Sedikitnya 10.000 hektare areal pertanian di Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam gagal tanam akibat curah hujan di bawah normal yang membuat krisis air.
Padahal petani di daerah itu seharusnya telah memasuki musim tanam sejak awal Januari. “Sekarang malah tidak ada hujan. Tanah di sawah kering dan retak-retak sehingga kami tidak bisa mengolah sawah,” kata Yesaya Tomasui, petani di Desa Sumlili.
Menurutnya, sejumlah petani nekad mengolah sawah menggunakan sisa air hujan Januari, namun itu diperkirakan tidak akan menolong tanaman. “Kami khawatir tanaman gagal tumbuh karena persediaan air sangat sedikit,” ujarnya.
Ia mengatakan lebih dari 3.000 petani di desa tersebut menggantungkan hidup dari sawah dan ladang. Jika warga tidak bisa mengolah sawah karena curah hujan kurang, masyarakat di desa itu berpeluang dilanda bencana kelaparan tahun ini. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk mengatasi krisis air yang kini melanda lahan pertanian warga,” kata Yesaya.
Krisis air juga melanda ribuan hektare tanaman jagung dan kacang tanah di Desa Kuaneun, Kecamatan Kupang Barat. Sebagian besar tanaman jagung dan kacang tanah yang berumur dua bulan mulai mengering. Petani mulai mengeluh karena jika hujan tidak turun dalam pekan ini, mereka mengalami gagal panen.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, NTT, memprediksi awal musim kemarau pada 2012 di daerah itu terjadi pada pekan kedua Maret.
Kepala Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang Purwanto mengatakan tanda-tanda peralihan musim hujan ke kemarau mulai muncul sejak awal Februari. “Saat ini angin mulai bertiup dari arah timur yang menandakan musim pancaroba,” katanya di Kupang, Rabu. >> Klaudius Edy B

