Warga Dusun Kaleran, Desa Yehembang, Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, mengeluhkan distribusi air dari jaringan pipa Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) setempat yang hanya mengalir satu kali dalam sebulan.
Sejumlah warga pelanggan PDAM Jembrana, Kamis (23/2), mengatakan pasokan air yang mengalir sebulan sekali itupun hanya berlangsung dalam waktu sekitar dua jam. Sementara itu, PDAM terus menarik pembayaran dari pelanggan berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000, termasuk biaya abodemen.
Ni Luh Mertini, salah seorang warga Dusun Kaleran mengatakan, dirinya berlang-ganan PDAM dengan harapan bisa meringankan pengeluaran biaya pembelian air untuk keperluan masak, mencuci, dan mandi. Ia mengaku untuk membeli air dari luar sebanyak satu kubik, selama ini dirinya harus mengeluarkan biaya Rp70 ribu.”Langganan PDAM maunya biar lebih irit, tapi justru malah sia-sia karena airnya jarang mengalir,” keluhnya.
Hal serupa juga dikatakan Luh Gede Rentiati yang harus membayar orang untuk mengambil air dari sungai yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, karena ir PDAM tidak mengalir. Mereka mengaku sudah menyampaikan keluhan bahkan protes kepada petugas PDAM, namun tidak ada tanggapan.
Direktur PDAM Jembrana I Nengah Sugiartha saat dimintai konfirmasi mengakui pelayanan distribusi air di wilayah tersebut memang belum maksimal. Terkait dengan aliran air yang sering mati, Sugiartha mengata-kan akibat ukuran pipa distri-busi di area itu hanya dua dim, sementara idealnya harus empat dim. >> Nyoman AP

