SEMAKIN terkuaknya proyek pemba-ngunan Air bersih di Kecamatan Pulau tiga, tepatnya di desa Sabang Mawang Balai, jadi titik awal bagi aparat penengak hukum untuk melakukan pemeriksaan kepada sejumlah oknum yang terkait, didalamnya. Proyek air bersih dari dana DAK, “ditenggarai bermasalah, dan beraroma korupsi,” sehingga merugikan keuangan Negara. Hal itu terbukti, dari hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pihak rekanan. Meski pelaksanaan pekerjaan “amburadul” nampaknya pihak rekanan dan pengguna anggaran “kong kali kong” agar pencairan paket 1,7 millyar berjalan mulus.
Sampai saat ini belum ada informasi resmi dari pihak Kasatker PU provinsi, mengenai pemberitaan miring terhadap paket proyek air bersih. Paulus, disebut-sebut sebagai orang paling bertanggung jawab terhadap paket pembangunan air bersih di desa Sabang Mawang, bungkam seribu bahasa. Beberapa kali wartawan Koran ini berusaha meminta Kasatker agar bisa dikonfirmasi, baik lewat sms maupun telepon, hasilnya nihil. Kabar burung diterima, Paulus dekat dengan beberapa pejabat aparat hukum. Kemungkinan besar, paktor kedekatan inilah, yang buat Kasatker merasa diatas angin. Meski beberapa paket pekerjaan mengandung “aroma korupsi” Dirinya tidak gentar. Kendati demikian, butuh kejelasan pasti, terkait kabar ini.
Sementara itu, Bupati Natuna, Ilyas Sabli ketika dikonfirmasi disela-sela kunjungan kerja di kecamatan Pulau Tiga, berjanji akan segera menyurati Gubernur Kepri Muhammad Sani. Ia akan mempertanyakan paket proyek air bersih senilai 1,7 millyar, tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, karena pekerjaan tak jelas. Buat apa paket ini dibangun jika tidak ada mamfaatnya bagi masyarakat ujar Ilyas. Selain itu isi surat Saya meminta, kepada Gubernur, jika ada paket provinsi di Natuna, baik itu dana DAK, atau APBD provinsi, diharapkan adanya pemberitahuan kepada Pemerintah daerah maupun Pemerintah setempat, agar Pemkab bersama masyarakat dapat mengawasi pekerjaan.
Rumadi, salah satu anggota DPRD Kabupaten Natuna wilayah pemilihan davil II, pernah berjanji akan memberikan tanggapan kepada wartawan Koran ini. Tetapi hingga saat ini, lelaki berkulit gelap ini, tidak dapat berkomentar. Selaku anggota komisi II yang membidangi soal proyek, seharusnya Rumadi tampil didepan. Nyatanya jauh panggang dari api, Rumadi lebih mementingkan diri sendiri, dengan “heppy-heppy” ketimbang menanggapi keluhan warganya. Sangat disayangkan jika janji kampaye bertolak belakang dengan kenyataan.
Raja Marzuni, anggota DPRD Natuna, davil yang sama, juga bungkam. Meski bukan anggota komisi II, selaku penguasa wilayah di Kecamatan Pulau tiga, Dirinya mampu berbuat, agar paket air bersih di desa Sabang Mawang, dapat dimamfaatkan oleh masyarakat. Setidaknya berkoordinasi dengan DPRD provinsi. Pada hal masyarakat balai sudah mengadukan hal ini kepada Dirinya, bahkan beberapa dokumen penting sebagai bukti, kalau paket ini bermasalah telah sampai ditangannya. Namun harapan warga balai salah alamat, Ujar Muktaruddin dua edisi lalu.
