Rojali Sang Pengawas Akan Dilaporkan Ke Disdik Provinsi Jawa Barat

Bekasi, (MR)
Sikap kasar dari seorang pengawas dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Rojali terhadap wartawan Sinar Pagi baru yang nyaris tanpa etika bahasa nampaknya terus berlanjut. Dan tidak ada itikad baik Rojali untuk minta maaf dan terkesan malah menghindar.
Sebelumnya diberitakan, Rojali yang pada saat itu sedang bertugas di sekolah SMAN 1 Kedungwaringin sebagai pengawas, telah melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada wartawan Sinar Pagi Baru yang sedang berkunjung.
Hal itu terjadi pada tanggal 31 Juli 2018 saat wartawan Sinar Pagi baru berkunjung ke sekolah SMAN 1 Kedungwaringin Kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi, niat ingin menemui Kepsek Ahkmad Sayuti untuk konfirmasi terkait jumlah siswa baru yang masuk ke SMAN 1 Kedungwaringin.
Tiba-tiba keluarlah seorang pengawas yang dikatakan oleh Humas. Anehnya, dengan sikap arogan membentak wartawan, “mau apa kesini?” sambil jalan keluar.
Saat ditanya tupoksi idealnya pengawas dan dalam rangka apa pengawas berkunjung ke sekolah SMAN 1 Kedungwaringin, dengan sikap ketus dan sombongnya Ia menjawab. “Saya pengawas dari Provinsi, anda seorang wartawan masa tidak tahu, coba dong anda lihat di Permen Tupoksi Pengawas, bagaimana anda kan wartawan, ko nanya, ini kalau saya jelaskan bisa sampai tiga hari tidak akan habis, bagaimana sih, kan anda wartawan,” ketusnya.
Lalu dengan lantangnya pengawas dari Provinsi Jawa Barat tersebut malah menuding bahwa wartawan itu pengganggu. “Banyaknya wartawan yang ada di sini datang ke sekolah sangat menggangu kinerja kegiatan belajar mengajar guru-guru yang ada di sini di sekolah, coba aja tanya Wakaseknya tuh,” cetusnya sambil masuk ke mobilnya.
Argumentasi terus berlanjut dan wartawan Sinar Pagi baru mengatakan, “rekaman saya hidup nih, ko anda malah menuding ‘wartawan adalah pengganggu,” katanya.
Ahkmad Sayuti selaku Kepsek SMAN I Kedungwaringin saat di konfirmasi mengatakan, bahwa Ia hanya bisa memfasilitasi agar bisa bertemu dengan Rojali sebagai pengawas untuk menyelesaikan ini. “Tunggu sampai hari Kamis, nanti akan saya hubungin melalui Humas sekolah agar bisa di selesaikan,” janji Sayuti.
Menurut Ahkmad Sayuti, dirinya sudah komunikasi dengan Rojali agar bisa di selesaikan. “Dengan adanya kejadian ini saya banyak di kunjungi tamu wartawan untuk mewawancarai atau konfirmasi terkait kejadian ini,” ujarnya saat ditemui di sekolah 07/08/2018. Namun tidak ada itikad baik sampai dengan saat ini belum juga ada solusi dan permintaan maaf Rojali kepada Wartawan.
Sementara itu, Koordinator pengawas H. Dadang saat di konfirmasi melalui telpon selulernya terkait ucapan kasar Rojali terhadap wartawan sinar pagi baru mengatakan, menurutnya masalah ini kalau mau dibesarkan bisa besar, kalau mau dianggap kecil bisa kecil. “Kalau masalah ini mah kecil lah, masih banyak yang lebih urgent, masih banyak yang perlu perhatian dari kita sesama pengelola pendidikan, sesama sosial control,” jawabnya dengan enteng.
Saat ditanya setatus pengawas, H. Dadang mengatakan, “Saya selaku koordinator pengawas, Pak Rojali selaku Sekretaris pengawas, seraya mengatakan kalau Korwas itu tidak punya kantor,” jelasnya.
Menurut H. Dadang, pengawas Pembina di Kabupaten Bekasi itu semuanya ada delapan orang, dan hanya ngawas di Kabupaten Bekasi saja. “Kita pengawas di Kabupaten Bekasi saja, kalau Kota Bekasi beda lagi. Setelah adanya pemberitaan itu, saya langsung rapat dan saya pertanyakan terkait persoalan dengan wartawan. Pak Rojali saat rapat bilang tidak ada masalah apa-apa,” kilahnya. Pembicaraan terakhir wartawan akan melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Sontak H. Dadang melarangnya. “Jangan lah, jangan ke Bandung cape, masih banyak masalah yang lebih urgent dari ini yang harus di urus. Jangan ke Bandung kang cape, hambur-hambur ongkos, tenaga dan energi, nanti lah saya sampaikan ke pak Rojali,” pungkas Dadang.
Ketika wartawan Media Rakyat menanyakan permasalahan tersebut ke wartawan Sinar Pagi, “emang bener bang waktu itu saya ingin di ketemukan oleh kepala sekolah SMAN1 Kedungwaringin pada hari kamis sama Rojali pengawas Disdik Provinsi Jawa Barat ternyata tidak datang, padahal niat Kepsek supaya permasalahan ini cepat selesai karena rekan-rekan wartawan pada datang terus ke sekolah menanyakan tentang sikap arogan terhadap wartawan,” ungkapnya. >>Bemo

Related posts