Subang, (MR)
Bantuan Siswa Miskin Program Indonesia Pintar (BSM/PIP) adalah program Pro-Rakyat Pemerintah Pusat guna membantu mencukupi kebutuhan personal siswa kurang mampu, dalam penyalurannya mengikuti juknis yang telah ditetapkan pemerintah. Namun, hingga saat ini masih ada saja sekolah yang masih buta akan juknis BSM/PIP, nyatanya masih ada sekolah yang dengan sengaja memakai uang tersebut untuk kepentingan sendiri atau kepentingan diluar juknis.
SDN Rancabogo Desa Tambaksari Kec. Jalancagak Kab. Subang misalnya, Sekolah yang memiliki jumlah siswa 140-an ini diduga menggelapkan dana BSM / PIP, pasalnya, menurut penuturan sumber Media rakyat bahwa para orang tua siswa penerima BSM/PIP sampai saat ini belum menerima dana bantuan tersebut, padahal, menurut keterangan Bank BRI Unit Jalan Cagak dana bantuan tersebut sudah dicairkan pada tanggal 11 Januari 2017 silam sebanyak 32 siswa dari total 47 siswa penerima BSM/PIP.
Namun demikian, Heni H ,S.Pd selaku Kepala SDN Rancabogo ketika dikonfirmasi MR (13/3) lalu, nampak berkelit, ia berkilah bahwa dana BSM/PIP telah disalurkan kepada 32 siswa dari total 37 siswa penerima, dengan tekhnis 70%-30%, yaitu 70% berupa fisik seperti Tas , Sepatu, seragam dan lain-lain, dan 30% berbentuk uang saku.
“Saya tidak tahu juknisnya seperti apa, yang jelas menurut sosialisasi dari Dinas seperti itu, 70%-30%. Memang masih ada 5 siswa yang belum disalurkan karena dananya juga masih di BRI, tapi katanya sudah dapat diambil sekarang” kilahnya
Anehnya, Heni nampak kaget saat diinformasikan terkait keterangan dari Bank BRI unit Jalancagak bahawa total penerima BSM PIP SDN Rancabogo adalah sebanyak 47 Siswa, yang sudah direalisasikan sebanyak 32 siaswa, jadi sisanya tinggal 15 siswa lagi yang saat ini sudah bisa diambil. Mendengar penuturan tersebut, Heni justru menuding hal itu akal-akalan BRI, pasalnya yang ia ketahui total penerima BSM PIP sebanyak 37 siswa bukan 47 siswa. “kalau begitu saya akan komplein ke BRI, karena saya hanya dikasih tahu sisanya sebanyak 5 siswa bukan 15 siswa” ujarnya.
Wawancara MR sempat tersendat karena aksi heroik inisial AS yang juga menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu SD yang ada di UPTD Pendidikan Patokbeusi, mengaku sebagai suaminya saat ditanyai kapasitasnya dalam management SDN Rancabogo ini. Menurut informasi, AS sering berada di SDN Rancabogo padahal ia sebagai kepala sekolah yang letak geografis sekolahnya lumayan jauh dari SDN Rancabogo.
“Saya suaminya….!!! Saya mendampingi istri saya…!!!” pekik AS berulang kali dengan nada tinggi sambil berdiri mondar mandir.
Selain dari AS, Heni juga didampingi oleh Ketua Komite dan PGRI Kec. Jalancagak. Usai wawancara, melalui phonecell-nya, Karyana selaku Ketua Komite SDN Rancabogo nampak berat untuk mengungkapkan keadaan management sekolah tersebut, ia nampak bingung untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, kuat dugaan komite pun tidak tahu kapan dana BSM PIP dibagikan kepada penerima. “nanti saya kerumah Akang (Abang-red), sebetulnya tadi saya bingung, nanti saya ceritakan lewat darat” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Subang, Drs. H. Suwarna Murdias ,M.Pd saat ditemui usai acara pembukaan Liga Pendidikan Indonesia (LPI) VII di stadion persikas Kab. Subang (15/3), pihaknya akan memanggil kepala sekolah yang bersangkutan berikut kepala sekolah yang mengaku sebagai suaminya yang berada di sekolah tersebut pada jam dinas. >>Asep