Hal senada dikatakan oleh, Said Tarmizi. Tokoh masyarakat Desa Sabang Mawang Barat ini, berharap Pemerintah peduli terhadap setiap pembangunan di pelosok Desa. Kita tidak menginginkan sebuah pembangunan, jika mamfaatnya tidak ada. Proyek air bersih sekitar Rp.1,7 millyar, tidak ada gunanya sama sekali. Anggaran sebesar itu hanya terbuang gitu aja. Selain bak penampung “bermasalah” sejumlah pipa induk, dipasang bergelantungan, tanpa diberi penyanggah yang kokoh, sehingga, disetiap sambungan, bocor.
Anehnya lagi, pihak rekanan telah menklaim proyek ini selesai, pada hal menurut Dia belum. Kami juga tidak tau PT apa yang mengerjakan, karena sejak mereka memulai pekerjaan, main nyelonong aja, tidak ada basa-basi kepada Pemerintah setempat, katanya. Kalau dokumen berupa photo hasil pekerjaan, kita ada, soalnya masyarakat sudah sepakat, meminta Kades Balai, berangkat ke Provinsi agar pekerjaan proyek air bersih di Pulau 3 segera diselesaikan, paparnya sambil meminta Staf desa memberikan photo-photo hasil pekerjaan.
Wakil Ketua BPD Balai. Secara blak-blakan ia mengaku mengetahui semua kronologis pekerjaan. Ia mengakui, proyek air bersih senilai Rp1,7 millyar lebih ini, diusulkan sejak tahun 2005, seiring perjalanan baru dapat tahun 2011. Saat memulai pekerjaan, Saya Tanya mana papan proyek, dan berapa kedalaman penanaman pipanya, namun pihak rekanan tak bisa jawab. Kita sudah coba meminta gambar namun tidak dikasih. Akhirnya, melalui konsultan pengawas, penanaman pipa maksimal 30×100, minimal 30×80, alasannya, bukit ini penuh dengan batu-batuan, katanya. Namun dalam proses penanaman pipa, ada kejanggalan. Pipa-pipa tersebut, separoh terbuat dari paralon, separoh lagi dari besi. Saat hal itu dipertanyakan kepada pihak rekanan, katanya ada penambahan ukuran, 800 meter sehingga sebahagian pakai pipa paralon.
Faktanya, pada saat pengusulan, pipa terbuat dari besi, Padahal dalam perencanaan sudah jelas diukur lebih dulu, katanya. Pemasangan pipa terkesan asal-asalan, terbukti, pipa tidak disanggah dengan baik, sehingga pipa bengkok dan sambungan banyak bocor. Terkait papan plang, Saya bawa Ketua BPD ke sana, barulah papan proyek dipasang itupun hanya 2 hari saja. Mengenai pemenang proyek, saya ingat betul, PT RESTU Neri, sebab, saat pengerjaan, kita juga ada kegiatan disana, jadi lihat terus, paparnya. Kita berharap proyek air bersih di Pulai Tiga, diusut sampai tuntas, sebab terindikasi ada pihak-pihak yang bermain didalamnya, untuk mendapatkan untung besar, sehingga pekerjaan sembaraut.
Tempat terpisah Ketua LSM LAKI, Laskar Anti Korupsi Indonesia, Candra SH, dengan tegas meminta, agar “polemic” paket penyediaan, proyek air bersih di kecamatan Pulau Tiga Desa Sabang Mawang, segera diusut. Jika penyelesaian proyek ini ada keterlambatan, sudah jelas ada permaianan antara pihak rekanan dengan pengguna anggaran.
Kemudian, tidak adanya ajang mamfaat bagi masyarakat Sabang Mawang, sehingga paket pembangunan sarana air bersih, senilai 1,7 millyar terkesan. hambur-hamburkan uang rakyat. Dari beberapa pakta dan temuan dilapangan, pihak kontraktor dan rekanan “ bermain mata “ demi mencari keuntungan lebih besar, kata Candra. Ia meminta Aparat hukum segera turun tangan. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tidak akan berbuat jera para pelakunya. >> Roy

