Jejak Tionghoa Di Kota Hujan

Bogor adalah suatu kota di Jawa Barat dengan Populasi sekitar 6 Juta pada 2020 ini. Cukup bisa di bilang kota yang lumayan besar di Jawa Barat. Jika kita melihat beberapa ornament bangunan dan khas nuansa cina disana pasti kita bertanya-tanya, siapakah yang memulai itu semua…???
Banyak pendapat yang bilang kedatangan bangsa Tiongkok ke wilayah Jawa Barat sudah terjadi pada masa 414 Masehi, sekitar 1600 tahun lalu, walau itu tidak terbukti sah dan tak ada catatan sejarah. Konon warga ada yang mengatakan secara turun temurun pada jaman itu ada seorang Pendeta Buddha bernama Fa Hien terdampar di kerajaan Tarumanegara yang waktu itu masih Berjaya pada masa abad ke-4 hingga abad ke-7. Dan konon pendeta itu membangun sebuah arca atau patung Buddha pertama di tengah kebun, lalu seiring berjalannya waktu oleh warga lalu di bangun kelenteng yang sekarang terletak di Jalan surya kencana Bogor dengan nama Hok Tek Bio sekitar tahun 1872.
Banyak orang Bogor percaya bahwa suku Tionghoa yang Pertama menginjakkan ke Bogor adalah suku Hokkian yang konon berasal dari kawasan Fujian China, karena sesudahnya banyak Bahasa Khas Hokkian di tanah bogor, mereka juga berdagang di tanah sekitar seluas 7000 meter pada masanya, dan kemudian di kenal dengan kawasan Surya Kencana.
Pada kawasan Pulo Geulis yang jaraknya tidak jauh dari Suryakencana ada sebuah kelenteng bernama Pan Kho Bio yang di bangun pada masa 1619-1743, yang berarti mereka sudah banyak keberadaannya di Bogor saat itu. Mereka menjadi berkembang pesat saat itu karena terbukti timbulnya sekolah cina dikawasan itu, pusat keagamaan, hiburan dan menjadi pusat kuliner.
Hingga akhirnya kedatangan Belanda ke tanah jawa, kehidupan mereka teracak-acak oleh Bangsa Belanda dan pecahlah perang pada tahun 1740 yang konon amat dahsyat di Bogor hingga akhirnya mereka di kotak-kotakkan oleh Belanda. Mereka hanya tinggal dikawasan itu, berdekatan dengan suku sunda saat itu, lalu bangsa Arab di pisahkan letaknya oleh Belanda di tempat lain yaitu dekat kampung empang dan lolongok sekarang.
Beberapa dari mereka juga banyak mengisi di daerah lainnya akibat konflik tersebut, ada yang tinggal di kawasan Kemang, Parung, Cilengsi, Cibinong dan Ciampea hingga Lw liang Bogor Barat, semua tempat menjadi di penuhi warga Tioanghoa dan keturunan mereka terus menetap di tanah Jawa Barat. Mereka juga banyak mendirikan kelenteng di kawasan barunya itu sebagai sarana peribadatan.

Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali pada suatu Perayaan Capgomeh atau 15 hari setelah Imlek berlangsung sangat meriah di kawasan itu. Semua Bangsa Tionghoa yang berasal dari daerahnya seperti Cibinong, Ciampea dan lainnya kembali berkumpul dalam perayaan Capgomeh tersebut. Dan seiring berjalannya waktu Capgomeh juga bukan hanya milik bangsa Tionghoa tapi di ikuti oleh dari kebudayaan lainnya seperti dari sunda dan lainnya.
Tetapi pada Pemerintahan Presiden Suharto kehidupan warta Tionghoa kembali mendapatkan kecaman dan mereka merasakan kekurang nyamanan, karena pengaruh PKI pada tahun 1965, hingga mengakibatkan sekolah cina, hiburan cina seperti bioskop dan lainnya di larang, dan Capgomeh pun dilarang selama 32 tahun lamanya, kehidupan pedih dan perlakuan kepada mereka yang dianggap minoritas juga kembali mereka hadapi, tapi pada tahun 1998 walaupun Bogor tidak terkena dampak kerusuhan tapi beberapa dari mereka pasti merasakan cemas dan panik, setelah itu Era berubah dan kondisi kembali membaik, pada Pemerintahan Presiden Gusdur hingga sekarang, keberadaan Capgomeh kembali lagi dan bahkan oleh Walikota Bima Arya ikut diberdayakan.
Kebudayaan Tionghoa itu di lestarikan sebagai sarana pemersatu umat kerukunan bukan hanya suku Tionghoa tapi suku lainnya, dan bersifat sangat terbuka dan bisa di ikuti serta dihadiri siapa saja pada jaman sekarang. Bahkan mereka di fasilitasi karena jalanpun di tutup pada perayan tersebut, itulah bukti dari kekuatan kebersamaan dan persaudaraan dari suatu bangsa, mereka saling menghormati dan menghargai lewat karyanya pada festival tersebut. Tidak heran jika lambat laun keberadaan Festival Capgomeh juga dihadiri dan diliput Warga Asing.
Kini suku Tionghoa sudah bisa dikatakan tidak terpisahkan dari suku maupun budaya lokal lainnya di Indonesia, semuanya sudah keturunan ke-7, ke-9 dan bahkan banyak yang tidak jelas asal-usulnya, mereka mungkin berbeda dari warna kulit atau matanya yang relatif lebih sipit, tapi mereka sudah mendarah daging di tanah bogor, dan di Bumi Indonesia lagi. Mereka berharap sudah tidak ada lagi perbedaan antara sukunya dengan suku setempat, masing-masing menjadi satu dengan nama Bangsa Indonesia.

Sekian..
Terima Kasih.
Herry Kurniawan

Related posts