Ribuan Hektar Hutan Kritis, Banjir Kerap Melanda Kabupaten Malang

Kabupaten Malang, (MR) – Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Suma-we) yang kerap menjadi langgangan banjir, mendapat tanggapan serius dari Bupati Malang Dr H Rendra Kresna saat ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Malang rabu (18/10).

Menurut Rendra selain topografi wilayah Desa Sitiarjo, Sumawe yang berupa cerukan atau mangkuk di antara wilayah pegunungan dan bukit di sekitarnya, seperti Dampit, Wajak dan Tirtoyudo. Juga dipengaruhi rusaknya hutan-hutan di sekeliling wilayah Sitiarjo. “Saat hutan rusak, hujan deras, airnya masuk semua ke Sitiarjo yang wilayahnya di bawah laut. Di tambah laut pasang. Air tidak bisa mengalir,” kata Rendra.

Kerusakan hutan di Kabupaten Malang sangat memprihatinkan. Bahkan menurut Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur (Jatim) ini sudah dalam kondisi darurat. “Puluhan ribu hutan kita rusak oleh penebangan liar dan pola bercocok tanam masyarakat. Ini yang menjadi penyebab wilayah kita kerap kena banjir dan longsor,” ujarnya.

Rendra dengan tegas juga mengatakan kondisi tersebut perlu untuk disampaikan apa adanya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi apalagi data kerusakan hutan di Kabupaten Malang, misalnya dikecilkan. “Buka saja apa adanya. Agar kita semua bisa duduk bersama mencari solusi dalam menangani masalah tersebut,”ujar Rendra yang juga menjawab pertanyaan media bahwa kondisi banjir di Sitiarjo memang tidak bisa dihindari dengan kondisi alam dan kerusakan hutan di sekelilingnya seperti itu.

Penghijauan menjadi langkah wajib bagi seluruh pemangku kepentingan dalam meminimalisir bencana banjir dan longsor yang kerap terjadi. Penumbuhan kesadaran dalam masyarakat juga wajib terus dilakukan, terutama dalam kebiasaan bercocok tanam. Dari tanaman yang tidak bisa mengikat air hujan dan membuat tanah gembur, seperti sayuran, pisang dan lainnya. Kembali bercocok tanaman keras di berbagai bukit dan hutan, semisal kopi dan kakao. “Langkah ini perlu untuk terus digalakan dan terus diupayakan cara kerjasamanya dengan masyarakat,”ucap Rendra.

Bupati 2 periode ini juga melontarkan solusi terhadap peran Perhutani selama ini. Dia mengatakan alangkah bijaknya dalam 30 tahun ke depan untuk  meminimalisir bencana banjir dan longsor serta rusaknya hutan puluhan ribu hektar, Perhutani jangan diberi tugas menebang pohon. “Jadi perhutani fokus saja selama 30 tahun ke depan menanam pohon. Jangan penebangan. Hitungannya pendapatan nebang pohon dengan biaya perawatannya tidak sebanding,” pungkas Rendra. >>GIZ

Related posts