Sampan yang merupakan alat tradisional terutama bagi suku melayu kepulauan riau sudah dari zaman nenek moyang terdahulu, hal seperti inilah yang tidak pernah di lupakan bagi anak-anak cucunya hingga saat sekarang yang masih di pergunakan hampir sebagian masyarakat Kabupaten Lingga.
Pantauan Suluh kepri di lapangan tepatnya di Desa Luala raya Kecamatan singkep Barat, seorang masyarakat berhasil di temui yakni Amat (54) yang masih dalam keadaan membongkar muatan berisi Batu kalau ia menghidupkan keluarganya bergantung pada sebuah sampan meskipun keadaan sudah tidak seratus persen lagi bagus, tetapi dapatlah mencari makan, kalau tidak ada kerja mengambil batu saya pergi ke laut membentang jaring ikan dan tak lama lagi sudah tak dapat lagi pergi ke laut karena pada akhir bulan dan penghujung tahun angin sudah mulai kuat. ungkapnya.
Amat juga menambahkan dalam satu hari ia dapat mengambil tiga kali saja dalam satu hari karena jarak antara lokasi dengan tempat mengambil batu sekitar empat puluh lima menit perjalanan, namun semua itu saya jalani dengan sabar, memang kalau dipikir tidak meyakinkan tampak Sampan yang hamper tenggelam dengan penuhnya muatan batu tetap beginilah nasib sebagai nelayan tanpa mencari penghasilan tambahan kebutuhan rumah tangga sangat susah sekali di penuhi, dan batu tersebut untuk kebutuhan rumah warga dalam satu sampan hanya dapat muatan setengah kibik, sedangkan satu kibik upahnya Rp,120.000. saya juga berharap kepada pemerintah daerah dan pemerintah desa agar dapat mendata para nelayan yang sampan sudah tidak layak lagi di pakai untuk meminta bantuan. >> HS

