Permasalahan BBM Tak Kunjung Usai

Prabumulih (MR)
Bagi pemilik kendaraan sepeda motor maupun kendara-an mobil sepertinya masih harus bersabar antri saat membeli bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Kota Prabu-mulih. Pasalnya antrian panjang terjadi bukan karena kelangkaan premium seperti yang diberita-kan oleh sejumlah media sebe-lumnya, namun disebabkan oleh pembeli premium “nakal”.
Pembeli premium nakal ini sengaja antri di sejumlah SPBU dan keberadaannya sulit terdeteksi karena menggunakan kendaraan sepeda motor bah-kan mobil. Disamping itu pem-batasan pembelian premium hanya sampai Rp 100 ribu setiap kendaraan yang diterapkan pengelola SPBU semakin memudahkan kelompok ini beraksi.
”Kita tidak tahu itu, dan me-mang tidak pernah memperha-tikannya. Pas gilirannya ya kita isi dan dibatasi hanya sampai Rp 100 ribu setiap kendaraan,” elak salah seorang pengelola SPBU yang berada dikawasan Jalan Jenderal Sudirman, dite-mui belum lama ini.
Terkait beredarnya isu kendaraan mobil jenis angkutan kota (angkot) banyak beralih menjadi penyuplai ke sejumlah pengecer, menurut ia belum ditemukan. “Namun itu kita tidak tahu pasti, karena pembeli selalu antri sehingga terkadang sulit memperhatikan setiap kenda-raan yang beli BBM disini,” jelasnya.
Sementara dari pantauan Koran ini di sejumlah SPBU yang ada di Kota Prabumulih, antrian panjang terjadi hampir setiap hari. Meski kondisinya tidak seheboh waktu pertama kali terjadi, namun tetap mem-buat masyarakat pengguna BBM resah. Selain takut tidak kebagian jatah, harga yang dipatok sejumlah pengecer pasca langkahnya penjualan premium pun tetap tinggi yakni mencapai Rp 6 ribu – Rp 7 ribu perliter. Bahkan disejumlah daerah pinggiran kota dan desa harganya terus melambung hingga Rp 7.500 – Rp 12 ribu perliternya.
“Kito terpakso dek jual semak itu, nak beli langsung ke SPBU la dak boleh lagi make jerigen. Tapi kalu ditempat lain jual Rp 7 ribuan lebih perliter, kito cuma Rp 6 ribu be,” ungkap Arca, salah satu pengecer yang ada di Jalan Prumnas Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur, Kamis (21/7) pagi.
Ia pun mengaku terpaksa membeli premium mengguna-kan kendaraan motor besar miliknya, pasca dilarangnya membeli premium mengguna-kan jerigen oleh sejumlah pengelola SPBU. Terkadang dalam satu hari diakuinya paling sedikit empat (4) kali ia bolak – balik ke SPBU. “Tapi itu idak satu tempat SPBU kito beli, yo biar dak curiga be dan biasonya antri tula kareno bukan kito be yang beli model mak itu,” lanjut bapak tiga anak ini.
Hal senada juga disebutkan oleh Rani (34), pengecer yang berlokasi di Jalan Kartini Kelurahan Sukajadi. Namun bedanya, jika Arca membeli premium ke sejumlah SPBU dengan menggunakan kendara-an motor miliknya, ibu muda ini membeli premium dengan cara berlangganan ke salah satu sopir angkutan kota (angkot, red) yang beroperasi di wilayah Kota Prabumulih. “Untuk pem-belian premium tidak  lagi di SPBU, kita langganan dengan salah satu sopir angkot,” cetus Rani.
Satu liter premium diakuinya ia beli dengan harga Rp 6 ribu perliter. Disamping dianggap lebih mudah karena tidak perlu ikutan antri untuk mendapatkan premium di SPBU, cara itu juga dinilainya lebih efektif dan tidak beresiko meski harga yang ditawarkan sopir angkot cukup tinggi. “Dak apo – apolah kito beli Rp 6 ribu perliter, dari pada lamo melok antri dak tahan aku,” ungkap Rani.
Tingkat penjualan pun dia-kuinya tidak mengalami penu-runan (stagnan, red), meski harga yang ia tawarkan cukup tinggi. “Penjualan masih relatif stabil mas, bahkan naek lagi ado. Ini kareno banyak pemilik kendaraan sepeda motor bera-lih membeli premium ke penge-cer, mereka banyak dak tahan melok antri di SPBU,” tukasnya. (alex)

Related posts