Gresik (MR)
Menurut ramalan cuaca BMKG bahwa musim kemarau terjadi sampai dengan bulan Oktober 2011, dalam musim kemarau akan berpengaruh pada debit sumber daya air, baik air tanah maupun air hujan, khususnya untuk daerah Kabupaten Gresik yang luas pertaniannya mencapai 36.000 hektar yang 80 persen adalah pertanian sistem tadah hujan.
Untuk mengantisipasi kemarau terhadap pertanian Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Gresik, Ir.Agus D. Waluyo mengatakan “Dalam musim kemarau petani sudah tahu persis apa yang harus dilakukan, tetapi dari pihak Dinas Pertanian menganjurkan kepada petani untuk tidak menanam padi lagi tetapi harus menanam palawija.
“Namun oleh karena saat ini cuaca tidak menentu, kadang-kadang mendung, kadang-kadang hujan walaupun intensitasnya tidak besar, membuat petani melakukan gambling jadi mereka menanam padi dan anggapan mereka dari pada tidak ditanami, ada hujan ya syukur, tidak ada hujan ya tetap tanam padi jika nanti terjadi kekeringan dan terjadi gagal panen, khan dibantu pemerintah, itulah anggapan mereka”, ujarnya
“Antipasi untuk pertanian wilayah utara dalam musim kemarau ini, kita menganjurkan kepada petani untuk menanam padi jenis Inpago (Intensifikasi padi gogo), karena wilayah utara mendapatkan air dari sungai Bengawan Solo”.jelasnya
“Sedang untuk persediaan padi di wilayah gresik cukup sam-pai dengan 6 bulan mendatang, karena dalam masa tanam dari bulan April sampai dengan bulan Juni plus sisa tanaman untuk MK 1, dalam satu tahun luas panen 60.000 hektar karena ada yang ditanami dua kali, kalau dihitung hasil kemaren dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni ditam-bah dengan tanaman yang masih berlanjut”. Ujarnya (gc/hs)
