meminta agar Bagian Kesra Pemkab Halut segera mengambil tindakan tegas dengan mencabut ijin pangkalan milik Yurgen Jini dan memberikan kepada warga lainnya yang bisa mengolah dengan rasa tanggung jawab sehingga warga desa tidak lagi mencari mitan di luar dengan harga yang cukup tinggi. >>Karl
